Para Ksatria yang Tersisa di Akhir Zaman

Catatan Majelis Maiyah Kenduri Cinta ke-202, 14 Juni 2019

Bulan Juni selalu menjadi bulan yang istimewa bagi Kenduri Cinta. Bulan Juni adalah penanda perjalanan Majelis Maiyah Kenduri Cinta menjadi sebuah forum Sinau Bareng di Jakarta. Tahun ini, genap 19 tahun usia Kenduri Cinta. Ini bukan soal seberapa lama forum Maiyahan di Jakarta ini berproses, bukan pula seberapa hebat Komunitas Kenduri Cinta mampu bertahan hingga 19 tahun. Ini adalah bukti bahwa kita mampu menikmati kegembiraan dalam berbuat baik, seperti yang selalu dipesankan oleh Mbah Nun kepada kita, bahwa jangan mengajak orang untuk berbuat baik, tetapi mari kita ajak sebanyak mungkin orang untuk menikmati kebaikan, menikmati berbuat baik.

Lho, kenapa tidak mengajak orang untuk berbuat baik? Karena sejatinya, setiap orang, setiap manusia memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Tetapi, yang sering kita lupakan adalah bagaimana kita menikmati kebaikan yang sudah kita lakukan. Terkadang, kita terlalu acuh sehingga kebaikan yang kita lakukan sama sekali tidak kita rasakan kenikmatannya. Maka, hati kita akan selalu gembira jika kita mampu menemukan kenikmatan dalam setiap kebaikan yang kita lakukan.

Lebih spesial lagi Kenduri Cinta mulai bulan Juni 2019 ini bergeser tempat penyelenggaraannya dari sebelumnya di area pelataran parkir Taman Ismail Marzuki, kini bergeser ke Plaza Teater Besar yang terletak di bagian belakang Taman Ismail Marzuki. Area yang lebih luas, dan juga lebih nyaman.

Apa yang membuat Kenduri Cinta mampu bertahan hingga 19 tahun? Istiqomah, sudah pasti. 19 tahun bukan waktu yang sebentar, bukan? Semangat menjaga kebersamaan di forum ini bukan semangat yang biasa-biasa saja. Apakah karena Mbah Nun? Apakah karena nama besar Emha Ainun Nadjib? Apakah karena penggiat-penggiatnya? Atau juga karena jamaahnya? Silakan cari sendiri jawabannya. Yang harus kita pastikan lebih dahulu adalah bahwa kita menemukan kegembiraan ber-Maiyah di Kenduri Cinta.

Jika karena ada Mbah Nun, maka Kenduri Cinta edisi Juni 2019 kemarin adalah salah satu bukti bahwa jamaah yang hadir tetap bertahan hingga akhir acara meskipun Mbah Nun tidak hadir di Kenduri Cinta. Dan jauh sebelum edisi Juni 2019 kemarin, ada banyak edisi-edisi Kenduri Cinta yang Mbah Nun berhalangan hadir, namun forum tetap berlangsung seperti biasanya. Jamaah yang datang tetap banyak dan bertahan hingga akhir acara. Karena kita semua Bersama-sama menikmati kegembiraan dalam kebaikan yang kita lakukan di Kenduri Cinta.

Mbah Nun pernah mengingatkan kita, jika kita berdoa jangan terfokus pada apa yang kita harapkan saja. Terkadang, hasrat kita, harapan kita, kemauan kita ingin agar kita mendapat durian. Padahal, bisa saja Allah menyiapkan jeruk, apel, mangga, pisang yang justru mungkin adalah yang dibutuhkan kita. Sama halnya ketika kita datang ke Maiyahan, jika harapan kita adalah hanya ingin bertemu dengan Mbah Nun, maka kektika Mbah Nun berhalangan hadir, akhirnya kekecewaan lah yang kita rasakan. Berbeda jika niat kita datang ke Maiyahan adalah sinau bareng. Maka ilmu yang kita dapatkan, bisa jadi melebihi ekspektasi yang kita harapkan ketika berangkat Maiyahan.

Karena memang di Maiyah, kita yang mengikatkan diri kita ke Maiyah. Maiyah bukan sebuah organisasi masyarakat seperti NU atau Muhammadiyah, yang ada kartu anggotanya, ada Lembaga amal usahanya, ada organisasi sayapnya dan lain sebagainya. Maiyah juga bukan LSM, bukan juga Partai Politik. Dan apa yang kita lihat hari ini, betapa orang-orang datang ke Maiyahan, atas dasar hati yang tulus dan ikhlas, maka mereka yang sudah tersentuh dengan gelombang Maiyah akan merasakan kerinduan untuk kembali datang ke Maiyahan.

Dan jangan kira Mbah Nun juga tidak rindu untuk berjumpa dengan kita. Sangat rindu. Sangat kangen. Maka, meskipun di Kenduri Cinta edisi Juni 2019 lalu Mbah Nun tidak hadir, namun Mbah Nun menitipkan beberapa hal untuk menjadi bekal bagi jamaah Kenduri Cinta untuk menyelami khasanah ilmu Maiyahan selama ini.

Mbah Nun menitipkan 4 pertanyaan untuk dibahas dalam workshop kelompok. Ada 4 kelompok yang membahas masing-masing satu pertanyaan yang diberikan oleh Mbah Nun. Teman-teman yang tidak hadir di Kenduri Cinta kemarin pun dipersilakan untuk ikut merespons pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa manfaat Kenduri Cinta yang Anda alami untuk pribadi Anda, keluarga, atau mungkin masyarkat dan Negara?
  2. Apa kritik dan saran Anda kepada Kenduri Cinta dan Maiyah. Apa saja yang sebaiknya terus dilakukan dan ditingkatkan, serta apa saja yang sebaiknya dihentikan.
  3. Apa saran Anda sebaiknya yang Kenduri Cinta, Maiyah dan Mbah Nun lakukan terhadap Pilpres 2019 dan urusan Negara serta Pemerintah secara keseluruhan?
  4. Pada suatu hari kalau Tuhan memanggil Mbah Nun ke haribaan-Nya, apakah Kenduri Cinta dan Maiyah diteruskan? Apa peran Anda?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut masing-masing kemudian didiskusikan oleh 4 kelompok, yang kemudian mereka presentasikan pada tengah malam, ketika memasuki diskusi sesi kedua.

Sembari masing-masing kelompok berdiskusi di tempat lain di luar panggung, forum terus berlangsung. Malam itu hadir di Kenduri Cinta Ust. Noorshofa Thohir dan Mardigu Wowiek. Mardigu Wowiek menyampaikan beberapa informasi yang sangat penting, bagaimana perang dagang global hari ini yang melibatkan Amerika dengan China akan sangat besar pengaruhnya beberapa tahun lagi bagi Indonesia. Bagaimana kapitalisme global hari ini bermuara pada 2 negara tersebut, yang kemudian tanpa sadar negara-negara seperti Indonesia hanya akan menjadi penonton saja jika tidak segera mengambil langkah konkret.

Namun demikian, jamaah Kenduri Cinta tidak terlalu pusing dengan keresahan-keresahan yang disampaikan oleh Mardigu Wowiek kemarin. Mbah Nun sendiri sudah jauh-jauh hari berpesan, bahwa jika memang Allah menitipkan Indonesia kepada Maiyah, maka Allah akan memenuhi fasilitasnya kepada Maiyah untuk memperbaiki Indonesia. Dan kita di Maiyah sangat menyadari bahwa sama sekali kita tidak memiliki keberanian untuk menawarkan diri menjadi pihak yang paling mampu untuk mengurusi Indonesia.

Suasana Kenduri Cinta kemarin semakin gayeng ketika Ust Norshofa dengan ceramahnya yang lugas, penuh nilai, dan dibumbui dengan beberapa candaan-candaan. Ust Noorshofa mengingatkan kita agar selalu bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan oleh Allah Swt. Seperti yang baru saja berlalu, bulan Ramadlan. Kita sangat wajib bersyukur karena kita masih diizinkan oleh Allah untuk bertemu dengan bulan Ramadlan. Karena Ramadlan bukan hanya sekadar 30 hari yang menuntun kita berpuasa, namun lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang sangat esensial dalam kehidupan kita.

Ustadz Noorshofa memberi kado istimewa kepada jamaah Kenduri Cinta, menyampaikan salah satu doa Nabi Khidlir; Bismillahi maa syaaAllah laa yasuqu-l-khairo illallah, Bismillahi maa syaa Allah laa yashrifu-s-suu`a illallah, Bismillahi maa syaa Allah maa kaana min-n-ni’matin faminallah, Bismillahi maa syaa Allah wa laa haula wa laa quwwata illallah. Jamaah pun diajak oleh Ust Noorshofa untuk melantunkan doa tersebut bersama-sama.

Untuk menyegarkan suasana forum, malam itu Bobby Semberengen tampil bersama dua anak kecil. Sebelumnya, komunitas pantomime Indomime juga turut menampilkan seni pantomime mereka. Sementara itu, Kelompok Hadroh Al-Musafir dari Balaraja mengajak jamaah bershalawat bersama. Dan untuk melengkapi itu semua, Nanag HP dari Wayang Urban membawakan beberapa nomor lagu karyanya, dan juga sempat mengiringi Pakde Mus menyanyikan lagu Tombo Ati.

Kegembiraan Kenduri Cinta malam itu kemudian berlanjut dengan pemotongan tumpeng, sekadar untuk seremonial secara simbolis mensyukuri perjalanan 19 tahun Maiyahan di Taman Ismail Marzuki. Syeikh Kamba dan Pakde Mus yang hadir secara simbolis menerima potongan tumpeng oleh Fahmi Agustian mewakili penggiat Kenduri Cinta.

Sesaat sebelum pemotongan tumpeng, Pakde Mus memimpin jamaah untuk berdoa bersama, melantunkan Al-Fatihah dan tahlil, dan dipuncaki dengan wirid; Maa syaaAllah Laa haula wa laa quwwata illa billah sebanyak 41 kali. Wirid ini secara khusus dititipkan oleh Mbah Nun untuk dilantunkan bersama-sama oleh jamaah Kenduri Cinta malam itu.

Setelah prosesi tasyakuran 19 tahun Kenduri Cinta, 4 kelompok yang berdiskusi dengan bekal pertanyaan-pertanyaan dari Mbah Nun masing-masing mempresentasikan hasil diskusi mereka yang kemudian juga Syeikh Nursamad Kamba turut merespons apa yang telah disampaikan oleh kelompok-kelompok tersebut. Jawaban dari kelompok-kelompok yang berdiskusi tentu saja bukan jawaban final, bahkan jamaah Kenduri Cinta yang tidak melibatkan diri untuk berdiskusi pun sebenarnya memiliki kesempatan yang sama untuk merespons 4 pertanyaan dari Mbah Nun. Dan tidak harus sekarang, 4 pertanyaan tersebut bias dibawa pulang, kemudian direnungkan, dan kapan saja bisa disampaikan hasil perenungannya, apalagi hari ini teknologi semakin mudah, bisa disampaikan melalui e-mail ke redaksi CakNun.com misalnya untuk menyampaikan respons dari 4 pertanyaan tersebut, atau secara langsung datang ke forum Reboan Kenduri Cinta yang selalu dilaksanakan setiap minggunya, setiap hari Rabu di teras Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki.

Syeikh Kamba kembali menjelaskan bahwa jamaah Maiyah ibaratnya adalah para ksatria yang tersisa di akhir zaman ini. Bahkan lebih dari itu, Syeikh Kamba mengibaratkan bahwa jamaah Maiyah adalah pasukan atau sekelompok masyarakat yang memiliki kesempatan untuk menyeberangi sungai namun tidak sekalipun berani meminum air dari sungai tersebut. Itulah ujian bagi para ksatria Maiyah, meskipun haus tidak sekalipun berani mengambil air di sungai.

Syeikh Kamba pun kembali menyampaikan bahwa Maiyah memiliki prinsip jalan kenabian dengan 5 pilar; kemandirian, kesucian, kebijaksanaan, kejujuran dan cinta kasih. 5 pilar ini tidak pernah dirancang sama sekali oleh Mbah Nun sekalipun, tetapi secara alami mendarah daging tertanam dalam hati sanubari para pelaku Maiyah. Syeikh Kamba kemudian juga menjelaskan satu poin tentang tarekat virtual, menurut Syeikh Kamba, Mbah Nun adalah salah satu sosok yang mampu menjadi mursyid bagi para pelaku Maiyah secara virtual.

Maksudnya, meskipun secara fisik langsung kita tidak berkesempatan bertemu dengan Mbah Nun, tetapi bisa jadi di alam bawah sadar kita, atau mungkin dalam mimpi kita, kita bertemu dengan Mbah Nun, dan dalam kesempatan mimpi itu Mbah Nun menyampaikan ilmu-ilmunya kepada kita. Dan sudah terlalu banyak cerita tentang orang yang didatangi Mbah Nun dalam mimpinya.

Beberapa hal yang kemudian dijelaskan oleh Syeikh Kamba adalah tentang Ats-tsulatsaa Al-Muqoddasah; Mekah, Madinah dan Al-Aqsha. Beberapa hari terakhir masyarakat kita sibuk dengan isu receh yang viral tentang segitiga, sementara di Islam sendiri juga banyak simbol-simbol yang bisa dikaitkan dengan istilah segitiga. Namun demikian, bukan bermaksud untuk mengikuti arus yang sedang bergejolak, Syeikh Kamba menjelaskan bahwa 3 kota suci tersebut merupakan salah satu napak tilas sejarah Islam yang menyimpan banyak rahasia ilmu yang belum kita pelajari secara mendalam.

Selain itu, di Maiyah sendiri kita juga memiliki konsep segitiga cinta Maiyah; Allah, Rasulullah, Khalifah Maiyah (manusia). Konsep segitiga cinta ini menjadi salah satu dasar filosofi Maiyah. Maka, tidak berlebihan kiranya jika Syeikh Kamba memiliki keyakinan bahwa Maiyah adalah jalan kenabian.

Menjelang jam 3 dinihari, Kenduri Cinta dipuncaki dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Syeikh Nursamad Kamba. Jamaah kemudian bersalam-salaman dengan Syeikh Kamba dan Pakde Mus. Perjalanan 19 tahun Kenduri Cinta tentu perjalanan yang melelahkan namun juga membahagiakan. Apa yang kita harapkan tidak harus tercapai, namun seperti yang selalu dipesankan oleh Mbah Nun, jangan sampai kita tidak menemukan kenikmatan dalam kebaikan yang kita lakukan. Sampai jumpa di Kenduri Cinta edisi Juli 2019 dengan kerinduan dan kebahagiaan yang baru lagi.

Lockdown 309 Tahun