(Sinau Bareng) Kegembiraan dan Kepekaan Masuk Pesantren

Catatan Sinau Bareng di Ponpes Hidayatullah Tuksongo Pringsurat Temanggung, 24 April 2019, bagian 1

Latihan berislam adalah belajar mencerdasi Islam, belajar mempekai Islam.”

Menjelang bulan Ramadlan adalah saat di mana pondok-pondok pesantren tiba pada akhir tahun kegiatan belajar-mengajar, apalagi tahun ini berbarengan dengan bulan April-Mei, bulan ujian sekolah dan ujian nasional. Akhirussanah, demikianlah lazim disebut. Untuk akhirussanah ini digelar serangkaian kegiatan yang tidak saja diperuntukkan bagi para santri, melainkan juga untuk wali murid dan masyarakat sekitar. Ada khataman, wisuda, pengajian umum, pentas kesenian, bahkan ada pula pagelaran wayang. Para pedagang turut meramaikan kegiatan dan menjadikan suasana layaknya pasar rakyat. Bisa sampai hampir satu minggu lamanya. Para santri senang dengan masa-masa seperti ini. Kesibukan pun berlipat dari biasanya.

Sesudah malam sebelumnya ber-Sinau Bareng di Pondok Pesantren Ar-Ridwan Kalisabuk Kesugihan Cilacap, 24 April 2019 kemarin Mbah Nun dan KiaiKanjeng hadir di Pondok Pesantren Hidayatullah Tuksongo Pringsurat Temanggung untuk Sinau Bareng. Hajat pondok yang diasuh oleh KH. Syarif Hidayatullah ini adalah sama: akhirussanah kegiatan pondok pesantren. Rombongan KiaiKanjeng yang bertolak dari Cilacap, memasuki lokasi melewati jalan menanjak kawasan desa dan perbukitan, dengan jalan yang tidak cukup besar. Simpangan dua mobil mesti saling hati-hati. Desa Tuksongo ini sebenarnya terletak di perbatasan antara Temanggung dengan Magelang dan Kabupaten Semarang.

Lokasinya yang berada di desa menampilkan salah satu corak pesantren yaitu pesantren di desa, yang berbeda tipologinya dengan pesantren yang berada di kota. Jika merujuk khasanah ilmu sosial yang sejauh ini mempelajari dunia pesantren, dapat kita sebut tiga teropong yang biasanya dipakai untuk melihat dunia pesantren. Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam di dalam masyarakat yang menjadi tempat tertransmisikannya ilmu-ilmu keagamaan. Kedua, pesantren sebagai lembaga yang diletakkan dalam kerangka pengembangan masyarakat/komunitas. Ketiga, pesantren dalam kaitannya dengan politik dan kekuasaan.

Apa yang disampaikan Mbah Nun dan olah kepekaaan bersama KiaiKanjeng dalam Sinau Bareng di Ponpes ini dapat dirasakan, sekurang-kurangnya menurut saya, sebagai sumbangan tinjauan evaluatif-kritis terhadap pelaksanaan pendidikan keagamaan yang mengisi celah-celah kosong di antara atau di dalam ketiga teropong tersebut. Namun, yang perlu dicatat terlebih dahulu, lontaran-lontaran Mbah Nun dihadirkan melalui kegembiraan bersama sehingga gagasan-gagasan landing dengan smooth, tidak kering dan membebani.

Sejak mengawali Sinau Bareng, setelah mendengarkan sambutan Kyai Syarif, Mbah Nun langsung mengajak semua hadirin dengan kalimat-kalimat yang bertekanan kepada kegembiraan, “Mari kita bersenang-senang menikmati apa yang kita alami, kita bicarakan, kita diskusikan…” Tekstur dan kontur tanah yang tidak rata sebagaimana di lapangan tidak boleh menjadi halangan. Mari temukan enaknya segala sesuatu yang menjadi faktor-faktor yang ada pada malam ini. Demikian Mbah Nun menyampaikan.

Ajakan menikmati berikutnya muncul saat Mbah Nun meminta para hadirin membaca surat Al-Fatihah tiga kali dipimpin para vokalis KiaiKanjeng dengan tiga model lagu yang berbeda. “Kalau ada lukisan, senang tidak pelukisnya jika lukisan itu dilihat orang? Senang. Nah, nikmatilah ayat-ayat Allah, Allah senang. Sehingga Allah membalas Anda dengan kemurahan hati-Nya, yang sakit-sakit disembuhkan, yang butuh bayar hutang dimudahkan rizkinya.”

Jadi, lagu-lagu dalam membaca Al-Qur`an adalah salah satu metode untuk menikmati ayat-ayat Al-Qur`an. Karenanya, lagu-lagu itu sebaiknya dipelajari dengan sungguh-sungguh. Prinsipnya, kata Mbah Nun, kita mesti punya ‘kekayaan’, untuk menikmati hidup. Kekayaan lagu tadi adalah salah satu contohnya. Ada tujuh maqamat dalam MTQ, ada lagu dan langgam Jawa, dll. Kalau diteruskan, jika kita mau menikmati hidup yang enak, ya kita perlu punya kekayaan pemikiran dan perspektif.

Contohnya ada pada saat para jamaah dibagi ke dalam tiga kelompok, lalu masing-masing ditugasi menyanyikan lirik yang berbeda tetapi berada pada lagu (nada, irama) yang sama. Bagaimana dan kapan masing-masing melantunkannya harus ngikut pada instruktur kelompok, dalam hal ini para vokalis KiaiKanjeng. Karena lagunya sama, sangat mungkin terjadi selip-selip pengucapan liriknya. Mestinya lirik kelompok lain, bisa tiba-tiba dia bunyikan saat tiba giliran dia. Hasilnya akan crash dan kacau. Maka konsentrasi dan kepekaaan sangat diperlukan. Nah, saat berlangsung pengolahan sesi workshop lagu ini pun kegembiraan menyertai. Yang dewasa-dewasa jadi lupa bahwa lagu yang mereka bawakan itu sebenarnya lagu anak-anak. Tapi workshop ini menerabas batas itu. Jadinya ya asik.

“Jangan dikira ini bukan pendidikan agama. Pendidikan agama bukan terletak di agamanya, tapi pada nalurinya. Kalau naluri dilatih, nanti kelak para santri akan punya kemampuan berijtihad…Latihan berislam adalah belajar mencerdasi Islam, belajar mempekai Islam. Anak-anak PAUD jika dilatih peka, dia nanti akan cepat ambil keputusan.” Demikian Mbah Nun menguraikan. Penjelasan ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana cara memahami sebuah adagium yang populer di Pesantren yang selama ini dijadikan sebagai frame of view dalam meyakini kebenaran Islam. Adagium itu berbunyi: al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih.

Adagium itu berarti: Islam itu tinggi dan tidak ada yang meninggi-inya (membawahinya). Tapi menurut Mbah Nun, yang tinggi tersebut adalah Islam-nya, bukan muslim atau orang Islamnya. Kita jangan GR dengan Islam, tetapi masalah terletak pada kita sendiri bagaimana. Dalam hal ini perlu disadari, Islam hanya tuntunan, dan kalau pelakunya tidak mampu mambawa Islam ke dunia ya kita berarti kita tidak mampu merepresentasikan Islam yang ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Dengan workshop ini, Mbah Nun menjelaska sebab atau alasan mengapa keadaan itu sampai terjadi, “Selama ini pelaku Islam nggak pernah dilatih untuk peka, cerdas, lembut, kerjasama, dan alur-alur berpikir. Kalau tidak ada pelatihan, nanti akan membikin orang Islam jadi robot-robot.”

Kita bisa meneruskan mencari contoh perihal kondisi kita yang menjadi robot-robot itu di dalam berbagai konteks, dari pemikiran hingga pergerakan, sementara Mbah Nun sendiri membawa hadirin untuk menemukan contohnya pada politik nasional, walaupun Mbah Nun meminta untuk tidak usah minder dengan kondisi tersebut alias jangan tidak percaya diri.

Dalam konteks pendidikan keagamaan, apa yang barusan Mbah Nun workshopkan dan sampaikan adalah sebuah pengisian yang penting dan mendesak sifatnya bagi perbaikan paradigmatik pelaksanaan pendidikan Islam kita, yang selama ini belum memberikan tempat bagi penumbuhan kepekaan yang dibutuhkan para pelaku Islam. Diperlukan metode-metode baru yang melengkapi metode pembelajaran yang ada.

Dari kegembiraan yang ditanamkan dan diberikan contoh oleh Mbah Nun, benih-benih kepekaan semoga mulai bertumbuh. Pendidikan keagamaan tak seyogianya didominasi oleh hapalan-hapalan, melainkan wajib ditempuh upaya-upaya sejak dini dalam menumbukan jiwa yang peka, peka kepada nilai-nilai Islam, peka terhadap nilai-nilai kebaikan, yang apabila kepekaan tersebut tidak difollow-up-i, mereka akan dirundung rasa bersalah, karena telah terjadi pertentangan dengan hati nurani mereka, dan mereka pasti akan berjuang sekuat tenaga. Kalau mereka tak punya kepekaan itu, mereka akan tenang-tenang saja mendustai ajaran agama, meskipun dengan baju dan simbol agama. Mbah Nun tak ingin kita semua berlaku seperti itu. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise