Surat Untuk Tanah Mandar

Assalamualaikum Wr. Wb

Sabtu, 23 November 2019

Hari ini adalah hari terakhir setelah lima hari kami diizinkan untuk bertatap muka, mengambil nilai, mendengarkan cerita dan berbagi pengalaman di sebuah desa yang, menurut saya pribadi, adalah desa kelahiran kedua Mbah Nun. Kenapa? Karena beliau pernah mengaku sebagai orang Mandar yang lahir di Jombang. Artinya hati beliau sudah menyatu di tempat ini. Sebegitu cintanya beliau dengan desa ini sehingga beliau menyebut beliau adalah bagian dari desa Tinambung, Mandar.

Suasana orang-orang yang ramah dan keadaan alamnya, bukan hanya sosok Mbah Nun saja yang bisa sangat cinta pada tempat ini. Tapi juga kami, rombongan Rihlah Mandar yang sejak tiga hari lalu meninggalkan rutinitas dan kota asal kami untuk napak tilas dan silaturahmi menuju sedulur tua Maiyah di Tinambung Mandar.

Yang perlu diketahui bahwa orang-orang Maiyah memiliki keluarga di Mandar, bunda di Mandar, dan Mandar adalah bagian dari Maiyah itu sendiri. Hati kami terpaut kepada Mandar, hati kami selalu rindu pada Mandar. Sebagai orang-orang Maiyah di pulau Jawa khususnya, kita harus bersyukur karena berkesempatan bertemu raga dengan Mbah Nun ketika sedang rindu beliau. Tidak begitu dengan orang-orang Mandar. Mereka hanya bisa mengingat Mbah Nun dari pengalaman cerita mereka, tulisan beliau dan yang terpenting doa untuk beliau.

Kami rombongan Rihlah Mandar berutang nilai kepada beliau-beliau, Bunda Cammana, keluarga besar Imam Lapeo, keluarga besar Teater Flamboyan, Keluarga Maiyah Paparandeng Ate dan seluruh keluarga besar Mandar. Atas sambutan hangatnya dan memberikan kesempatan bagi kami untuk mendengar kisah-kisah persahabatan, kekeluargaan, cinta Mbah Nun untuk Mandar dan makanan-makanan disetiap rumah yang kami singgahi. Kami yakin bahwa Indonesia akan indah jika seluruh penduduknya seperti orang Mandar. Sebenarnya beliau-beliau akan bersikap baik dan ramah kepada siapa pun tanpa ada membawa nama Mbah Nun sekali pun.

Ada Bunda Cammana yang mengajak cucu-cucunya bershalawat bersama dan memperdengarkan lagu pengingat untuk para cucu ini. Ada keluarga besar Imam Lapeo yang menyambut kami dengan hangat. Keluarga Besar Paparandeng Ate dan Teater Flamboyan. Teruntuk Pak Aslam, terima kasih sudah setia menjadi tour guide kami selama di Mandar. Juga untuk Pak Hamzah yang sudah rela meminjamkan mobilnya untuk kami pakai kemana-mana. Pak Abu Bakar yang rela rumahnya setiap malam menjadi sarang bagi kami. Mbak Hijrah yang mengikhlaskan rumahnya jadi berisik oleh obrolan-obrolan kami. Pak Amru, Pak Latapa, Pak Abed, dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas pengalaman dan segala cerita menarik. Semua akan menjadi bekal untuk pulang ke kota kami masing-masing.

Maafkan kami enam belas orang ini jika setiap laku dan perbuatan kami selama di sana ada yang tidak mengenakkan. Kami berjanji akan kembali ke sana, karena Mandar sudah menjadi bagian dari kami. Salam cinta dari kami.

Wassalammualaikum Wr. Wb.

Surat dari satu-satunya wanita yang berada di rombongan Rihlah Mandar.
Tinambung, Mandar

Buku Cak Nun Majalah Sabana