Jiwa Shadaqah Lucuti Motif Kapitalistik

Mocopat Syafaat Yogyakarta, Rumah Maiyah, 17 November 2021
Foto: Adin (Dok. Progress)

Shadaqah itu hanya memberi tak harap kembali. Bila memberi agar mengharap keuntungan, menggadang berlipat ganda, namanya berdagang. Ini pun masih dapat dicacah lebih lanjut. Keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya atau mendistribusikan manfaat seluas-luasnya.

Ibarat serubuk pasir hitam di hari petang, motif bershadaqah kian tak kasatmata, terlebih berada di relung hati seseorang. Apalagi motif kapitalistik. Keberadaannya menyelinap ke pribadi sampai lembaga resmi pengepul zakat, shadaqah, infak, dan seterusnya.

Kritik atas motif kapitalistik dalam praktik shadaqah banyak dibabar Cak Nun dan Cak Fuad tadi malam. Mocopat Syafaat (17/11) Rabu petang mengambil tema Jiwa Shadaqah yang sepanjang jalannya acara menukik ke banyak hal.

Di antara pokok bahasan dinyatakan kalau hakikat manusia itu sesungguhnya bershadaqah. “Shadaqah ini menjadi pijakan apa pun. Termasuk pijakan kesuksesan dan mendapatkan rahmat dari Allah. Bahkan Allah pun bershadaqah kepada kita. Juga sebaliknya,” terang Cak Nun.

Masalahnya, shadaqah kerap dipahami jamak orang sebatas pemberian matematis. Kalau tak berbentuk nominal rupiah, shadaqah sekadar disederhanakan menjadi agenda politis. Entah motif kapitalistik atau eksistensial, shadaqah sering dipakai seseorang atau sekelompok organisasi kemasyarakatan.

Padahal, shadaqah bisa dipandang sebagai laku hidup sehari-hari. “Jiwa bershadaqah itu juga dalam manajemen diri,” papar Cak Nun lebih lanjut, “seperti menjalani aktivitas sehari-hari yang bahkan untuk memberikan manfaat luas atau monopoli kepentingan sendiri. Nggolek bathine dewe.”

Kaum cendekiawan rawan tergelincir poin terakhir di atas. Pasalnya, menurut Cak Nun, kelompok intelektual acap mendayagunakan kepintarannya untuk meraup keuntungan pribadi. Masyarakat dipakainya sebagai objek kepentingan: politik, ekonomi, maupun sosial. Kecenderungan ini menggambarkan “motif kapitalistik” sebagaimana disinyalir Cak Nun.

Beliau menggeret cakupan makna “kapital” yang bukan hanya urusan ekonomi, melainkan bergeser kepada ranah sosial, politik, bahkan budaya. Motif dari, oleh, dan untuk individu adalah motor penggerak utamanya.

Itulah sebabnya, sepanjang acara tadi malam, Cak Nun mengajak jamaah Maiyah agar berjiwa shadaqah. Tiada lain dan tiada bukan merupakan proses mencari keuntungan bersama. Suatu shadaqah yang jauh dari kesan monopoli perorangan. Cenderung menempatkan komunalitas di atas kepentingan pribadi. Paparan tersebut memperkuat esensi Maiyah sebagai kekuatan kolektif.

Tekad dan komitmen atas kebersamaan itu lebih lanjut dituturkan Cak Fuad manakala membincang tentang Darul Arqam. Nama ini merujuk pada masa pembinaan sekelompok orang, yang dalam sejarah kenabian ditegaskan sebagai permulaan penyebaran Islam. Darul berarti rumah dan Arqam adalah nama seseorang yang lengkapnya Arqam Ibnu Abil Arqam. “Darul Arqam ini menandai dakwah Nabi ketika di awal mendapatkan wahyu masih bersifat sembunyi-sembunyi,” ujar Cak Fuad.

Penyebaran Islam secara bergerliya yang diselenggarakan di Darul Arqam ditempuh penuh siasat serta kewaspadaan. Cak Fuad mendeskripsikan konteks historis di Arab dan beratnya tugas Kanjeng Nabi di awal kenabian. Pertama, kendati nabi menerima wahyu serta disemati khalayak sebagai orang yang dapat dipercaya tak berarti penyebaran Islam terbebas aral rintangan. Kedua, modal kenabian dan perolehan gelar Al-Amin menumbuk pada tradisi setempat yang relatif kokoh. Terlebih orang tenar seperti Abu Jahal atau Amr bin Hisyām masih dominan berpengaruh.

Latar sosiologis serta historis ini kemudian dibentangkan Cak Fuad lebih lanjut. “Nabi selama tiga tahun belum diperintah Allah untuk berdakwah secara terang-terangan. Maka awal-awal di lingkaran dekat dulu. Seperti paling kecil ya di Darul Arqam. Yang ada di sini ini termasuk anak muda yang awal-awal dibina mempelajari Islam. Uniknya si pemuda Arqam bukan dari Bani Hasyim tapi dari Bani Mahzum,” ungkapnya.

Friksi politik antara kedua bani tersebut tak terhindarkan. Sebelum ada Bani Arqam, antara Bani Hasyim dan Bani Mahzum saling menaruh curiga, bermusuhan, dan kerap bersitegang. Ketegangan antardua suku demikian tak mengurangi Arqam dalam menjadi pengikut Kanjeng Nabi. Rumahnya pun strategis untuk dipakai sebagai tempat pembinaan.

Kediaman Arqam berada di antara bukit Shafa dan Marwa. Ramai. Penuh lalu-lalang orang. Maka Darul Arqam tak dicurigai jamak orang sebagai lokasi pengkaderan Islam. Jumlah keseluruhan yang ikut di dalamnya sebanyak 40 orang. Umar bin Khattab adalah orang terakhir. Meski sebelum menyatakan masuk Islam, dia mendapatkan julukan Singa Padang Pasir. Saking berani dan kuatnya orang dari suku Quraisy itu. Usai memeluk Islam Umar bin Khattab dijuluki Kanjeng Nabi sebagai Al-Faruq. Mampu memisahkan secara tegas antara kebenaran dan kebatilan.

Kisah Darul Arqam bukan hanya bernilai sejarah, melainkan juga bermakna etis betapa membangun kekuatan maupun kesadaran kolektif hendaknya penuh strategi dan siasat. Sejarah penyebaran Islam bermula dari keterasingan, penuh kewaspadaan, hingga ketulusan penerimaan untuk saling belajar bersama. Tekad dan kepasrahan ini merupakan realiasi atas Hasbunallah Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nashir.

“Allah lah sebaik-baik penolong. Dia yang mengatasi segala sesuatu yang kita tidak bisa. Maka kita wakilkan kepada Allah. Wakil di sini berarti mengurusi segala hal,” pungkas Cak Fuad.

Lainnya