Bangbang Wetan 18 April 2021

Kurasi Kelengkapan Informasi untuk Membangun Kesadaran Komunal

Dok. Bangbang Wetan.

“Maiyah Mentosa” merupakan tema Majelis Bangbang Wetan (18/4) pada bulan Ramadhan kali ini. Berdasarkan prolog, tema tersebut salah satunyan bertolak dari sebuah buku yang disusun oleh dr . Ade Hashman, Sp An. bertajuk “Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib”, kita bisa berharap ada semacam “genre” baru dalam ilmu pengobatan. Lebih jauh, genre ini tidak sekadar menjadi pilihan dalam langkah penyembuhan tetapi lebih sebagai kiat sehat yang terintegrasi dengan istilah yang secara guyon parikena disebut Mbah Nun sebagai Mensana Mensini.

Bertempat di MI Tarbiyatus Syarifah, Pekarungan, Sukodono, Sidoarjo, teman-teman penggiat bertolak dari Surabaya selepas Dhuhur untuk mempersiapkan hal teknis penyelenggaraan acara. H. Rohman, Eka Putra, Agus, Toni, Manajer Veryanto, dan Qobus dari Surabaya membawa perlengkapan mixer sound, box berisi kabel, kain hitam dan backdrop Bangbang Wetan.

Sesampai di lokasi teman-teman yang tampak sedang berpuasa itu segera beraktivitas sesuai keahlian dan kesediannya masing-masing. Ada yang segera mengambil sapu dan alat pel untuk membersihkan lantai ruang kelas dari debu dan kotoran karena lama tidak dipakai. Ada yang mengambil karpet untuk alas moderator acara. Ada yang mengambil tangga lipat untuk memasang backdrop bertuliskan Bangbang Wetan dan kain hitam sebagai latar belakangnya. Dan ada yang memasang sound, menata kabel, mixer sound, dan meja operator. Operator bertugas untuk meliput dan menyambungkan moderator di ruangan itu kepada para jamaah dan narasumber yang telah bergabung melalui Zoom Meetings.

Setelah semua persiapan telah dipersiapkan — sambil menunggu adzan Maghrib untuk berbuka puasa, teman-teman penggiat menggunakan jeda waktu itu untuk istirahat. Ada yang tidur-tiduran di ruang kelas, ada yang mengisi waktu dengan bercengkrama sambil melihat pematang sawah. Dan ada juga yang mengambil keperluan takjilan berbuka puasa, karena sudah dihubungi dan disiapkan teh hangat dan es degan masing-masing satu morong oleh Cak Toha, pemilik warkop Mbah Kung.

Selain itu amunisi takjilan dari Mas Hari yang membawa es buah, gorengan, dan dua bungkus rokok. Mas Alik sebagai tuan rumah acara juga sudah mempersiapkan Soto Ayam di rumahnya untuk berbuka puasa.

Tak salah jika H. Rohman sebagai “ruh”-nya penggiat muda, mengatakan bahwa rutinan maiyahan itu merupakan riyoyone jamaah dan penggiat. Sebab menurutnya, sebulan ngempet dari melakukan sesuatu yang kita senangi, ketika rutinan berlangsung semua “tirakat” selama sebulan “dibayar” oleh Allah dengan berbagai keberkahan: dari kegembiraan karena bisa berkumpul dan bersama, ketentraman batin sehabis bersholawat, sampai keberlimpahan makanan, minuman dan rokok yang ada di setiap rutinan.

Tadi malam kita telah dibersamai oleh dr. Christiaji Malang, Mas Sabrang MDP, dan Pak Suko Widodo, untuk mendalami sinau tentang kesehatan dan Maiyah sebagai alternatif jalan dan “obat” bagi Jamaah Maiyah untuk menjalani dinamika kehidupan. Turut bergabung juga Mas Antok, Terapis asal Malang yang banyak berbagi pengalamannya seputar kesehatan.

Sinau Kesehatan pada Gerakan Wudhu dan Shalat

Mas Hari membuka majelis dengan menyapa dan bertanya kabar dulur-dulur Malang kepada Mas Antok. Mas Antok menyampaikan kabar baik dulur-dulur Malang selama pandemi, cuma ada salah satu jamaah yang sakit lumayan berat. Setelah didatangi oleh Mas Antok dan Cak Dil, sekarang sudah ada respon dan berkembang membaik. Mas Antok menambahkan cerita tentang keadaan pandemi ini bahwa sebenarnya kita diperintah harus kuat oleh Allah. Salah satu cara supaya kita kuat adalah melakukan gerakan wudhu dan shalat.

Sebab gerakan wudhu dan shalat itu adalah rangkaian gerakan yang bagus untuk kesehatan dan bagi penderita penyakit proses penyembuhannya lebih cepat. Pada gerakan wudhu terutama ketika membasuh dahi, kulit kepala dan telinga, dianjurkan benar-benar tangan kita menggesek area itu, tidak hanya sekedar nempel saja.

Karena ternyata gerakan gesekan tangan pada area dahi, kulit kepala dan telinga, itu ada proses mengalirkan cairan otak yang fungsinya sebagai pelumas syaraf kita. Maka dari itu setelah wudhu kita merasa seger dan enak. Karena terjadi proses pengaliran cairan otak yang melumasi syaraf kita sehingga terasa segar dan enak.

Dok. Bangbang Wetan.

Setelah itu pada gerakan shalat itu ada pola pengaturan nafas dan pola pembetulan tulang belakang secara otomatis, kalau gerakan shalat kita benar.

“ayo kita masing-masing memperbaiki gerakan wudhu dan shalat kita. Sebab ternyata dari dua itu sudah cukup untuk terapi bagi kesehatan kita sendiri”, anjuran Mas Antok.

Dari penjabaran tersebut, Mas Hari menarik kesimpulan, jangan-jangan kita selama ini mudah stres itu disebabkan karena kita jarang wudhu atau belum benar gerakan wudhu kita.

Pengaruh Perilaku Manusia

Pemaparan bergulir ke dr. Christiaji. Beliau memulai pembahasan tentang perkembangan manusia yang terdiri dari mind(pikiran), attitude(sikap), dan behavior(perilaku). Yang paling menjadi tolak ukur manusia adalah perilaku. Misalnya jika seseorang yang tidak bisa berperilaku sebagaimana semestinya maka disebut sakit. Sakit ini sendiripun menurutnya dr. Chris tidak berdiri sendiri, ada banyak komponen yang mempengaruhi.

Dalam kasus Covid-19 komponen yang mempengaruhi adalah virus, manusia dan lingkungan. Ketika kita bicara lingkungan adalah dimensi ruang dan waktu. Maka apakah ketika seseorang terkena virus serta-merta sakit, jawabannya tidak. Sakit bisa ditimbulkan saat virus yang kuat dengan manusia yang kondisinya lemah, bertemu pada waktu dan tempat yang bersamaan. Itu baru kemudian terjadi sakit.

Virus sekuat apapun jika bertemu manusia yang kuat, ya tidak terjadi sakit. Juga ketika kondisi kita lemah tidak bertemu virus, atau ada virus, tubuh kita sedang lemah tetapi tidak bertemu pada waktu dan tempat yang sama, maka tidak akan terjadi sakit.

Pandemi ini menurut dr. Chris adalah sebuah krisis. Krisis adalah satu titik sesaat sebelum menuju bencana. kalau dalam psikologi, pandemi ini berada pada kondisi stres.

Di Maiyah kita selalu belajar bahwa di setiap komunitas atau populasi terdiri dari berbagai golongan. Karena manusia diciptakan berbeda-beda kapasitasnya, maka ketika kita dihadapkan pandemi setiap orang akan tergolong sesuai kapasitasnya.

Dr. Chris berpendapat bahwa pandemi ini tidak menghancur. Pandemi ini justru memunculkan perbedaan golongan yang berbuat kerusakan dan golongan yang berbuat kebaikan. Ketika kita ingin tahu orang itu baik beneran atau tidak, kita melihatnya bukan pada kondisi tertekan, melainkan ketika orang itu diberi fasilitas.

Problem Percepatan Informasi dan Naluri Otak Manusia

Satu hal yang membuat kasus pandemi bertahan lebih lama karena menurut Mas Acang, belum tercapainya equilibrium pemahaman pada banyak orang tentang apa dan bagaimana pandemi karena tidak ada pemahaman yang sama. Adanya ketidaksepahaman ini kontradiktif terhadap percepatan informasi yang ada. Karena menurut Mas Acang mengenai pemahaman ini kaitannya dengan informasi yang sampai ke masyarakat secara umum.

Salah satu karunia besar yang dicapai oleh manusia modern dalam kaitannya dengan pandemi adalah percepatan informasi. Ini sebuah blasting, menurut Mas Acang, karena percepatan informasi ini tidak mungkin dicapai 10-15 tahun yang lalu. Tapi ternyata di balik itu percepatan informasi kok rasanya ada pedang bermata dua.

Percepatan informasi itu ternyata malah membuat polarisasi, disinformasi dan miskomunikasi tentang penangan Covid-19 di masyarakat. Entah dari informasinya, banyaknya berita atau artikel yang kontraproduktif dengan usaha itu, atau pola komunikasi yang disampaikan otoritas, atau pola komunikasi dan informasi penanganannya terhadap komunitas yang dituju.

Mas Sabrang merespons hipotesis Mas Acang tentang flow information. Informasi cepat kok malah bundet, padahal seharusnya berpotensi memecahkan masalah. Menurut Mas Sabrang itu sifat dari semua hal, semua hal itu pasti ada potensi positifnya dan ada potensi negatifnya. Kita kehilangan komponen-komponen yang perlu kita perhatikan dalam menghadapi dunia baru.

Cepat itu tidak selalu bagus, kadang-kadang kita perlu lama juga. Biasanya kalau kita memutuskan waktu secara cepat, keputusan itu bukan dari keputusan logic melainkan naluriah. Dan naluri otak manusia pengin sesuatu itu lengkap, informasi lengkap. Kita terhadap informasi yang sepotong-potong itu gak tahan, kita dengan ketidaktahuan itu gak tahan. Jadi penginnya informasi lengkap dan cepat memahami.

Dok. Bangbang Wetan.

Kadang-kadang respons otak kita kalau informasinya tidak lengkap untuk melengkapi, otak ngarang sendiri. Mengarang sebagai tambahan informasi itu membuat kita merasa memiliki informasi lengkap dan kita merasa memahami informasi tersebut. Menurut Mas Sabrang, ini yang berbahaya dari komunikasi.

Komunikasi itu ‘kan bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu. Misalnya rawon paling enak di Surabaya itu Rawon Setan. Komunikan menyampaikan bahwa rawon itu joss. Dengan informasi itu orang rela datang ke Surabaya mencari rawon itu, sebenarnya apa yang diharapkan oleh orang itu? kalimat joss itu apakah mengatakan murahnya, pedasnya, enak masakannya atau ramahnya yang menjual? Itu semua bisa diwakili dengan kata joss. Komunikan yang mengatakan joss belum tentu sama maksdunya dengan orang yang mendengarkan kata joss. Hal itu menurut Mas Sabrang merupakan sifat ketidakpastian dari bahasa.

Jadi ketika kita menangkap sebuah informasi sebenarnya kita juga grambyang, mencari detilnya di kepala kita sendiri. Manusia kecenderungannya tidak punya kesabaran untuk membuat informasi yang lengkap itu berdasarkan informasi yang sebenarnya, bukan dari prasangka-prasangka.

Kurasi Informasi di Tengah Percepatan Informasi

Agama Islam mengajak kita berpikir, memperlambat sedikit respons terhadap informasi. Karena ketika kita tidak langsung mengambil keputusan dan tidak menganggap informasi itu lengkap, yang terjadi adalah kita mencoba mengkurasi informasi tersebut. Ada waktu untuk menimbang-nimbang. Yang hilang dari dunia internet yang serba cepat ini, menurut Mas Sabrang adalah naluri untuk mengkurasi informasi.

Dengan kecepatan informasi ini, isu tentang Covid-19 menjalar lebih cepat daripada fakta tentang Covid-19. Karena kalau berbicara fakta tentang Covid-19, butuh proses kurasi sehingga tidak menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak bisa diantisipasi. Tapi pada orang yang tidak terbiasa dengan kurasi itu akan cepat melempar informasi yang didapat. Hal itu menunjukkan bahwa kita tidak disiplin dengan informasi. Informasi mana yang kita karang di otak sendiri, informasi mana yang kita dengar dari komunal, dan informasi mana yang kita dengar dari penelitian.

“Kita tidak terlatih untuk menimbang informasi. Itu yang membuat kecepatan menjalarnya informasi berbalik menjadi masalah. Karena manusianya sendiri belum cukup dewasa untuk menyikapi informasi itu sendiri.”, tandas Mas Sabrang.

Ketika informasi itu lambat, tanggung jawab kurasi dilakukan oleh para penyebar informasi. Ketika sekolah belum lewat internet, buku-buku yang disebar di sekolah melalui kurasi para ahli. Sehingga informasi yang tersebar di masyarakat menjadi lebih valid.

Ketika tidak ada orang-orang yang mengkurasi, yang terjadi apapun informasi dilempar dan masing-masing manusia yang punya tanggung jawab mengkurasi informasinya sendiri. Sementara dirinya sendiri tidak punya disiplin untuk mengkurasi informasi tersebut. Serta belum ada sistem yang bisa mengkurasi secara komunal.

Efeknya karena data tidak bisa dilihat mana yang valid dan mana yang tidak, keputusan yang dihasilkan berdasarkan preferen(suka, tidak suka).

Kenapa kebanyakan manusia tidak mau mengkurasi? karena mengkurasi itu tidak enak, lebih enak itu nge-judge. Kurasi lebih berat walaupun lebih akurat dan lebih fair. Kebanyakan dari kita sifatnya belum manusia, karena semua hewan mencari jalan yang gampang. Hanya manusia yang mampu mencari jalan yang tidak gampang demi masa depan yang baik.

Kalau ternyata lebih banyak manusia yang tidak mengkurasi, itu menunjukkan fakta bahwa manusia secara umum kita tingkatkan agar lebih manusia lagi. Sebab ternyata sifat kita lebih mendekati makhluk otomatis daripada makhluk berpikir.

“Efek samping dari kecepatan informasi adalah hilangnya kepakaran sehingga kita tidak bisa mengkurasi informasi”, jelas Mas Sabrang.

Membangun Kesadaran Komunal

Mas Sabrang mengajak semakin dalam dengan menjelaskan tentang cara membangun kesadaran komunal. Ketika komunal kita semakin tahu sehingga menjadi pengetahuan umum, tahu fungsinya dan tidak lagi butuh ancaman, masing-masing dari kita akan melakukannya berdasar kesadaran sendiri.

Dok. Bangbang Wetan.

Menurut Mas Sabrang, untuk membangun pengetahuan umum secara basic yang semakin cepat di masyarakat, yang harus dilakukan adalah pendidikan. Tapi jangan membayangkan pendidikan seperti pendidikan formal sekarang ini, sebab Pendidikan formal itu banyak yang tidak relevan terhadap kehidupan sehari-hari. Karena urusan sopan, sikap antri dan yang biasa kita lakukan sehari-hari justru tidak diajarkan di sekolah. Sebab pendidikan formal tidak dibangun dengan tujuan kestabilan society, melainkan untuk pekerjaan dan produktivitas.

Tugas sebuah generasi adalah bagaimana saling mendidik satu sama lain secara akurat pada pengetahuan umum.

Menurut sains, pendidikan yang paling efektif untuk menaikkan kesadaran komunal adalah konsep pendidikan dari Ki Hadjar Dewantoro. Semua orang guru, semua orang murid dan semua tempat adalah sekolah. Bagaimana kita punya naluri belajar di semua tempat dan menjadi rumah pemahaman.

Kita harus menggunakan ruang publik pada kecepatan informasi ini sebagai pendidikan masal, saling mendidik satu sama lain. Dan melatih kemampuan kita untuk mendidik supaya mau dididik.

Salah satu usahanya adalah Maiyah. Membuat forum bersama dimana kita bisa Sinau Bareng, yang secara prinsip meningkatkan pengetahuan dan kesadaran komunal. Yang belum dilakukan Maiyah adalah menggunakan wahana high speed transfer informasi untuk Sinau Bareng yang lebih luas.

“semoga kita terus saling belajar!” closing statement dari Mas Sabrang mengakhiri sinau kita tadi malam.

Surabaya, 19 April 2021

Lainnya