Berpikiran Positif Kunci Magnet Rezeki

Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka Milad ke-6 Komunitas Magnet Rezeki, Rumah Maiyah, Minggu 5 Desember 2021
Foto: Adin (Dok. Progress)

Ibarat sungai rezeki terus mengalir. Kelancaran rezeki dari hulu ke hilir bergantung pada keyakinan seseorang. Keyakinan ini menyembul sejak dalam pikiran. Bila mentalitas pikiran terbelenggu pandangan negatif mata air rezeki enggan keluar. “Kami ingin membuktikan bahwa rezeki yang dititipkan kita akan berbuah bagi mereka yang meyakini atau mempercayainya,” terang Nasrullah, pendiri Magnet Rezeki, Minggu malam (05/12) di Pendopo Rumah Maiyah.

Cikal-bakal Magnet Rezeki adalah keadaan kemelut yang dirasakan Nasrullah dasawarsa silam. Magnet Rezeki yang kini berbentuk buku panduan “Menarik Rezeki Dahsyat dengan cara Allah” menyibak pengalaman getir penulisnya. Ia pernah ketiban piutang sebesar 21 miliar.

Jumlah fantastis ini membuat sorot matanya kosong. Tinggal beberapa langkah, sembari memejamkan mata, Nasrullah terlintas menabrakkan diri. Di depannya terdapat kendaraan beroda empat. Alih-alih mewujudkan niat, memungkasi nyawa secara instan, ia tersadar betapa bunuh diri merupakan tindakan nista.

Sekian hari berikutnya Nasrullah bertandang ke rumah seorang kiai. Sang kiai segera bertanya, “Mengapa risau? Padahal hidupmu dulu pernah ajaib.” Nasrullah pun berkeluh kesah cobaan hidup yang datang bertubi-tubi. Ceritanya membersitkan seperti tak ada peluang dan kesempatan bagi hidupnya lagi. Tapi nasihat sang kiai itu sedikit mengurangi beban di pundak Nasrullah. Ia pulang dengan keyakinan bersama kesulitan terdapat kemudahan.

Kiat berpikiran positif dari kiai itu terus menyelinap di dalam kesadaran Nasrullah. Ia mencoba kekuatan pikiran positif. Ketika istrinya sedang studi di Malaysia dan mengidamkan sayuran, Nasrullah spontan berpikir, “Enak ya kalau punya kulkas sendiri. Beli sayur sekali tapi bisa dipakai buat satu minggu.” Beberapa hari berikutnya angan-angan itu terwujud. Ia dapat kulkas bekas berkualitas lumayan.

Energi Magnet Rezeki kini meluas. Menurut Nasrullah, 101 jurus Magnet Rezeki telah diamalkan banyak orang. Ada orang lekas berhaji tanpa menunggu lama. Hanya setahun setelah mendaftar langsung berangkat ke tanah suci. Ada pula orang selamat dari hempasan gelombang tsunami berkat merapal ayat-ayat Al-Qur’an.

Foto: Adin (Dok. Progress)

“Tapi dari semua itu hari ini kami bersyukur kepada Allah Swt sebab Magnet Rezeki sudah berusia enam tahun. Sampai sekarang kami sudah bikin koperasi untuk kepentingan umat dan membuka pesantren tanpa SPP atau pungutan apa pun,” ujar Nasrullah. Capaian usia setengah dekade lebih diharapkannya terus menebar manfaat bagi masyarakat luas.

Pohon Rezeki

Kedatangan Nasrullah dan tim Magnet Rezeki diterima baik oleh Cak Nun. Beliau mengatakan bukan hanya rezeki yang datang melainkan juga magnet. “Berarti ini double,” ucapnya disambut ketawa dan tepuk-tangan jamaah. Menurutnya, rezeki Allah tiada batas sehingga tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Sebab bersyukur adalah magnet rezeki.

Cak Nun melanjutkan sekaligus merespons paparan sesi sebelumnya. Walau perolehan rezeki berlimpah tak boleh hanya untuk kepentingan diri sendiri. Motif kapitalistik hendaknya dihindari dengan terus mengupayakan kesejahteraan bersama. “Kalau Anda ingin sejahtera ya Anda berbagi-bagi. Justru dengan shodaqoh maka akan akeh rezeki,” imbuhnya.

Mengutip perumpamaan rezeki sebagai pohon di dalam Al-Qur’an, Cak Nun mengajak jamaah menggali lebih mendalam serta mendetail. “Kalau rezeki ibarat pohon maka itu daun, akar, atau buah?” tanyanya. “Buah!” jawab serentak jamaah.

Beliau menambah pertanyaan lebih lanjut. “Kalau rezeki itu buah lalu pohonnya apa? Akarnya apa? Supaya dapat rezeki maka harus bagaimana? Menanam lalu apa langkah berikutnya,” tegas Cak Nun. Jamaah dimintanya untuk mentadabburi ayat Tuhan dalam surat Al-Baqarah ayat 261.

Pada surat itu Tuhan berjanji balasan 700 kali lipat bagi orang yang bersedekah secara ikhlas. Namun, subjek utama pemberi rezeki adalah Tuhan, bukan manusia sebagaimana kerap dipakai kebanyakan orang untuk mengkalkulasi perolehan rezeki. Motif berdagang seperti itu menurut Cak Nun harus dihindari. Cukup diserahkan kepada Tuhan. Manusia tak perlu menghitung laba sesudah bersedekah.

Bagi Cak Nun, meyakini rezeki dari Tuhan itu hal mutlak tapi jangan sampai seseorang berposisi memastikan. Jarak antara keyakinan dan pemastian memang berbeda tipis. Cak Nun mengajak bermawas diri untuk urusan tersebut. Sinau Bareng malam itu bukan hanya belajar berpikiran positif melainkan juga berintrospeksi diri.

Wujud rezeki tak sekadar ditandai oleh kelimpahan harta tapi juga keterbatasan. Achmad Zulkarnain, seorang fotografer difabel, meyakini betul perkara itu. “Bagi saya keterbatasan jadi rezeki. Kalau saya punya jari, kaki, atau tangan mungkin saya tidak akan di sini atau mendapatkan hal yang selama ini saya peroleh. Bagi saya ini keadilan dari Allah,” tuturnya. Pemilik nama akrab Bang Zul ini meyakini keadilan tidak harus sama.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Foto jepretan Bang Zul telah mendunia. Capaian maupun apresiasi masyarakat internasional terhadapnya bukan karena belas kasih keterbatasan fisik. Bang Zul dikenal berkat kualitas karya-karyanya. Keadaan fisik tak menyetopnya untuk terus berkarya. Tapi menjadi sumber kekuatan di bidang fotografi.

“Keadilan sama cinta itu seperti api dan panasnya, manis dan gulanya. Tidak bisa dipisahkan. Mengapa adil? Karena Allah mencintai kita semua,” ungkap Cak Nun.

Di tengah acara Cak Nun juga mengajak workshop jamaah. Beliau membagi tiga kelompok. Tiap kelompok diminta berembuk untuk menjawab tiga pertanyaan yang telah disediakan. Selama 30 menit melingkar mereka kemudian diminta presentasi.

Populer