Indonesia Belajar Kepada Mandar

Apa saja yang Indonesia bisa pelajari dari Mandar?

1. Menghormati para Anangguru, yakni mereka yang dituakan.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat yang dituakan, para Anangguru, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat dijaga di hati masyarakat di dalam frekuesni ketakdziman yang tinggi.

Keberadaan orang tua yang tulus mengayomi adalah hal penting yang mesti dijaga oleh sebuah masyarakat, terlebih oleh sebuah bangsa.

2. Tidak semua selesai dengan hitung-hitungan rasional.

Semua yang sudah dikalkulasi dengan cermat belum tentu berbuah seperti yang disangka, pun sebaliknya. Ada faktor-faktor nonteknis yang berpengaruh pada hasil dari sebuah keadaan yang diupayakan.

Berhitung dengan cermat itu wajib, menata menempatkan batin dengan tepat itu pun tak kalah wajibnya. Tak heran setiap dari mereka memegang wirid-wirid yang diamalkan istiqamah.

3. Tahan krisis karena produksi berdaya.

Sungai dan laut dirawat. Teknologi rumah dan teknologi perahu warisan leluhur juga dijaga. Semua itu adalah modal untuk tetap menjadi masyarakat yang berdaya. Hanya bergantung pada sumber daya yang dimiliki sendiri dan dominan melibatkan sumber daya yang ada di sekitar.

Maka ketika krisis menimpa Indonesia di waktu yang lalu, mereka tidak ikut terdampak oleh melambungnya harga-harga beli. Sebab mereka berdaya dalam berproduksi hasil laut dan hasil bumi.

4. Seni dan agama selaras sejalan.

Agama Islam adalah mayoritas di sana. Suasana rahmatan lil ‘alamin tercermin dari keluwesan berinteraksi sehari-hari. Amalan agama yang kencang dipegang di ruang privat dan masing-masing berjalan selaras dengan amalan mualamah di keseharian yang luwes, penuh cengkerama, akrab, dan dekat satu sama lain.

Seni budaya berkembang dengan baik, alunan rebana hingga alat musik modern menjadi sahabat sehari-hari yang tidak menimbulkan kontroversi. Semua berjalan seiring dan sejalan.

5. Bahkan dengan hewan saja, hidup bersanding berdampingan.

Ketika mendekat ke wilayah hutan, banyak anjing liar di sana. Bukan anjing peliharaan, bukan anjing konsumsi. Mereka hanya hewan liar yang leluasa hidup di habitatnya. Anjing tidak diberangus karena alasan potensi najisnya, melainkan disiplin jarak yang dijaga. Semua berdampingan hidup dengan baik-baik saja.

6. Merawat sungai lahir batin.

Sungai itu bukan hanya sumber daya alam, tetapi sungai adalah sumber kehidupan. Tidak ada eksploitasi berlebihan di Sungai Mandar, melainkan hanya didapati orang-orang yang mengambil air minum dengan jerigen atau penambang pasir tradisional.

Air sungai tetap jernih dan layak konsumsi. Sungai dijaga tetap dengan kekeramatannya. Sebab di sana tidak hanya mengalir air, tetapi juga mengalir cerita dan warisan sejarah masa lalu.

7. Menyederhanakan cara mencari penghidupan.

Untuk bersantap tak perlu neka-neko. Penganan tradisional beraneka rupa dari bahan yang memang tersedia di sekitar, yakni gula aren. Pemenuhan kebutuhan nutrisi didapat dari konsumsi ikan segar yang ditangkap dari laut atau dibeli dengan murah di pasar.

Kuliner sederhana tetapi kaya oleh kadar pemenuhan gizi. Pun begitu urusan penghidupan pada aspek pendidikan, kesehatan dan ritual agama, kesemuanya dikerjakan sesuai batas kemampuan kolektif mereka.

8. Begitu mudahnya menjadi saudara.

Semangat menyambut tamu dan orang baru adalah semangat menyambung persaudaraan. Bukan kecurigaan atau hasrat untuk memenangi terlebih mencurangi.

Setiap kali tamu berpamitan, ungkapannya satu, “Semoga kelak bisa datang kemari lagi.”

9. Malu kepada Nabi.

Setiap sedang mengupayakan sebuah hajat, dikawallah hajat itu dengan ikhtiar, sekaligus doa. Doa tidak ijabah apabila tidak ikut melibatkan Nabi Saw dengan memohon syafaatnya. Ketika sebuah hajat terwujud, bukan obsesi pribadi yang ada di benak pikiran, melainkan ungkapan terima kasih dan ungkapan rasa malu kepada Nabi Saw.

10. Baharudin Lopa masa depan.

Tokoh Mandar yang dikagumi di antaranya adalah Baharudin Lopa. Kariernya cemerlang oleh integritasnya dengan teguh memegang kejujuran. Mestinya Indonesia menemukan dan memberi ruang seluas-luasnya kepada Baharudin Lopa-Baharudin Lopa baru untuk masa kini dan masa depan.

Buku Cak Nun Majalah Sabana