Manusia Yang Mana Kamu?

Mukadimah Kenduri Cinta Agustus 2019

PADA Kenduri Cinta bulan lalu, Cak Nun mengajak kita untuk mentadabburi firman Allah berikut ini; Wabtaghi fiima aataakallahu-d-daaro-l-aakhirota walaa tansa nashiibaka mina-d-dunyaa (Al Qashash:77). Satu kata yang menjadi pijakan tadabbur adalah; nashiibun. Cak Nun tidak memaknai kata tersebut dengan terjemahan; nasib. Cak Nun memilih untuk berpijak bahwa kata nashiibaka itu tidak sama dengan; nasibmu. Dan juga, Cak Nun tidak memilih untuk sepakat dengan terjemahan AL Qur’an di Indonesia yang menerjemahkan kata nashiibaka sebagai; bagianmu.

Apa yang Allah kehendaki kepadamu, itulah nashiibaka. Kira-kira seperti itu penjelasan singkat dari Cak Nun. Kehebatan rumput adalah menjadi rumput, kehebatan kelapa adalah apabila ia menjadi kelapa. Kehebatan burung adalah terbang sebagai  burung, kehebatan ikan adalah berenang sebagai ikan, kehebatan kijang adalah berlari sebagai kijang. Tumbuhan dan hewan yang menjadi dirinya sendiri adalah sebuah kehebatan. Maka, manusia mencapai titik kehebatannya adalah pada saat ia menjadi dirinya sendiri, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Swt pada dirinya.

Melalui sinau bareng di Maiyah, Cak Nun memperkenalkan formula; manusia nilai, manusia pasar dan manusia istana. Manusia nilai adalah manusia yang sama sekali tidak khawatir dengan penghidupannya di dunia. Apapun profesinya, manusia nilai akan maksimal menjalani takdirnya tanpa mempedulikan berapa banyak uang yang akan ia dapatkan. Seorang guru pada hakikatnya adalah manusia nilai. Perjuangannya di dunia pendidikan untuk mentranformasikan ilmu kepada para muridnya adalah perjuangan nilai. Maka, kita di Maiyah pun diperkenalkan terminologi oleh Cak Nun, bahwa pendidikan adalah salah satu wilayah yang tidak boleh dikapitalisasi. Seperti halnya agama, kebudayaan dan kesehatan. Orang-orang yang menjadi garda depan dari empat wilayah tersebut adalah manusia nilai.

Manusia pasar adalah manusia yang pijakannya adalah transaksi. Layaknya orang berdagang di pasar, ia menawarkan barang untuk dijual kemudian pembeli akan membeli sesuai dengan harga yang disepakati. Pada skala yang lebih besar, seorang pengusaha akan mampu menghasilkan keuntungan yang besar dari barang atau jasa yang ia tawarkan. Manusia pasar orientasi hidupnya adalah laba sebanyak-banyaknya agar menghindari kerugian dalam berdagang.

Manusia istana adalah manusia kekuasaan. Menjadi Presiden, Gubernur, Menteri, Direktur dan sederet posisi jabatan lainnya di sebuah Negara, organisasi, perusahaan, atau apapun yang sifatnya struktural adalah manusia istana. Dengan menjadi manusia istana, ia memiliki hak untuk berkuasa. Dengan kekuasannya, manusia istana mampu mengendalikan perubahan pada sebuah peradaban yang sedang berlangsung.

Berkaca pada perjalanan Rasulullah Saw, pada usia muda beliau sudah menjadi manusia nilai. Gelar Al Amin yang disematkan oleh masyarakat Mekah menjadi pertanda bahwa Muhammad bin Abdullah adalah manusia nilai. Beranjak dewasa, Muhammad bin Abdullah menjadi pedagang yang piawai dalam berdagang. Muhammad bin Abdullah sukses menjadi seorang pengusaha muda. Namun, beliau sama sekali tidak kepincut dengan kemilau harta benda yang ia miliki dari hasil perdagangan. Pada saat risalah dari Allah itu datang, Rasulullah Saw memiliki kesempatan untuk menjadi manusia istana. Pun ketika berhijrah ke Madinah, beliau mampu mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshor, menyusun blue print peradaban masa depan Madinah, namun momen itu tidak dimanfaatkan oleh Rasulullah Saw untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa.

Rasulullah Saw adalah sosok yang pantas kita teladani. Beliau terlahir sebagai manusia nilai, memiliki kesempatan untuk menjadi manusia pasar, bahkan kemudian memiliki kesempatan juga untuk menjadi manusia istana. Tetapi, Rasulullah Saw memilih untuk tetap menjadi manusia nilai.

Kembali kepada diri kita masing-masing, siapakah kita? Manusia nilai, manusia pasar atau manusia istana?

Silang sengkarut dunia hari ini mengantarkan kita pada peradaban yang semakin tidak jelas. Dunia hari ini dibangun di atas pondasi manusia pasar. Orang yang hebat, orang yang sukses, orang yang berhasil adalah orang yang kaya raya. Apapun profesinya, yang pertama kali dilihat oleh masyarakat adalah berapa banyak harta yang ia punya, semewah apa rumah yang menjadi tempat tinggalnya, kendaraan seperti apa yang ia miliki, pakaian seperti apa yang ia kenakan dan seterusnya. Maka, tidak mengherankan jika kemudian menjadi orang kaya adalah cita-cita bagi seluruh manusia di belahan dunia manapun.

Mereka yang seharusnya menjadi manusia nilai justru tidak yakin dengan ke-nilai-an dalam dirinya. Manusia yang memiliki peluang untuk menjadi manusia istana, kemudian mampu menjadi manusia istana, tetapi menjadikan manusia pasar sebagai pijakan tata kelola hidupnya. Yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang seharusnya dikelola dengan mekanisme manusia istana dijalankan dengan mekanisme manusia pasar. Hasilnya, bisa kita lihat hari ini, semua negara di dunia bergerak dalam roda kapitalisme.

Rasulullah Saw telah membuktikan bahwa kota Madinah mampu melahirkan peradaban yang mulia dengan pondasi manusia nilai. Manusia pasar dan manusia istana mengambil perannya masing-masing, saling berkontribusi dan tidak tumpang tindih peranannya, sehingga kehidupan sosial masyarakat kota Madinah berlangsung aman dan sejahtera.

Masyarakat Maiyah telah cukup memiliki bekal dari proses sinau bareng selama ini. Khasanah ilmu di Maiyah telah memberi warna dalam kehidupan masyarakat Maiyah. Dan masyarakat Maiyah telah membuktikan diri mampu untuk tidak terseret dalam arus kapitalisme global. Masyarakat Maiyah berproses untuk terus menemukan presisi pada titik yang tepat, apakah menjadi manusia nilai, manusia pasar atau manusia istana.

Majelis masyarakat Maiyah Kenduri Cinta menjadi salah satu laboratorium pembelajaran kita bersama, untuk sinau bareng, belajar bersama, meneguhkan kembali nilai-nilai keluhuran manusia, menjernihkan pikiran, menuju Indonesia mulia.

Buku Cak Nun