Sinau Bareng Bertarekat Bersama

Catatan Sinau Bareng Manaqib Tarekat Kanjeng Syaikh Syadziliyah Desa Megulung Lor Pituruh Purworejo 19 April 2019, bagian 1

Latar belakang (berikut ragam hajat) penyelenggara yang mengundang Mbah Nun dan KiaiKanjeng untuk Sinau Bareng sangatlah beragam. Dua malam lalu, yang menggelar Sinau Bareng adalah Klenteng Sam Poo Kong Semarang. Sementara tadi malam, di desa Megulung Lor Pituruh Purworejo Jawa Tengah, pengundang adalah anggota Tarekat Syadziliyah, dan memang hajat acara Sinau Barengnya adalah dalam rangka dzikir Manaqib Imam Abul Hasan Asy-Syadzili, meskipun yang hadir adalah masyarakat desa pada umumnya.

Imam Abul Hasan Asy-Syadizili adalah imam yang kepadanya dinisbatkan Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat besar yang ada di dunia, dan di Indonesia sebagaimana kita tahu sangat banyak pengikutnya. Di dunia pesantren, nama Imam Asy-Syadzili sangat familiar melalui sejumlah dzikir, wirid, dan hizib-nya. Sebut saja misalnya hizib Nashr, hizib Bahr, hizib Barr. Juga beberapa formulasi shalawat yang diciptakan Imam asy-Syadzili, salah satunya adalah shalawat “Nuri Dzati”.

Marilah bersama-sama kita menimba ilmu dari fenomena Mbah Nun memenuhi undangan Sinau Bareng dari pemrakarsa yang berlatar belakang Tarekat Syadziliyah agar kita mendapatkan pertambahan wawasan yang makin kaya.

Kita bisa berangkat dari sesuatu yang inti dalam tarekat atau tasawuf. Di masa Rasulullah, akhlak mulia yang menyifati para sahabat Nabi adalah pemandangan yang jamak dan mainstream. Ini disebabkan oleh keberhasilan Nabi Muhammad mentransformasikan karakter para Sahabat. Persis sejalan dengan yang Nabi sendiri sampaikan “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Kepada akhlak mulia inilah tarekat menuju.

Tatkala kemudian waktu berjalan, saat Islam mulai menjangkau wilayah-wilayah lebih luas dari Mekkah dan Madinah, tidak sedikit orang-orang yang tergiur oleh kekuasaan, kekayaan dan kemegahan duniawi. Lama-lama orientasi yang demikian ini menjadi jamak dan mainstream. Sementara orang-orang yang bertahan pada jalan Nabi yakni yang menjaga akhlak mulia menjadi sedikit jumlahnya, dan pada akhirnya menjadi minoritas. Dilihat dari sudut ini, keruntuhan peradaban Islam dapat dikatakan dipicu oleh ketergiuran kepada kekuasaan dan kerakusan akan kekayaan duniawi.

Agar dapat kembali berperan dalam peradaban, karenanya, tidak ada jalan lain bagi umat Islam kecuali terlebih dahulu kembali mentransformasi diri mereka menuju pribadi yang berakhlak mulia yaitu dengan jalan menginternalisasikan sifat-sifat Nabi ke dalam diri mereka, sebagaimana para Sahabat dulu menyerap keteladanan dari diri Nabi Muhammad. Untuk keperluan inilah, tarekat atau tasawuf bisa membantu.

Dari perspektif psikologi, tarekat atau tasawuf memiliki kontribusi cukup besar dikarenakan pada batas tertentu psikologi modern yang lebih bertumpu pada empirisisme tidak mampu masuk jauh ke dalam soal jiwa manusia, dan tatkala bicara bagaimana mengubah perilaku, tarekat bisa membantu ke sana dengan, di antaranya, metode dzikir dan wiridnya. Selain itu, keberadaan seorang mursyid berposisi sebagai role model (di mana role model adalah esuatu yang signifikansinya diakui dalam psikologi), sebagaimana Nabi adalah role model bagi para Sahabat kala itu. Demikianlah, Imam Abul Hasan Asy-Syadzili adalah role model bagi para penempuh tarekat Syadziliyah, dan hubungan di antara mursyid dengan murid senantiasa diliputi oleh cinta dan kasih sayang.

Transformasi diri dan nuansa cinta. Kira-kira itulah dua kondisi dasar dalam tarekat. Ketika Mbah Nun naik ke panggung tadi malam, hal-hal yang mula-mula disampaikan adalah sesuatu yang sangat sederhana, “Wong urip seneng ra seneng iku tergantung kemampuane untuk bersyukur, nyelulupi maknane sesuatu, apike sesuatu. Yen pinter bersyukur, yo uripe bakal penak.” Orang akan jadi senang atau tidak senang dalam hidupnya sangat bergantung pada kemampuannya dalam bersyukur kepada Allah dengan menyelami makna sesuatu yang dialaminya, yaitu misalnya dengan mampu mengambil sisi baiknya sesuatu. Jika kita pandai bersyukur, hidup kita bakal enak (penak).

Selain bersyukur, hal kedua yang diingatkan Mbah Nun buat semua kita adalah jangan sampai kita salah dalam menentukan tujuan hidup. “Ora salah nentukke tujuan urip. Yen salah, ora bakal tekan kebahagiaan, ora bakal penak….Allah nggawe awak ndewe iki, supoyo awak ndewe iki seneng.” Jangan salah menentukan tujuan hidup, sebab jika salah, kita tidak akan sampai kepada kebahagiaan, sementara sebenarnya Allah menciptakan kita di dunia ini ya supaya kita itu senang. Kemudian yang ketiga dan ini terkait dengan niat, Mbah Nun ngingatin semua kita untuk jangan sampai gampang tertipu oleh sesuatu yang mempesona kita. “Ojo kapusan karo sing kowe kepincut. Jangan keliru pada hal-hal apa yang Anda terpesona. Uang itu penting, tapi kudu pas le ngepakke.”

Pesan-pesan Mbah Nun yang demikian ini selalu muncul dalam setiap Sinau Bareng. Pesan-pesan yang sebenarnya berorientasi untuk mengubah kondisi “di dalam” pada diri jamaah atau kita semua. Kalau hati kita bisa bersyukur dan senang, itulah kondisi yang diharapkan memudahkan bagi perubahan diri menuju karakter yang lebih baik. Bahkan kita bisa merasakan pula bahwa untuk mentransformasikan diri kita, tidak hanya pesan-pesan ilmu yang disampaikan Mbah Nun. Kreativitas musik, suasana kebersamaan, pola komunikasi dan interaksi, tata panggung, handling suasana di panggung, termasuk tentu saja dzikir dan wirid, semuanya seperti diorientasikan untuk membuat hati kita gembira, lega, senang, dan bahagia. Semua suasana ini tentu sangat jelas maknanya bagi penciptaan transformasi diri.

Satu lagi tentu yang tak boleh kita lupakan ialah dalam keseluruhan itu, Mbah Nun selalu hadir dan mampu membawa suasana cinta. Mbah Nun hadir dengan rasa tresna kepada semua hadirin dan jamaah, dan itu memancar kuat dalam setiap kali Mbah Nun berkomunikasi sehingga suasana kedekatan segera terjalin di situ. Para jamaah pun tentu merasakan hal yang sama. Cinta itu pun bahkan tereskpresikan dalam proses salaman di akhir acara.

Walaupun tidak penting-penting amat buat Mbah Nun untuk disebut tarekat atau bukan, namun kita para pembelajar di Maiyah, rasanya tidak boleh luput untuk mencatat bahwa orientasi yang istiqamah pada mentransformasi diri dan hubungan cinta yang selalu menjiwai setiap Sinau Bareng substansially adalah sebuah laku tarekat.

Senyum para hadirin itu, tawanya, gembiranya adalah ekspresi jiwa-jiwa yang telah dipijit hatinya oleh Mbah Nun supaya besoknya mereka siap menatap dan menjalani hidup dengan kualitas diri yang telah tertransformasikan, telah tertarekatkan. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun