Topo Ngrame, dan Rahmatan Lil’alamin Tidak Secengeng Itu

Catatan Sinau Bareng CNKK di Madin Hidayatussibyan Magelang, 16 Mei 2019

Tidak begitu jauh dari deru-deru laju kendaraan di Jalan Magelang yang menghubungkan beberapa daerah dan provinsi di pulau Jawa. Pondok pesantren Hidayatussibyan menyempil di tengah ingar-bingar modernitas. Selalu ada kaum pertapa yang menjauh dari zamannya kan. Sejak di era pra-kehidupan Yesus sekitar 2000 tahun lalu juga sudah ada kaum Esseni atau Qumran yang menolak modernitas, menjauhi polemik kaum ulama modernis dan tradisionalis Saduki dan Pariisi yang mendempet pada nasionalisme rezim Herodes. Untuk kita sama ingat, ketika kaum Esseni menolak modernisasi, itu 2000 tahun yang lalu, NKRI belum lahir bahkan Hindia-Belanda juga belum. Kelak kita tahu kaum Esseni ini yang justru banyak menyumbangkan data sejarah pada masa mendatang, jauh setelah mereka sudah tidak ada lagi.

“Saya melihat pendidikan kita itu ya yang seperti di sini ini,” Mbah Nun menyatakan demikian pada malam tersebut tanggal 16 Mei2019 M di madrasah diniyyah yang memang sangat asri suasananya malam hari itu. Dikelilingi sawah, panggung menjulang bersebelahan mesra dengan pemakaman. Sawah yang sedang tidak dalam masa tanam menjadi lahan bermain bagi anak-anak, beberapa penduduk desa sekitar juga bisa duduk sambil menikmati tersajinya kemesraan Sinau Bareng pada malam hari ini.

Pernyataan Mbah Nun kemudian juga dikonfirmasikan oleh Mas Helmi dan kemudian oleh Kiai Muzammil dengan eskpertasi bidangnya masing-masing. Setiap yang hadir menyerap dengan caranya masing-masing, seperti kata Mbah Nun, “Setiap Sinau Bareng jangan sampai kita tidak belajar.” Dan pintu hikmah membuka pada setiap pengalaman, bahkan angin yang sedang tidak bertiup menjadi ilmu. Satu poin mengenai ini Mbah Nun sempat babarkan mengenai tauhid horizontal, bahwa yang namanya syahadat juga punya instrumen kelengkapannya. “Anda tidak bisa bersyahadat pada Allah kalau tidak mensyahadati makhluk-makhluknya.” Maka malam ini kita mensyahadati malam, langit, sawah, nada dan canda tawa.

Sejak permulaan sekali Mbah Nun meminta dibawakan nomor “Khotmil Qur’an” dan ini untuk mengingatkan kita bahwa yang namanya khataman itu tidak hanya dalam urusan mushaf dan kitab-kitab tapi juga khataman dalam hidup, dalan setiap pengalaman, setiap perjuangan. Karenanya kita selalu berproses menanjak pada khataman demi khataman selanjutnya. Ini penting terutama bagi institusi pendidikan seperti Madrasah Diniyah Hidayatussibyan yang memang berjuang di tengah gempuran sistem pendidikan modern yang selalu bercirikan sertifikasi dan penyeragaman.

Dari Kiai Muzammil kita bisa mengerti dinamika yang terjadi di dalam pondok pesantren. Menurut Mbah Nun yang namanya pondok pesantren itu dulunya adalah orang memutuskan untuk ngabdi menuntut ilmu pada satu sosok yang dianggap sepuh, istilahnya nyantrik maka karena si sosok sesepuh itu bertanggung jawab pada keilmuannya dia juga memberi tempat tinggal pada pembelajar yang datang. Baru kemudian berkembang menjadi lebih besar seperti yang banyak kita lihat sekarang ini. Dari sudut pandang Mbah Nun kita bisa lihat bahwa yang menjadi subjek utama dari pondok yang masih sejati justru adalah si pencari itu sendiri. Sosok guru baru muncul kemudian. Mas Helmi juga menambahkan bahwa seandainya tidak ada pola pendidikan modern bisa jadi sistem pendidikan pesantren adalah sistem utama di negeri ini.

Mungkin karena mengingat bahwa para penduduk pesantren madrasah diniyah ini masih akan bertarung dengan stamina jangka panjang dengan kejamnya rimba modernitas dunia, maka Mbah Nun malam itu sempat beberapa kali sedikti menggembleng para santri dengan sedikit tegas, agak keras. Beberapa kali Mbah Nun meminta anak-anak cucu beliau di pesantren ini untuk “tidak malu kalau memang dibutuhkan untuk berani”. Memang mungkin kelemahan kaum pertapa di mana-mana seringnya adalah kurang tegas gerak tarungnya. Tapi bukan berati tidak bisa dilatihkan.

“Orang Jawa kenal istilah Topo Ngrame, itu artinya anda tidak terganggu oleh sekeliling.” Bekal topo ngrame inilah yang juga menjadi sangat berharga. Sebab bagaimanapun kelak para penduduk madrasah diniyah ini akan keluar melihat dunia, yang memang tidak pernah mereka tinggalkan. Mbah Nun mengajak untuk tetap teguh, istiqomah menjalankan topo ngrame peradaban ini. Kita yang bukan santri juga perlu bekal ini, dan di majelis Maiyah kita memang selalu berlatih topo ngrame juga. Mbah Nun mengingatkan kembali agar apapun kericuhan, pertengkaran dan perdebatan yang sedang terjadi di Indonesia agar tidak mengganggu kemerdekaan kita dan tidak mengusik kegembiraan kita.

Masih cukup jauh untuk berharap kedamaian di Indonesia karena seperti yang Mbah Nun sering katakan, dan juga sekali lagi diingatkan pada kita malam ini bahwa, “Syarat untuk perdamaian adalah keadilan. Tidak sah kita menuntut adanya damai, tanpa rasa keadilan dipenuhi.” Bahasan mengenai rahmatan lil’alamin pun membuka terutama setelah Pak Lurah yang masih cukup muda menyinggung tema ini. Tapi apakah rahmatan lil’alamin, perdamaian dan sifat kasih sayang sama dengan selalu menghindari konflik? “Rahmatan lil’alamin tidak sama dengan tidak perang, ada kalanya perang itu sendiri diperlukan,” ujar Mbah Nun. Ini bukan ajakan makar atau ajakan untuk ke medan perang tentu saja. Tapi ini adalah bagaimana kita menegakkan logika, bahwa rahmatan lil’alamin tidak cengeng-cengeng amat.

Perumpamaan mengenai dua rumah tangga, di mana yang satunya penuh pertikaian, intrik dan pertengkaran karena suaminya selingkuh dan istrinya tidak terima. Sementara rumah sebelahnya selalu damai, adem ayem, tentrem tidak pernah ada keributan apa-apa justru karena baik suami dan istrinya sama-sama selingkuh. Itu selalu menjadi analogi yang sempurna untuk melatih logika kita. Bila kita bicara perdamaian, maka tipe perdamaian yang macam apa yang kita inginkan? Apakah yang sekadar tidak ada konflik atau perdamaian yang justru tidak mengenakkan karena harus diperjuangkan dengan berbagai laku topo yang istiqomah.

“Manusia sekarang ini kan tidak pernah latihan istiqomah,” kata Mbah Nun. Dan itu berakibat mental yang lemah, mudah terseret arus bahkan bergonta-ganti koalisi juga tidak malu asal sesuai kepentingannya. Pak Kiai yang mewakili sebagai sohibul hajat di pondok kemudian memberi tambahan, ternyata Pak Kiai dulu suka sekali membaca karya-karya Mbah Nun. “Di Maiyah inilah saya melihat Indonesia,” begitu kata Pak Kiai. Indonesia yang merdeka dari nomor togel capres, warra-warni kepentingan, bendera-bendera usang ormas, golongan dan apapun. “Disinilah ada Indonesia yang sejati,” entah berapa kali Pak Kiai mengulangi kalimat senada.

Doa-doa melantun. Generasi-generasi yang baru dengan perjuangan lebih dahsyat yang laku batinnya lebih radikal namun daya gempurnya lebih mendamaikan telah lahir dari pedalaman-pedalaman. Ini adalah titik Sinau Bareng ke-6048 untuk di wilayah Nusantara saja. Generasi baru yang ditaburi semangat kemerdekaan tadabbur sudah lahir. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun