Tribute to Rochmad Mulyono: 40 Tahun Pengukuhan PGB Cabang Yogyakarta

Memaknai satu kebersamaan adalah menerima orang lain dengan seutuhnya. Bahwa pada akhirnya waktu menunjukkan banyak hal telah terjadi, banyak hal telah berubah ke arah tidak terduga, bahkan itu terasa bukan lagi milik kita.

40 tahun bukanlah waktu yang pendek bagi seseorang, lebih-lebih bagi satu kesatuan yang melakukan proses bersama.

Sementara itu masa lalu bukan lagi milik kita, masa depan masih mungkin menjadi milik kita, selama kita hidupkan proses tersebut.

Proses pembelajaranlah yang kami maksudkan.

40 tahun lalu, PGB Bangau Putih cabang Yogyakarta dikukuhkan oleh Dewan Organisasi Pusat dan disaksikan oleh Suhu Subur Rahardja beserta ibu, putera dan menantu.

Setelah sebelumnya murid-murid belajar silat PGB di aula SD IKIP Sekip selama kurang lebih 2 tahun.

Sebelum itu, pembelajaran silat PGB di Yogyakarta selepas dari Bengkel Teater, sebagaimana nomade. Dari tempat satu pindah ke tempat lain. Pernah di tembok markas Batalyon 403 Kentungan, Dipowinatan, pernah numpang di Sanggar Bambu dan tempat-tempat lain.

Tentu pembelajaran tumbuh dengan kondisi yang tidak kondusif. Berkat ketekunan dalam penderitaan (salah satu ciri orang Jawa), proses pembelajaran terus berjalan, maka pada kesempatan ini ingin saya sampaikan penghargaan pada salah satu tokoh PGB Yogyakarta adalah ketua cabang Yogya yang pertama yakni saudara Rochmad Mulyono, yang dengan gigih mencari tempat-tempat berlatih dan selalu mendampingi saya antar jemput ke tempat latihan.

Sampai pada waktunya ada seseorang yang baik hati menyediakan rumahnya, yakni saudara Widya Poerwoko pada tahun 1994 sebagai tempat latihan PGB Bangau Putih. Momentum ini menjadi era baru perkembangan PGB Cabang Yogyakarta.

PGB Bangau Putih cabang Yogyakarta hadir dan berproses di luar Bengkel Teater. Namun harus diakui bahwa keilmuan PGB Bangau Putih bisa merambah Yogyakarta karena Bengkel Teater menjadikannya pelajaran utama, yang kemudian diadopsi Teater Dinasti Silat PGB menjadikan pula materi pembelajaran utama.

Dari sinilah kemudian saudara Rochmad Mulyono yang juga sebagai anggota Teater Dinasti, menarik saya melatih di Kampungnya Sekip, perumahan Dosen Gadjah Mada.

Ternyata apa yang dikerjakan almarhum, mendapat tanggapan dari anak-anak di sana. Dari Murid SD dan SMP dengan anatusias mengikuti pelatihan Silat PGB memenuhi aula SD IKIP.

Sementara saat itu standarisasi gerak dari Pusat Bogor mulai diterapkan. Satu tradisi lain dengan saat saya belajar di Bengkel Teater.

Solusi yang disarankan Suhu Subur Rahardja adalah saya melatih dengan gerakan yang sudah punya selanjutnya begitu habis saya mesti ke Bogor, ambil gerakan baru sesuai dengan standarisasi. Dan itu berjalan dari sabuk hijau sampai merah. Sebuah ketekunan yang saya saat itu sulit membayangkan, bagaimana itu bisa berjalan, kecuali ada campur tangan dari yang di atas sana dan restu seorang suhu.

Saat ini pelatih sudah memadai dan tidak hanya seorang.

Selanjutnya kata kunci yang ingin saya sampaikan adalah kerjasama dan sama-sama kerja.

Selamat 40 tahun PGB Cabang Yogyakarta.

15 Maret 2019

Buku Cak Nun