Agama, Harapan dan Kebaikan

Agama mungkin perlu dibebaskan dari dogma-dogma tradisional dan konsepsi-konsepsi teologis, agar dapat mengerti ilmu pengetahuan. Dogma-dogma tersebut bisa jadi justru menghalangi manusia mengenali aktivitas Tuhan yang aktual setiap saat. Ini maksudnya bukan menundukkan agama kepada kepentingan ilmu pengetahuan, melainkan mengembalikan agama kepada kesejatiaannya yang orisinal sebelum ditafsir oleh para pemangku otoritas keagamaan.

Agama, sebagai situasi keilahian yang menuntun kepada kebaikan, berproses bersama perkembangan manusia. Jika Bibel menyebut bahwa Tuhan menciptakan surga “di timur” dengan empat sungai di antaranya, yang dua darinya adalah Tigris dan Eufrat, nilai berita di situ bukan pada kebenarannya, tetapi pada sejauh mana berita ini mengantarkan manusia pada harapan dan kebaikan. Dan melalui kitab suci, Tuhan mengabarkan bahwa Dia mencipta setiap saat. Oleh karena itu, sebesar dan sebanyak apa pun proses dalam diri manusia, entah proses kimiawi, biologis, psikis, dan sebagainya, adalah penciptaan ilahi jua.

Konsepsi teologi tradisional tidak bisa mengerti relasi antara penciptaan Tuhan yang aktual itu dan proses-proses alaminya. Karena, menurut para teolog tradisional, Tuhan adalah “sosok” absolut yang terpisah dari alam semesta. Ini paradoks, sebab Tuhan sendiri mengabarkan bahwa Dia lebih dekat dari urat leher manusia, bukannya jauh dari manusia dan alam semesta.

Lainnya

Agama, Mitra Ilmu Pengetahuan

Kemandirian dan Misi Agama

Kebaikan Ialah Refleksi Tuhan

Agama, Kebaikan, dan Tasbih

Hilangnya Keabsolutan Tuhan

Ide Tuhan dalam Diri

Buku dan Merchandise