Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, 15 November 2020

Merintis Pasar Etan, Belajar dari Rasulullah sebagai Peletak Dasar Etika Bisnis

Ada hal yang berbeda dari Bangbang Wetan yang terselenggara pada Minggu, 15 November 2020. Jika rutinan bulan sebelumnya dikonsep sinau bareng dengan berdiskusi dan membedah tema bersama beberapa narasumber dan Marja’ Maiyah, bulan ini Bangbang Wetan mencoba mengaplikasikan nilai Captiva Madina. Yakni dengan merintis Pasar Etan.

Tema Pasar Etan yang digagas adalah dol tinuku, silaturahmi, berkah seduluran. Bangbang Wetan menghimpun dan menyediakan tempat bagi Jamaah Maiyah yang punya usaha dagang apa saja, supaya bisa berkumpul, berdagang, dan bersilaturahmi dalam satu tempat. Sedangkan bagi jamaah yang tak punya usaha dagang juga turut hadir nuku gone dulure dewe barang yang dibutuhkan sekaligus bersilaturahmi. Sebagian besar produk yang dijual di Pasar Etan adalah hasil buatan tangan sendiri.

Pasar Etan kemarin turut dihadiri oleh Mas Doni KiaiKanjeng, Brajjasena band, pertunjukkan sulap Zuhud Klavert dan penampilan ludruk The Luntas — yang mewarnai kegembiraan silaturahmi kita di Pasar Etan.

Pada sesi diskusi pasar, salah satu bakul mengatakan bahwa rezeki yang utama pada Pasar Etan adalah silaturahmi dan bertukar gagasan dan nilai. Jadi menurutnya laku dan laris barang dagangannya bukan yang utama, yang utama adalah gerakan kecil membangun gagasan kabangkitan UMKM. Para bakul berharap Pasar Etan bisa terus berlanjut, sebab napas Pasar Etan merupakan salah satu napas dari hidupnya UMKM jamaah. Sesi diskusi pasar, penampilan Mas Doni, Brajjasena, Zuhud Klavert dan The Luntas berakhir sore menjelang maghrib.

Dilanjutkan Majelis Bangbang Wetan yang dibuka pada pukul 19.00 WIB — yang diawali dengan nderes surat Al-Waqi’ah dan teruskan dengan mewiridkan wirid Maiyah, shalawat dan doa Nadi ‘Aliyyan.

Pengalaman BerMaiyah dan Respons Atas Pasar Etan

Setelah itu Cak Amin yang memandu sesi diskusi. Beberapa perwakilan jamaah yang bakulan ikut terlibat untuk duduk bersama Cak Amin di atas panggung. Cak Amin memantik diskusi dengan bertanya apa yang sudah kita dapatkan selama ber-Maiyah dan respons terhadap terselenggaranya Pasar Etan? Perwakilan bakul merespons hal yang sudah di dapatkan di Maiyah. Di mulai dari Cak Ariawan menjawab bahwa Maiyah telah mengajarinya untuk mandiri dan kreatif. Sebab segala komunitas di Maiyah bisa bertemu dan bersama, dan bisa saling berbagi ilmu untuk meningkatkan kapasitas komprehensi. Sedangkan Cak Damis menyampaikan bahwa Maiyah telah membantu dirinya menjawab pertanyaan tentang eksistensi Tuhan terhadap segala ketidakadilan yang dia saksikan. Cak Damis mengungkapkan bahwa dirinya sekarang merasa lebih tenteram dan lebih bijaksana.

Merespons terselenggaranya pasar etan, Cak Mukhlis menyampaikan bahwa Pasar Etan ini merupakan respons kita atas diskusi Mbah Nun bersama Pak Toto Rahardjo tentang kedaulatan pangan pada periode Madinah. Sedangkan Cak Riffi merasa gembira karena dapat bersilaturahmi dengan dulur-dulur yang lama tak bertemu. Cak Riffi juga menemukan nilai kesadaran bahwa masing-masing dagangan ini adalah milik kita bersama. Jadi kita jaga dagangan dulur kita dengan turut melayani dan menjualkan jika ada yang membeli (kebetulan bakul-nya sedang tak ada di tempat). Menurutnya dari hal tersebut yang menciptakan rasa aman dan membuat Pasar Etan bisa bertahan lama.

Sebutan Nabi Muhammad dan Historis Masyarakat Mekkah serta Madinah

Di ujung kegayengan diskusi kita mengenai pasar, turut hadir pula Mbah Fuad yang terhubung via Zoom. Seperti bulan lalu, Bangbang Wetan livestreaming melalui akun Youtube Bangbang Wetan. Bagi jamaah yang hadir terbatas di gedung serbaguna samping Cahaya Grafika, pandegiling 338, Surabaya — menyimak pemaparan Mbah Fuad yang tersambung via Zoom lewat layar proyektor yang telah disediakan.

Mbah Fuad mengawali pemaparan dengan mengungkapkan syukur karena kita bisa bertemu secara virtual pada Majelis Bangbang Wetan bulan ini. Beliau mengatakan bahwa tak akan lama membersamai kita karena beliau siang harinya habis zoom-an 3,5 jam penuh, dengan peserta sekitar 400 dari 45 negara.

Mbah Fuad memulai merespons tema kita besar tentang berdagang dengan langsung merujuk ke Nabi Muhammad. Mbah Fuad menyampaikan bahwa ada salah satu buku — yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, tentang Nabi Muhammad yang disebut sebagai seorang wirausahawan sejati, manajer profesional dan macam-macam yang sebutan yang lain. Yang juga tak kalah penting bahwa Nabi Muhammad merupakan peletak dasar etika bisnis, berdagang.

Mbah Fuad membedah perlahan pengertian bahwa secara historis masyarakat Mekkah adalah masyarakat bisnis, sedangkan Madinah adalah masyarakat agraris, petani. Mekkah sangat terkenal karena orang Quraisy dalam Al-Qur’an digambarkan punya tradisi rihlatash-syitaai wash-shayf. Melakukan perjalanan dagang: kalau musim dingin ke Yaman, kalau musim panas mereka ke Syam. Dan Mekkah menjadi pusat perdagangan.

Jadi masyarakat Mekkah adalah masyarakat wirausahawan. Nah itu sangat membentuk jiwa penduduknya termasuk Nabi Muhammad. Oleh karena itu tidak heran jika Nabi Muhammad sejak muda sudah aktif di bidang dagang. Bahkan sejak masih remaja sudah ikut pamannya, Abi Thalib, melakukan perjalanan perdagangan di berbagai pusat perdagangan dari Yaman bahkan sampai Kuwait.

Pengalaman Dagang Rasulullah

Ketika Rasulullah sudah punya pengalaman dagang seperti itu, kemudian beliau memperoleh kepercayaan dari seorang perempuan kaya raya di situ untuk menjalankan bisnisnya. Menurut Mbah Fuad, di situlah Nabi Muhammad menunjukkan kepiawaiannya dalam berdagang. Yang ditandai dengan manajemen yang baik tetapi juga etika dagang yang waktu itu tak banyak orang melakukannya. Itu adalah faktor kesungguhan beliau di dalam perdagangan. Diterangkan dalam buku sejarah bahwa Nabi Muhammad di Mekkah tidak hanya punya toko yang menjual eceran, melainkan beliau juga seorang agen atau distributor yang punya gudang.

Jadi, dahulu di Mekkah setiap tahun ada festival, ada pasaran. Menurut Mbah Fuad yang menjadi keistimewaan Mekkah sekaligus pasar komoditas itu dibarengi dengan semacam festival puisi. Itu merupakan ciri dari orang Mekkah. Penyair-penyair dari berbagai wilayah berlomba dan pemenangnya syairnya akan ditempelkan di Ka’bah dan disebarkan ke semua penduduk Mekkah.

Ketika Rasulullah menjadi Nabi, di Mekkah beliau masih melakukan aktivitas perdagangan meskipun berkurang. Setelah di Madinah aktivitas perdagangan Nabi Muhammad menurun karena tugas-tugas kenabian, tapi tidak sama sekali meninggalkan aktivitas perdagangan. Masih ada cerita bahwa tanah beliau dikerjakan oleh orang-orang Yahudi. Di situ Rasulullah tahu bagaimana watak orang-orang Yahudi di dalam berdagang. Dan kemudian mengilhami beliau untuk merumuskan etika-etika berdagang, termasuk di dalamnya memberikan peringatan keras tentang riba. Itu dari sisi kepribadian Rasulullah sebagai khalifah.

Strategi Rasulullah untuk Kebangkitan Ekonomi Masyarakat Madinah

Kita perlu menggarisbawahi dari yang disampaikan Mbah Fuad, bahwa ketika Rasulullah pindah ke Madinah, beliau juga memikirkan bagaimana ekonomi masyarakat Madinah. Seperti yang Mbah Fuad katakan bahwa masyarakat Madinah adalah masyarakat agraris. Petani masyarakat Madinah waktu itu ketika sudah panen, hasil panennya dimakan sendiri dan sisanya disimpan. Tidak ada pikiran untuk menjual, kalaupun ada itu sedikit sekali. Ketika Rasulullah pindah ke Madinah, yang beliau lakukan setelah membangun masjid adalah membangun pasar. Bersamaan dengan itu beliau membagikan tanah-tanah di Madinah yang kosong dan belum ada pemiliknya. Memang sesuai perjanjian tanah-tanah itu diserahkan kepada Rasulullah untuk mengolahnya.

Maka Nabi Muhammad membagi tanah-tanah itu kepada kaum Muhajirin. Dengan catatan dalam waktu satu tahun tanah itu sudah harus ditanami dan dibangun rumah di tanah tersebut. Kalau dalam waktu setahun tanah itu masih belum digunakan, maka tanah itu akan diambil. Nah ini ketentuan yang sangat ketat dari Rasulullah, sehingga dalam waktu satu tahun sudah tumbuh tanaman-tanaman terutama kurma, dan rumah-rumah dari kaum Muhajirin sudah terbentuk.

Setelah Rasulullah membangun masjid, pasar, perkebunan, perumahan, kemudian beliau membangun jalan yang menghubungkan masjid, perumahan, perkebunan sampai dengan pasar. Maka sejak saat itulah kehidupan ekonomi Madinah menjadi menggeliat bangkit. Tapi karena watak dari orang Madinah itu agraris sementara orang-orang Mekkah itu bisnisman, maka yang justru maju perekonomiannya adalah orang-orang Mekkah. Para Muhajirin banyak yang lebih kaya daripada anshor, karena jiwa bisnisnya. Sampai-sampai ada peringatan dari Allah, sudah kaya kemudian sudah mulai melupakan Allah, Al-Qur’an, dan agama.

Sejarah Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia

Menurut Mbah Fuad justru perekonomian umat Islam di Indonesia maju ketika zaman penjajah. Pada sejarah batik, di Jogja, Solo, Pekalongan dan Ponorogo itu semua adalah usahawan-usahawan Muslim. Bahkan kalau kita membaca sejarah Indonesia, sebenarnya kebangkitan nasional itu yang memulai bukan dari Budi Oetomo pada tahun 1912. Sebelum itu pada tahun 1911 telah berdiri Syarikat Dagang Islam.

Syarikat Dagang Islam adalah kebangkitan pertama dari bangsa Indonesia, dengan dorongan utama adalah ekonomi. Mereka tidak ingin semuanya diambil oleh Belanda, maka Syarikat Dagang Islam ini bangkit untuk melawan hegemoni dari penjajah di bidang ekonomi. Baru pada tahun berikutnya, pada 1912 Budi Oetomo cenderung pada masalah politik, dan Muhammadiyah di bidang sosial. Kemudian Nahdlatul Ulama pada 1926 di bidang agama.

Jadi sebenarnya peranan umat Islam pada zaman dahulu di bidang ekonomi sangat penting. Salah satu penyebab kenapa jiwa wirausaha kita luntur adalah pendidikan Belanda yang juga diikuti oleh umat Islam waktu itu. Pendidikan Belanda lebih menekankan pendidika untuk melahirkan pegawai-pegawai. Akhirnya jiwa pegawai itu yang melunturkan semangat berwirausaha. Sehingga pemuda waktu itu lebih memilih menjadi pegawai daripada meneruskan usaha orang tuanya. Dan dari hal itulah yang membuat perekonomian umat waktu itu jatuh.

Dan pendidikan pesantren menurut Mbah Fuad mencoba mengembalikan semangat usaha itu dengan agak keras mengatakan bahwa kamu jangan jadi pegawai. Ditekankan supaya menjadi wirausahawan untuk melawan sistem pendidikan kolonial yang cenderung melahirkan pegawai-pegawai.

Senapas dengan itu Mbah Nun di setiap Maiyahan selalu menekankan bahwa kita harus berakhlak, kreatif dan mandiri — yang merupakan bagian terpenting kedaulatan kita sebagai manusia dan rakyat Indonesia. Maka dari semangat itulah yang membuat kita wong etan menginisiasi lahirnya Pasar Etan. Dan berharap menjadi geliat kebangkitan kita melawan hegemoni dari kapitalis di bidang ekonomi. Karena setiap pertemuan kita di Maiyah adalah kabar. Salah satunya kabar merintis kebangkitan jamaah di bidang ekonomi.

Acara diakhiri dengan bershalawat dan berdoa ayat terakhir surat Yasin. Pada bagian kuun fayakuun kita getarkan semangat dan nada optimis atas apa yang sudah kami rintis. Agar Allah berkenan meridhai dan memberkahi usaha kita ke depan.

Surabaya, 16 November 2020

Lainnya

Buku dan Merchandise