Nandur di Bulungan

Seperti sudah dijadwalkan, sehari selepas acara di Trowulan Mojokerto, Mbah Nun dan KiaiKanjeng segera bertolak ke Kalimantan untuk Sinau Bareng di Lapangan Aghatis, Tanjung Selor Bulungan Kalimantan Utara dengan tema “Merawat Indonesia dari Ujung Borneo”. Acara ini diselenggarakan oleh Polres Kabupaten Bulungan bekerja sama dengan Jamaah Maiyah Bulungan dan Yayasan Al-Hikmah.

Berangkat dari Surabaya, tadi malam pukul 20.00 WITA, rombongan Mbah Nun dan KiaiKanjeng telah mendarat di Bandara Kalimaru Berau, setelah terlebih dahulu transit di Balikpapan kurang lebih empat puluh menit. Di Bandara Berau ini, teman-teman polisi dan Jamaah Maiyah Bulungan sudah standby menunggu kedatangan rombongan. Begitu tiba di pintu kedatangan, teman-teman polisi yang sedari tadi telah menunggu segera salim kepada Mbah Nun dengan ta’dhim dan tanpa bisa menyembunyikan rasa senang di hati mereka. Demikian pula dengan teman-teman Jamaah Maiyah.

Lepas dari bandara dan sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Bulungan sekitar tiga setengah jam, Mbah dan KiaiKanjeng diajak singgah di rumah makan Harmoni yang terletak tak jauh dari bandara untuk makan malam. Di sini makanan seafood telah menanti rombongan. Ada ikan patin ikan bakar, kepiting lada hitam, kepiting asam manis, udang tepung, cak kangkung, dan lain-lain.

Meski hidangan mengundang selera, Mbah Nun makan secukupnya saja. Entah kalau Mas Alay, Mas Adin, dan Mas Gandhie hehehe.

Ini adalah untuk kali pertama Cak Nun dan KiaiKanjeng menginjakkan kaki di Berau, pun demikian nanti di Bulungan. Selepas menikmati santap malam, perjalanan segera dilanjutkan. Menuju Bulungan ini medan yang ditempuh adalah jalan berliku dan berkabut, serta menembus hutan-hutan dan perkebunan sawit.

Setelah menempuh waktu kurang lebih tiga jam setengah, akhirnya dini hari rombongan tiba di hotel. Di sini, teman-teman Jamaah Maiyah, yang tidak ikut menjemput di Berau,  sudah menanti. Mereka menyambut Mbah Nun di lobi hotel. Dan penyambutan di lobi ini lalu menjelma sambung roso dan teman-teman tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka manfaatkan untuk meminta nasihat dan saran kepada Mbah Nun.

Di antaranya, teman-teman Jamaah Maiyah Bulungan yang bermaksud merintis kegiatan pendidikan meminta saran ihwal apa dan bagaimana menyangkut pendidikan. Kata Mbah Nun, kurikulum yang terbaik adalah meniru lakunya Kanjeng Nabi. Kemudian, ajari anak-anak didik akhlak terlebih dulu. Ajari mereka tentang srawung. Tentang silaturahmi. Tentang mencintai sesama. Tentang mencintai hewan. Mencintai daun-daun. Setelah itu baru ajak masuk mereka kepada ilmu.

Obrolan harus segera diakhiri, kalau tidak bisa berlanjut sampai subuh. Mbah Nun dan KiaiKanjeng harus dijadwal beristirahat dulu, nanti pagi hingga sore sudah ditunggu agenda persiapan acara. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun