Sinau Bareng Menyenangkan Hati Masyarakat Lumajang

Catatan Sinau Bareng CNKK di Lumajang, 1 April 2019, Bagian 1/2

Dua belas pemuda secara sukarela dengan cepat menaiki panggung, Mbah Nun meminta mereka menghitung urut angka satu hingga tiga dan diulangi sampai orang terakhir. Tersaring masing-masing angka terdiri dari empat orang. Mbah Nun menginstruksikan lagi agar mereka berkelompok sesuai angka masing-masing. Dengan sigap tak sampai lima menit tiga kelompok terbentuk dan menempati sisi pinggir kanan, kiri, dan tengah panggung.

Dalam waktu satu menit masing-masing kelompok diminta Mbah Nun berembug menentukan nama kelompok dan ketua atau juru bicara. Terwujudlah kelompok satu bernama Remah (Remaja Maiyah), dua mengidentifikasi sebagai Maiyah Bromo, dan tiga menamakan diri Wong Aji.

Kemudian Mbah Nun menyampaikan tiga parameter skala: individu/keluarga, masyarakat, negara. Ketiga kelompok harus memilih satu, dan Remah memilih negara, Maiyah Bromo mengambil masyarakat, Wong Aji kebagian individu/keluarga. Selanjutnya kepada mereka Mbah Nun meminta tiap kelompok mendiskusikan dan mendaftar tiga sampai lima poin sesuai skala yang dipilih tadi tentang: (1) hal-hal yang disenangi atau disyukuri, (2) hal-hal yang membuat sedih dan harus diperbaiki.

Praktis kurang lebih sepuluh menit rancangan workshop dibentuk Mbah Nun di hadapan ribuan masyarakat Lumajang. Para pemuda ini diberi waktu 30 menit sampai 1 jam untuk berdiskusi di belakang panggung dan sekitarnya untuk nanti pada waktunya mereka akan mempresentasikannya. 

Pointers yang didiskusikan ini menjadi salah satu pintu masuk dalam Sinau Bareng di Lapangan Desa Gesang, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Senin 1 April 2019. Sinau Bareng ini diselenggarakan sebagai rasa syukur Bapak Jaman Sugiyanto atas berjalannya usahanya dan dipersembahkan untuk masyarakat Desa Gesang.

Seperti pembaca budiman ketahui, salah satu ilmu dasar Maiyah adalah bahwa kita ini hidup dalam rumah besar yang memiliki banyak pintu (universitas), bukan rumah dengan banyak ruang (fakultas). Kita bisa masuk rumah dari berbagai pintu bahkan kita bisa membuat pintu sendiri untuk memasukinya. Maka begitu pula Sinau Bareng atau Maiyahan, pembahasan bisa dimasuki melalui pintu ilmu apa saja.

Sinau Bareng malam ini adalah malam keempat dalam rangkaian enam hari Mbah Nun dan KiaiKanjeng menemani masyarakat. Setelah sebelumnya berpindah tempat yang jauh mulai dari Jepara dengan Polres Jepara, lalu ke Gresik dengan PWI, dan lanjut Bangkalan Madura untuk Haul Kiai Sapujagat. Setelah di Lumajang ini, Mbah Nun dan KiaiKanjeng kembali ke barat untuk bersama masyarakat Kudus dan Semarang.

Masyarakat Lumajang berjubel memenuhi Lapangan Desa Gesang sejak isya. Tampaknya rindu mereka kepada Mbah Nun membuncah sehingga tatkala Mbah Nun tiba mendekati panggung, jamaah yang mayoritas pemuda ini berdesakan mengerubuti Mbah Nun. Bahkan beberapa sempat menaiki panggung. Shalawat pun bersahutan. Agak crowded memang. Mbah Nun pun perlu beberapa waktu menenangkan mereka.

Tiap Sinau Bareng situasi awal di lapangan selalu berbeda. Ada yang tenang dan ada yang sedikit agak tegang. Apalagi ribuan manusia berjubel. Komunikasi menjadi kunci ketika berhadapan dengan situasi yang tidak tenang. Tidak ada formula baku, semua harus taktis dengan kepekaan rasa atas keadaan. Itu baru yang tampak mata saja. Karena kita hidup tidak sendirian di alam ini, terkadang yang tak tampak pun punya andil dalam mempengaruhi suasana di lapangan. Belum lagi kondisi cuaca. Namun Mbah Nun dengan kepekaan tinggi dan jam terbang menghadapi massa bahkan dalam situasi genting dan ekstrem, dengan gandolan klambine kanjeng nabi dan pasrah kepada Allah, pelan-pelan keadaan diatasi.

Melihat energi kerinduan para pemuda yang sebagian naik ke panggung, alih-alih melarang mereka, Mbah Nun justru mengelolanya dengan bijaksana. Beberapa pemuda justru diminta naik untuk diajak shalawat bersama. Bagian suluk yang biasanya dibawakan Mbah Nun setelah nomor Pambuko KiaiKanjeng, malam ini digilirkan kepada beberapa pemuda itu beberapa baitnya. Kebersamaan pun terjalin dan akhirnya ribuan orang yang hadir melantunkan Shalawat Badar bersama. Satu upaya komunikasi terlampaui dengan baik. Melalui Shalawat Badar ini pun satu pintu ilmu dimasuki. Dengan lontaran kelakar Mbah Nun dalam semacam kuis mengenai siapa nama pencipta Shalawat Badar ini membuat gerr jamaah.

Selanjutnya ditekankan Mbah Nun bahwa beliau ke Lumajang ini tidak untuk menceramahi, tidak untuk nuturi, tapi justru ingin belajar kepada masyarakat Lumajang, sehingga antara Mbah Nun dan semua yang hadir saling belajar. Dan itulah salah satu esensi sesuai namanya, Sinau Bareng. Metodenya sangat banyak dan Maiyah yang diinisiasi Mbah Nun sejak lebih dari dua puluh tahun lalu ini bisa dibilang menanamkan benih-benih bentuk pendidikan kemasyarakatan di ribuan titik yang telah didatangi.

Selanjutnya malam ini kemesraan dan kebahagiaan hadir dalam Sinau Bareng di Lumajang ini bersama Bupati Lumajang yang nyentrik dan enerjik, Ibu Lurah Desa Gesang yang ngemong, para perwakilan Dandim dan Kapolres Lumajang, dan tentunya Kyai Muzammil yang sejak Sinau Bareng malam sebelumnya di Bangkalan ditasbihkan sebagai Kyai “Koma”. Apa itu Kyai Koma? Silakan pembaca mencari rekamannya atau ikuti Sinau Bareng berikutnya bersama Kyai Muzammil.

Kebahagiaan demi kebahagiaan selalu dihadirkan dalam Sinau Bareng. Karena Maiyah selalu gondelan klambine kanjeng Rasulullah yang diperintahkan Allah untuk menyenangkan hati ummatnya. (JJA)

Buku Cak Nun