Kebenaran Tidak Boleh Melanggar Cinta, Begitupun Sebaliknya

Rabu (19/6), Mbah Nun memenuhi undangan Karyawan PT. Indofood untuk sinau bareng dalam Halal Bihalal dengan tema “Meneladani Respek dalam Akhlak Rasulullah Saw” dilangsungkan di Indofood Tower, di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Menyelaraskan tema siang itu, Mbah Nun mengawalinya dengan pijakan ilmu kenabian. Disampaikan oleh Mbah Nun, jika dirumuskan dalam simbol maka yang dibawa oleh Nabi Musa AS adalah kebenaran, sementara yang dibawa oleh Nabi Isa AS adalah cinta. Dan Nabi Muhammad Saw, mengkomposisikan keduanya; kebenaran dan cinta. “Maka, kebenaran tidak boleh melanggar cinta dan cinta juga tidak boleh melanggar kebenaran”, Mbah Nun menjelaskan.

Mbah Nun adalah sahabat dekat dari Pak Franky Welirang, salah seorang petinggi PT. Indofood. Hubungan persahabatan Mbah Nun dengan Pak Franky sudah terjalin cukup lama. Jika ada kesempatan, ketika Mbah Nun berada di Jakarta, Pak Franky selalu meluangkan waktu untuk bertemu dengan Mbah Nun, sekadar untuk ngobrol-ngobrol ringan, ngopi dan rokok’an. Namun ternyata, usut punya usut, yang mengundang Mbah Nun untuk hadir di acara Halal Bi Halal ini bukan Pak Franky sendiri. Para karyawan PT. Indofood yang berinisiatif mengundang Mbah Nun sekaligus memberi kejutan kepada Pak Franky. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Pak Franky ketika berada di ruang transit. Raut wajah bahagia Pak Franky sangat jelas ia tampakkan ketika bertemu Mbah Nun. Kejutan yang diberikan karyawannya ternyata berhasil.

Di awal acara, beberapa anak usia SMP-SMA dari Pesantren dari Yayasan “Puspita Foundation “yang diasuh oleh Pak Franky mengisi acara, mulai dari menyanyi hingga membaca puisi dalam bahasa Inggris. Pak Franky memang memiliki jiwa sosial yang tinggi, salah satunya adalah mendirikan Lembaga pendidikan yang berbasis bahasa Inggris. Anak-anak usia SMP-SMA diasuh di sekolah ini. Anak-anak itu pun selalu menyapa Pak Franky dengan panggilan “Ayah”, karena bagi mereka Pak Franky memang menjadi sosok Ayah. Dengan guyonan, Mbah Nun pun menyampaikan kepada anak-anak itu; “I am your grand father, because Pak Franky is your Father”, hadirin pun tertawa.

Kembali ke tema, Mbah Nun menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw itu Nabi yang miskin, padahal Nabi Muhammad Saw memiliki akses yang luar biasa untuk menjadi kaya raya. Maka yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah cinta kasih yang dipadukan dengan kebenaran, sehingga ketika hijrah ke Madinah rombongan hijrah Nabi Muhammad Saw diterima dengan tangan terbuka oleh kaum Anshor.

Mbah Nun menambahkan, jika Allah memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu maka Allah akan memberi fasilitas kepada kita. Dan di setiap rezeki yang Allah berikan kepada kita, ada amanah yang dititipkan oleh Allah kepada kita. Persoalannya, seringkali kita melupakan amanah yang dititipkan oleh Allah melalui rezeki yang diberikan kepada kita. Maka yang terjadi di sekitar kita hari ini adalah peradaban yang penuh dengan kekufuran, bahkan kemunafikan. Manusia memaksakan kehendak untuk menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak mampu ia jalani, sehingga Allah lepas tangan dan tidak ikut tanggung jawab terhadap yang ia lakukan. “Setiap kamu mendapat rizki, pasti ada amanatnya, supaya ada keseimbangan. Seperti halnya Allah menciptakan langit dan bumi, maka Allah menjaga keseimbangannya. Dan keseimbangan rezeki adalah amanat”, ungkap Mbah Nun.

Mbah Nun kemudian mengelaborasi peristiwa perang Badar. Perang yang pada saat itu pasukan Rasulullah Saw hanya memiliki sekitar 300 orang pasukan dengan kekuatan yang sangat lemah jika dibandingkan dengan kekuatan musuh. Rasulullah Saw kemudian menyampaikan kepada para pasukannya; Innamaa tunshoruuna, wa turhamuuna, wa turzaquuna bidlu’afaa`ikum. Niscara Allah akan menolongmu, merahmatimu, dan memberimu rizki atas dasar kelemahanmu, atas dasar kedlu’afaanmu. Dan Allah memberikan kemenangan kepada pasukan Islam pada saat perang Badar tersebut.

Dalam perang Badar ini, ketika Rasulullah Saw menyambut pasukan kembali dari medan perang, Rasulullah Saw mengucapkan; Mina-l-‘aaidiin wa-l-faaiziin, maksudnya adalah mereka (pasukan perang) adalah kelompok yang baru saja kembali dari kesulitan, dan mereka juga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, yang meraih kemenangan. Maka Idul Fitri sering kita sebut sebagai hari kemenangan, karena selama 30 hari di bulan Ramadlan kita telah melatih diri kita untuk berjuang melawan hawa nafsu dalam diri kita dengan berpuasa.

Ada benang merah antara puasa dengan perang badar. Rasululllah Saw menyampaikan bahwa setelah perang Badar ada peperangan yang lebih besar yang akan dihadapi oleh manusia, yaitu peperangan melawan diri kita sendiri. Mbah Nun menyampaikan, bahwa yang harus kita ungguli adalah diri kita sendiri, bukan mengungguli orang lain. Kita harus mampu mengalahkan nafsu dalam diri kita sendiri, bukan mengalahkan orang lain. Peradaban hari ini mengapa menjadi rusak sedemikian rupa karena yang menjadi pijakan utama manusia adalah mengalahkan orang lain bukan mengalahkan nafsu dalam diri kita sendiri.

Kata “faaiziin”, bukan hanya berarti orang-orang yang menang, tetapi juga orang-orang yang beruntung. Kriteria keberuntungan ini juga bermacam-macam, tidak selalu orang yang kaya adalah orang yang lebih beruntung dari orang yang miskin. Belum tentu. Tidak selalu juga orang yang populer adalah orang yang lebih beruntung dari orang yang tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat luas. Belum tentu. Itulah salah satu bentuk keseimbangan hidup manusia yang diciptakan oleh Allah, dan keseimbangan hidup adalah sunnatullah, sebuah keniscayaan.

Menjelaskan tentang respek, Mbah Nun menerangkan bahwa respek itu kepada apa saja dan siapa saja. Tugas utama manusia adalah menjalankan apa yang harus dilakukan. Ditambahkan oleh Mbah Nun, bahwa sebenarnya jika kita menjadi manusia yang benar-benar manusia, menjadi manusia yang sejatinya manusia, maka kita tidak akan dipusingkan dengan simbol-simbol peradaban modern. Kita tidak akan pusing dengan keyakinan orang lain, kita tidak akan bertengkar karena perbedaan pandangan, kita tidak akan rebut satu sama lain hanya karena berbeda agama, suku, dan lain sebagainya. Sebenarnya tugas kita sebagai manusia itu sangat ringkas; tidak menghina martabat orang lain, tidak mengambil harta orang lain, dan tidak membunuh orang lain.

Selanjutnya, Mbah Nun menyampaikan bahwa hidup kita itu dipenuhi utang kepada Allah. Begitu banyak hal kita berutang kepada Allah, dan seberapa banyak harta dan juga amal ibadah yang kita lakukan, tidak akan pernah mampu melunasi utang kita kepada Allah. Maka Allah pun memiliki rumusan bahwa bukan atas amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan yang menyebabkan kita dimasukkan ke surga kelak, melainkan atas dasar rahmat Allah, dan cara kita menggapai rahmat Allah itu adalah dengan cara kita beribadah, mengabdi dengan tulus dan ikhlas kepada Allah Swt.

Betapa indahnya hidup kita jika kita memiliki pijakan hidup adalah dalam rangka berterima kasih kepada Allah. Maka, kembali ke pijakan awal yang disampaikan oleh Mbah Nun, bahwa kebenaran tidak boleh melanggar cinta dan cinta juga tidak boleh melanggar kebenaran, karena jika antara kebenaran dan cinta saling melanggar, maka tidak akan terwujud kehidupan yang indah. (Fahmi Agustian)

Buku dan Merchandise