Menjelang Senja edisi Minggu 25 April 2021

Kumpul Balung Pisah Tegaskan Makna Keluarga

Keluarga tempat pergi sekaligus kembali. Cak Nun menegaskan keluarga merupakan sumber keselamatan bersama.

Sore ini Menjelang Senja edisi 25 April kedatangan Mbak Novia Kolopaking. Beliau menceritakan dapur di balik film Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah (TETA) yang direncanakan tayang Idul Fitri mendatang, 13 Mei 2021. Menurutnya, dapur penggarapan film ini semula diniati hanya ingin reunian.

Dok. Progress.

Sudah dua dasawarsa para pemain tak bersua. Simpul kekeluargaan telah mengikat kuat antarpemain sejak sinetron Keluarga Cemara. Sinetron ini diadaptasikan dari cerita bersambung besutan Arswendo Atmowiloto.

Mbak Novia sendiri berperan sebagai emak sejak 1995-2000. Para aktor yang dahulu masih kecil kini sudah berkeluarga dalam arti sesungguhnya. Bahkan beberapa telah memiliki momongan.

Ide reuni sebetulnya sudah dibicarakan sejak tahun 2013. Dedi Setiadi, sang sutradara, punya ide mengumpulkan balung pisah. Baru kesampaian 2019 silam. Ia sebetulnya ingin membuat film berjudul sama seperti sinetron dulu. Namun, film bertajuk serupa telah dipatenkan. Alternatifnya, Dedi akhirnya menyodorkan judul TETA.

Walau tak dapat dipisahkan, menurut Mbak Novia, TETA tak memiliki hubungan dengan sinetron Keluarga Cemara. “Tapi para pemain yang dulu itu reuni lagi dalam film TETA. Memang tidak bisa dipisahkan nuansanya karena jiwanya sudah melekat. Apalagi pemainnya sama persis,” ujarnya.

Selain sutradara, penulis lagu Mimpi Paling Nyata juga merupakan pencipta Harta Paling Berharga, yaitu Harry Tjahjono.

Ketika ditanya pembawa acara, Mas Jijit dan Mas Doni, kesan apa yang dirasakan selama reuni kemudian membuat film tersebut Mbak Novia menceritakan kisah unik di belakang layar.

”Ya kan kita dulu bareng-bareng. Saya sendiri lima tahun. Keluarga Cemara sendiri sudah delapan tahun dan yang jadi emak ada tiga dulu pemerannya. Dulu mereka masih kecil-kecil sekarang sudah besar,” kenangnya.

Meski dahulu terpisah jarak usia, sekarang para aktor merasa seperti kerabat sendiri. Di luar film, Mbak Novia memanggil anak-anak itu dengan nama peran. Demikian pula mereka memanggil dirinya Emak.

“Ketika dulu shooting karena masih bocah tiap anak sering bertengkar. Bahkan ngambek. Kalau satu dipangku Abah, bila lainnya tidak, maka bisa cemburu. Pokoknya minta dipangku,” ungkapnya. Saat mereka diingatkan kejadian itu sebagian besar mengingat dan tertawa lepas.

Cak Nun berpendapat TETA bukan menempatkan keluarga sebatas bagian dari latar tempat atau tema, melainkan sungguh-sungguh film berkarakter keluarga. Ia menilai penayangan perdana di hari Idul Fitri sangat tepat. “Jodohnya hari fitri ya memang keluarga. Sebab itu momen semua kumpul kembali. Idul Fitri adalah hari keluarga,” tegasnya.

Lebih jauh, Cak Nun menarik esensi kehidupan ini sebagai perwujudan nilai kekeluargaan. Negara pun merupakan wajah dari keluarga berskala nasional. “Makanya tanah airnya disebut sebagai Ibu Pertiwi, bukan bapak atau om Pertowo,” imbuhnya.

Andaikan negara diteroka dalam lanskap kekeluargaan, bagi Cak Nun, perlu diperdalam kembali siapa anak, ibu, dan bapaknya. “Kita tinggal menentukan. Rakyatnya itu anaknya atau bapaknya. Kalau ada presiden itu anaknya bangsa atau bapaknya bangsa. Itu harus dipertimbangkan.”

Merepons tema reuni, Cak Nun menyebut tauhid. Tauhid bermakna menyatu kembali. Prinsip ini dijelaskan mendalam dalam Islam. Menurutnya, hidup memang sebuah reuni terhadap asal-usul. Kelak dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Dok. Progress.

Ajaran Allah itu utamanya tentang keluarga. Cak Nun berpendapat surah Al-Isra 23 menjelaskan pokok besarnya. Islam sendiri mengatakan “surga berada di bawah telapak kaki ibu” dan semestinya dipahami hubungan antara anak-ibu.

“Kalau menurut almarhumah ibu saya dulu, Bu Halimah, menurut saya kalimat itu untuk ibu. Buat ibu untuk menyelamatkan anaknya. Keluarga itu seluruh langkah dan setiap kata. Jadi, harus dipertimbangkan bahwa ini sumber keselamatan bersama,” pungkasnya.

Lainnya