Mulai Dari Teras Rumah

Reboan on The Sky, 6 Mei 2020

“Kapan pandemi berakhir, kapan ditemukan obat penawarnya. Dua pertanyaan ini makin klise diperbincangkan warganet. Pada saat yang sama gerakan produktif dari teras rumah makin menggeliat di akar rumput Simpul Maiyah.”

Cak Rudd menampilkan foto deretan pot-pot mungil menempel di batas pekarangan depan rumahnya. Jenis budidaya sayuran, bumbu dapur, tanaman obat, buah-buahan, bahkan ikan lengkap ia presentasikan. Pemilik nama lengkap M. Khairuddin sesepuh penggiat Simpul Maiyah Lumbung Bailorah, Blora, ini telah lama menjalani tradisi menanam bahan makanan pokok di rumahnya.

Pada Reboan on The Sky (06/05) lalu ia membagi pengalaman berkebun di teras rumahnya itu secara menarik. Cak Rudd menegaskan betapa seni berkebun dapat dimulai dari lahan sempit. “Urban farming bisa menjadi solusi. Memaksimalkan lahan di rumah kita. Meskipun seadanya, namun ini menjadi solusi untuk ketahanan pangan di rumah kita,” jelasnya.

Memfokuskan tanaman empat sehat lima sempurna, Cak Rudd menyatakan pentingnya kuliner bergizi untuk asupan imunitas tubuh. Makanan kaya zat-zat besi, lanjutnya, dapat ditumbuhkan hanya dengan lahan seluas empat meter. Ia membabar pembagian per meternya lewat strategi per petak dipakai seperempat. “Mengapa? Agar per minggu bisa kita tanami lagi. Dan memanennya dapat bergantian sesuai dengan perhitungan hari,” ucapnya.

Seumpama dalam seminggu lahan tersebut ditanami variasi benih, per hari bisa dibagi jenis-jenis sayuran. “Pembagian ini juga bisa dimasukan dengan variasi minuman kesehatan. Kelor, bumbu dapur, dan lain sebagainya.” Termasuk juga budidaya mujaer dan lele. Cak Rudd membagi strateginya ke dalam tiga bulan.

Pertama, rentang 0-3 bulan dengan sistem biofloc. Kedua, rentang 3-6 bulan membudidayakan lele, nila, dan gurami menggunakan sistem biofloc. Mediumnya bisa memakai akuarium, tong kecil, atau dekker. Rentang ini, menurut Cak Rudd, sudah bisa beternak ayam kampung lewat kotak kayu. Ketiga, lebih dari 6 bulan berani membudidayakan gurami dalam skala besar. Termasuk beternak ayam kampung untuk diambil telornya.

Model rumah sempit seperti di kota-kota besar juga tak perlu cemas. Cak Rudd juga menguraikan model penanaman bertingkat menggunakan paralon. Lahan satu meter bisa dioptimalkan melalui sistem tanaman vertikultur dengan kombinasi aquaponik. Jenis tanamannya bisa beraneka rupa. Jamur, semisalnya, dapat ditata setinggi 15 cm.￿

“Kasih urea sedikit, ramin, dan tutup pakai terpal. Yang penting kelembabannya terjaga. Sekitar dua sampai tiga minggu bisa kita panen,” ujarnya. Cak Rudd merekomendasikan medium tanahnya dari kompos. Soal nutrisi buat tanaman tak perlu khawatir. “Kita bisa buat sendiri. Misalnya air bekas cucian. Dan sampah daur juga jangan dibuang. Itu bisa difermentasikan.”

Cak Rudd menyodorkan dua tips berkebun di rumah. Pertama, menyiram tanaman jangan kebanyakan. Kedua, bila cuaca sekitar rumah panas, pakai paranet, optimalkan penyiraman di siang bolong, dan menggunakan sistem tumpang sari dengan tanaman lain.

Kegiatan berkebun ini juga berdampak didaktik. “Anak-anak saya terlibat di proses penanaman. Mereka senang ikut menyirami. Sekali pun satu ciduk air ke satu pot. Yang terpenting mereka mengikuti proses secara gembira,” akunya.

Kemandirian Pangan di Rumah

Bagi Pak Achmad Rifai, pemateri kedua, selain kemampuan memasak, aktivitas menanam merupakan basis dasar kemampuan manusia. Bahkan ia menjadi sedekah bagi sesama dan bumi. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai menjaga harmoni alam sekitar. “Kalau kita menanam, maka kita membuka pintu oksigen. Itu merupakan amal jariah. Menanam adalah salah satu sarana berkreativitas sekaligus rekreasi yang murah. Menanam adalah salah satu cara termudah untuk menemukan ketakjuban kepada Sang Pencipta,” tuturnya.

Memperkuat paparan Cak Rudd, Pak Rifai membagi tanaman ke dalam dua fase, yakni tahunan dan musiman. Situasi pandemi cocok membudidayakan tanaman semusim karena berusia satu sampai tiga bulan. “Ketika punya lahan lebih luas, harus punya tanaman yang tahunan,” ucapnya. Agar pertumbuhannya terukur dan hasilnya maksimal, ia menyarankan supaya punya termometer dan humidity meter. Suhu dan kelembaban udara penting dipantau. “Ada learning curve. Kalau perlu ada pegawai yang mencatat itu terus. Kalau hujan suhu bagaimana dan seterusnya. Case yang dihadapi nanti jadi bisa dikuantifikasi.”

Kalau laku menanam di rumah ditradisikan, menurut Pak Rifai, maka ketahanan pangan rumah tangga terjamin. Mempertajam uraian Cak Rudd, ia menyebut tiga manfaat menanam, khususnya di lingkungan metropolitan. Pertama, terobosan hidup di area perkotaan bisa ditempuh melalui urban farming dalam bentuk kebun toga dan tabulampot. Kedua, teknik vertikultur dapat menjadi salah satu strategi mengatasi problem ruang terbatas. Ketiga, prinsip hidup lestari serta harmoni dengan alam segendang sepenarian dengan jargon reduce, reuse, dan recycle. Pada situasi pandemi ini ia menyarankan jenis tanaman semusim yang berusia pendek 1 sampai 3 bulan.

Jamak orang terkena penyakit kronis karena keserampangan pola konsumsi. Bergerak dari teras rumah, mengonsumsi hasil tanaman sendiri yang bergizi, akan menghindarkan penyakit mematikan. Setidaknya di dalam kuliner yang dimakan terdapat racikan penetralisir penyakit. “Kenapa orang makan rendang tidak kolesterol? Karena diberi daun salam. Kita terlalu terforsir pada ilmu kedokteran Barat, sehingga melupakan keilmuwanan kita sendiri,” tandasnya. Pak Rifai menyarankan agar tradisi rempah-rempah di Nusantara digali dan dikonsumsi kembali.

Kembali Bebrayan

Yai Tohar mengapresiasi para simpul yang telah bergerak, merespons situasi pandemi lewat corak terobosan kreatif. “Yang paling penting teman-teman sudah melakukan dahulu apa yang mungkin dilakukan di masing-masing tempat. Kita tidak usah ngomong kedaulatan pangan dahulu karena cukup berat,” ujarnya. Pilihan bergerak dari teras rumah dinilainya strategis. Lebih mendesak ketimbang mengurusi kedaulatan pangan yang arasnya lumayan besar dan kompleks.

Bicara soal kedaulatan pangan, lanjut Yai Tohar, berarti harus mulai dari pemuliaan benih. Hal ini menandakan upaya resisten terhadap benih-benih GMO. Belakangan ia banyak berbincang dengan aktivis pemulihan benih di masyarakat. Mereka mengaku benihnya tak bersedia dibeli, namun dipertukarkan di antara komunitas di belahan daerah. Fenomena ini menguatkan anggapan Yai Tohar selama ini. “Yang bertahan di situasi pandemi adalah kehidupan yang komunal,” tandasnya.

Ia berharap supaya ke depan masyarakat perlu kembali ke tumbuhan yang ditanam secara alami. “Jangan ke hibrida dahulu. Itu next step,” imbuhnya. Pasalnya, jamak petani terjerat mafia benih. Mereka banyak tak menyadari asal-usul benih yang ditanamnya. Cak Rudd menanggapi kalau di Blora ia tak lagi menanam padi hibrida. Menurutnya, tekad itu merupakan upaya memuliakan benih natural. Sejak 2013, setelah mengikuti pelatihan di Indramayu bersama Pak Tjuk, sampai sekarang di dusunnya masih konsisten memuliakan benih.

Melihat keseriusan dan kreativitas para simpul, Syaikh Kamba mengatakan, “InsyaAllah inisiatif-inisiatif teman-teman akan berkembang besar.” Kerja kolektif itu, lanjutnya, merupakan aksi nyata menghadapi “rakaat panjang” sebagaimana diungkapkan Cak Nun selama ini. Rakaat panjang sama dengan mempersiapkan new normal bukan kembali ke normal seperti halnya dipahami selama ini. “Kalau kita merumuskan konsep ulang peradaban, di Maiyah ini sudah diperbincangkan dan dilakukan. Baginda Rasulullah menitikberatkan pada harus menanam, memenuhi kebutuhan pangan, dan memonitor keamanan,” papar Syaikh Kamba.

Mas Arsanto, penggiat Suluk Surakartan, mengambahkan agar kerja komunal tiap simpul terus dihela secara masif. Ia mengharapkan supaya diadakan lokakarya atau sosialisasi kepada jamaah Maiyah, sehingga mereka tergerak sekaligus mendapatkan manfaat lebih menyeluruh. Hal itu diupayakan karena situasi mendesak. “Hari-hari ini kami berdiskusi dan kondisi ini mengarah pada paceklik. Bukan karena sebab alam, tetapi karena banyak faktor.”

Ia mengkhawatirkan stok beras yang makin menyusut, bahkan dimungkinkan akan habis. Masalah itu kemudian mengerucut pada panic buying. “Para tengkulak gabah sudah mulai mengeluh. Karena mulai ada sebagian elite di kota menebas gabah, bukan lagi beras. Sekarang sedang kami analisis kenapa melakukan itu. Ini dikarenakan kemungkinan lini gabah belum dikuasai,” prediksinya. Salah satu kemungkinan paceklik, bagi Mas Arsanto, adalah seretnya distribusi. Swasembada pangan menjadi kunci menghindarkan dari dampak kondisi itu.

Terus Waspada

Mas Sabrang berpendapat cara berpikir survive di tengah wabah menjadi basis utama. “Tersier industri mati. Industri hiburan apalagi. Kita harus mulai berdaya dari sel terkecil. Sel terkecil itu bukan keluarga. Klaster per komunitas, per desa itu sangat penting untuk bisa menghidupi dirinya sendiri,” tuturnya. Membantu urusan distribusi pangan, menurutnya, harus dimulai dari kluster area karena paling strategis. Ia sependapat dengan Yai Tohar kalau naluri gotong-royong masyarakat kini sangat kurang. Situasi pandemi bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi gotong-royong.

Dua sampai tiga bulan mendatang akan didata klaster mana yang kelebihan atau kekurangan pangan. Mas Sabrang memprediksi kalau data per klaster jelas maka akan mudah melakukan gerakan lanjutan. Ia mengilustrasikan dua langkah. Pertama, mengupayakan kebun di teras rumah untuk menjamin ketahanan pangan keluarga. Kedua, melakukan dialog antarkluster. Di situ akan terlihat kesenjangan ataupun keseimbangannya. Setelah ada data baru ada distribusi.

“Hitungan saya enam bulan pangan itu aman. Saya optimis. Tapi kalau pada medio enam bulan itu tidak ada recycle maka akan terancam. Ini restarted industri keseluruhan yang terjadi. Bukan hanya urusan pangan sebetulnya,” pungkasnya.

Buku dan Merchandise