Sewindu Nahdlatul Muhammadiyin

Pada hari pertama bulan Desember ini Nahdhatul Muhamadiyin (NM) sedang memiliki hajat yaitu memperingati hari lahirnya yang ke-8 atau genap berusia sewindu. Acara Milad kali ini mengambil tempat di rumah Kang Padhang yang terletak di Tempel Sleman.

Suasana khas bawah lereng Merapi mengiringi saya dan teman-teman NM yang mengisi semaan al-Qur’an pada siang hari. Di samping itu, di dapur, para ibu-ibu tampak sedang memasak hidangan untuk acara malamnya.

Memasuki usia yang kesembilan, kalau diibaratkan seorang manusia, NM sudah memasuki fase mumayyiz yang diharapkan mampu memberikan apa dan apa saja yang bermanfaat serta apa dan apa saja yang membahayakan bagi umat.

Saya dan teman-teman NM sebelumnya telah bersepakat untuk mengusung tema “Hamukti Peradaban Muhammadiyin” sebagai refleksi sekaligus visi Nahdlatul Muhammadiyin di hari-hari mendatang. Secara sederhana saya mengartikan tema tersebut sebagai kehendak (niat) peneguhan sikap dari para pecinta Muhammad dalam mengarungi peradaban manusia baik di bumi hingga di akhirat kelak.

Selaku panitia acara, Kang Makmur menyampaikan bahwa tema yang diangkat oleh NM merupakan respons terhadap beberapa tulisan yang beredar di tengah teman-teman Jamaah Maiyah dengan beberapa istilah kunci yang diambil dari Tajuk Mbah Nun yaitu hardreset peradaban dan tiga daur (sosial, kultural serta spiritual).

Sekitar pukul delapan malam acara Milad dimulai dengan terlebih dahulu membaca doa khotmil-Quran yang dipimpin oleh Kyai Muhaimin dari Kotagede. Saya melihat para hadirin yang datang tampak senang dan gembira. Selepas itu pak Heri tampil sebagai pemandu acara dan langsung diikuti tilawah al-Quran serta sambutan shohibul bait.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan pidato dengan judul “Tegur Sapa” yang ditulis oleh Pak Mustofa W Hasyim dan Kyai Marzuki Kurdi. Kurang lebih pidato yang saya baca tersebut ingin menyapa dan mengajak teman-teman NM untuk memetakan ulang persoalan serta menggiatkan literasi.

“Pemetaan dan Pemetaan Ulang ternyata sangat kita perlukan agar kita mampu melakukan Identifikasi dan Identifikasi Ulang dengan cara “Menulis dan Menulis Ulang ide-ide kita, langkah-langkah kita dan sejarah kita yang otentik dan bermakna”.

Di samping itu dalam mewujudkan nilai Islam Rahmatan Lil ’alamin terdapat istilah kunci yang masih butuh rumusan lebih lanjut seperti Internalisasi, Sosialisasi, Institusionalisasi, Infrastrukturisasi, dan Dialektika Konsolidasi.

Dalam sesi “hiburan” kami disuguhi pembacaan puisi yang dibawakan oleh para penyair akhir zaman yaitu Kang Fauzi, Bung Iko dan sumbangan dari teman Maneges Qudroh. Bung Iko membawakan puisi Pak Mus yang berjudul “menjelajah cakrawala” dengan elegan. Yang membuat saya sedikit terkejut adalah ketika kang Fauzi membawakan puisinya Mbah Nun yang berjudul “Nasihat Kyai kepada santri-santrinya”. Puisi panjang tersebut dideklamasikan dengan sangat apik dan ekspresif.

Ketika Pak Mustofa mulai berbicara, saya bersiap-siap menaikkan daya konsentrasi untuk menangkap apa yang disampaikan. Malam itu Beliau menyampaikan pentingnya ide yang mampu menggerakkan orang. Ide yang hidup dalam istilah beliau. Tentu saja ide itu tidak bisa lepas dari kata sebagai sarana bahasa dan aksi sebagai manifestasinya. Contohnya cukup sederhana, seperti ide Milad ini yang mampu menggerakkan teman-teman NM untuk berkumpul, merancang acara, berdiskusi, berswadaya, dan melaksanakannya.

Manengkung Peradaban Muhammadiyin

Milad NM kali ini bisa dikatakan tidak biasa karena ubo rampene adalah ayam ingkung, bukan tumpeng. Secara filosofis ingkung pasti berbeda dengan tumpeng yang meyimbolkan relasi manusia dengan Tuhan maupun sesamanya. Ingkung yang biasanya dibuat dari ayam jago menyimbolkan sifat ananiyah, hawa nafsu dan senjata yang perlu dikendalikan. Dari situ muncul istilah Manengkung yang merupakan tali pengikat antara apa yang di cita-citakan dengan langkah yang dijalani.

Memuncaki acara Milad, Kyai Muhaimin menyampaikan tentang konglomerasi dan kapitalisme yang sangat hegemonik dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika memetakan sejarah perjuangan Nabi, menurut Beliau, sebenarnya yang dilawan adalah kapitalisme yang telah menyengsarakan penduduk Makkah.

Yang menarik adalah penafsiran pak Kyai tentang suku Quraisy yang tidak lain kata dasarnya itu qurs atau kurs mata uang kalau sekarang. Jadi kaum Quraisy adalah mereka yang memegang otoritas finansial atau mengatur nilai mata uang. Hal itu dikuatkan oleh jaringan konglomerasi suku Quraisy yang sampai merambah Syam dan Yaman. Selain itu Kyai Muhaimin sepakat dengan istilah laboratorium ijtihad, namun penekanannya lebih pada dinamika realitas kehidupan masyarakat baik itu dari sisi fenomena sosial, sejarah maupun spiritual.

Yogyakarta, 3 Desembar 2019

Lainnya