Sampai Juga di Tinambung

Menjelang pukul 03.00 pagi, tiga mobil SUV yang membawa rombongan dari Makassar memasuki daerah Polewali Mandar. Seluruh rombongan kemudian diantar ke rumah transit di kediaman Mbak Hijrah. Sebagai informasi, Mbak Hijrah ini pernah menjadi vokalis KiaiKanjeng pada awal tahun 2000-an.

Ketika rombongan tiba, Bang Abu Bakar ternyata stand by sejak malam sebelumnya di rumah Mbak Hijrah ini. Rumah yang menjadi tempat transit rombongan Rihlah ke Tanah Mandar ini adalah rumah dengan desain khas rumah adat Mandar; Rumah Boyang. Di lantai dua Rumah Boyang ini rombongan beristirahat.

Menjelang subuh, sayup-sayup terdengar Sholawat Tarhim dari pengeras suara Masjid Al-Hurriyah, Tinambung. Memang, jarak dari tempat transit ke Masjid Al-Hurriyah ini sangat dekat. Bagi sebagian kami yang turut serta ke Mandar, mendengar lantunan sholawat tarhim menjelang Subuh tentu hal yang langka. Tidak semua daerah di Indonesia Masjid-masjidnya masih menjaga tradisi melantunkan sholawat tarhim menjelang Subuh, tapi di Tinambung ini, Masjid-masjidnya masih menjaga tradisi Sholawat Tarhim tersebut.

Selepas subuh, rombongan beristirahat sejenak. Perjalanan dari kota keberangkatan, kemudian dari Makassar menuju Tinambung ditempuh dengan perjalanan darat dan tentu menguras energi fisik yang cukup banyak.

Ketika berangkat dari Makassar menuju Tinambung, rombongan sempat berhenti di dua titik pemberhentian. Pertama, sekitar jam 21.00 WITA, rombongan diajak mampir ke sebuah toko roti di Maros. Toko Roti Salenrang namanya. Kami pun kemudian membeli beberapa kudapan di toko ini, sekadar bekal untuk perjalanan ke Tinambung yang akan ditempuh selama 6 jam.

Ada satu keunikan cukup istimewa dari toko ini. Di depan toko ada sebuah meja dan beberapa kursi yang memang disediakan bagi pengunjung. Di atas meja, terdapat dua nampan roti isi selai durian dan srikaya, kemudian ada dua termos besar berisi teh dan kopi. Semua sajian di atas meja itu disediakan gratis. Siapa saja boleh makan dan minum, sepuasnya.

Mungkin, semacam sedekah dari si pemilik toko roti kepada siapapun saja yang mampir. Tentu saja rotinya enak. Kami para rombongan dari Jawa sangat menikmatinya. Hal yang sangat jarang kami temui di tanah Jawa. Dan ketika roti di nampan itu habis atau gelas untuk teh dan kopi juga sudah habis, maka ada staf toko yang akan segera mengambil lagi stok roti yang baru dan gelas yang baru. Begitu juga dengan kopi dan teh. Jika habis maka akan diisi ulang.

Pemberhentian kedua, kami diajak oleh Bang Salman, Koordinator penjemputan dari Tinambung ke sebuah warung ikan Bakar, di Kab. Barru.

Ikan laut adalah menu khas sepanjang perjalanan dari Makassar hingga Mandar. Dan belum juga kami sampai di Mandar, kami sudah diajak makan Ikan Bakar dengan sambal rica yang segar.

Memang, perjalanan silaturahmi ke Mandar itu seperti paket wisata kuliner. Cak Nun sering bercerita bahwa ketika di Mandar, setiap singgah ke rumah salah satu penduduk di Mandar, akan disuguhi makanan yang enak-enak. Mulai dari kudapan ringan sampai makanan yang berat.

Dari Kab. Barru, tiga mobil pembawa rombongan melanjutkan perjalanan ke Tinambung. Dengan kecepatan hampir 100km/jam, mobil yang membawa kami akhirnya sampai di Tinambung pukul 02.00 dinihari. Satu mobil lagi memang tidak dipacu sekencang dua mobil lainnya, sehingga agak terlambat sampai di Tinambung. Tak mengapa, yang penting kami semua sampai di Tinambung dengan selamat.

Buku dan Merchandise