Bersama-sama Menghadapi Banjir

Curah hujan berintensitas cukup tinggi hari-hari terakhir ini berakibat meluapnya air di sejumlah wilayah. Di antaranya di Kabupaten Madiun, Ngawi, Ponorogo, Blitar, dan kota-kota sekitar. Rutinitas kegiatan sehari-hari menjadi sedikit terhambat. Sejumlah sekolah diliburkan, begitu pula dengan perkantoran. Aktivitas ekonomi sejenak berhenti, karena semua terfokus pada proses evakuasi.

Di tengah konsentrasi bersama Teater Perdikan untuk pementasan Sengkuni2019 di Balai Pemuda, Surabaya, Mbah Nun update dengan kondisi terkini di beberapa kota yang terdampak banjir tersebut. Kepada Jamaah Maiyah, Mbah Nun menyampaikan pesan:

Semua dan setiap Jamaah Maiyah di sekitar wilayah Madiun, Ngawi, Ponorogo, Blitar serta di manapun berada, selalu siap bershadaqah pertolongan, pelayanan, evakuasi serta apapun, sejauh mampu melakukannya kepada masyarakat yang mengalami ujian alam atau sosial. Sebagaimana semua masyarakat yang menghamba kepada Allah juga selalu siap menolong kita kapan dibutuhkan.” Mbah Nun, Surabaya, 7 Maret 2019.

Beberapa penggiat Simpul Maiyah di kota-kota yang mengalami Banjir pun saling mengabarkan situasi terbaru di wilayah masing-masing. Di kawasan banjir tersebut, mereka terlibat langsung ke lokasi untuk membantu proses evakuasi dan penyaluran bantuan yang dibutuhkan. 

Di antaranya, bisa kita pantau aktivitas Jamaah Maiyah Waro` Kaprawiran di Madiun. Rendra dan kawan-kawan datang langsung ke lokasi untuk membantu Tim BPBD Madiun dalam melakukan proses evakuasi korban banjir di Balerejo. SMK Nusantara yang beberapa kali menjadi tempat penyelenggaraan Maiyahan Waro` Kaprawiran menjadi salah satu posko penanggulangan banjir dan dapur umum. Dengan inisiatif sendiri, beberapa jamaah Maiyah di area Madiun melakukan apa saja yang memang harus segera dilakukan, mulai dari mengatur lalu lintas kendaraan, menyiapkan tempat untuk posko evakuasi dan tempat pengungsian, hingga mengumpulkan donasi buat membeli kebutuhan-kebutuhan yang sangat urgen, seperti terpal, selimut, dan sejumlah bahan makanan untuk konsumsi.

Di Madiun, banjir di Balerejo sendiri bisa dikatakan yang paling besar. Dari beberapa informasi yang terhimpun, tinggi genangan banjir sudah mencapai 70 cm. Sementara itu, di Ponorogo, rumah teman-teman jamaah Maiyah juga terkena banjir termasuk studio Gamelan Kiai Iket Udeng. Begitu juga dengan beberapa daerah di Ngawi.

Sementara itu, dari Tuban, rekan Junaidi mengabarkan daerah terkena banjir ada di Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak. Para penggiat Simpul Maiyah Jimat Tuban membantu warga dalam proses evakuasi. Dan ketika banjir surut, mereka bersama masyarakat membersihkan lumpur yang cukup tebal yang ada di Masjid, Musholla, dan beberapa sekolah. Situasi ini menyebabkan beberapa sekolah terpaksa harus diliburkan.

Dalam menjalankan poses evakuasi, para penggiat Simpul Maiyah Jimat Tuban berkoordinasi dengan pihak Kecamatan, Pemerintah Kabupaten Tuban dan juga BPBD Tuban. Di wilayah Tuban ini, jebolnya salah satu tanggul menjadi penyebab meluapnya air ke area pemukiman warga.

Adapun dari Blitar, rekan Humaidi  menginformasikan, banjir di wilayah Kecamatan Sutojayan sudah mulai surut. Aktivitas warga pun sudah kembali berjalan normal. Begitu juga dengan aktivitas perkantoran dan sekolah, sudah berjalan seperti biasanya. Beberapa warga masih terlihat membersihkan sisa-sisa banjir di rumah mereka. Beberapa titik masih ada genangan lumpur, di jalan-jalan utama dan juga beberapa  halaman rumah masyarakat.

Dari informasi yang terkumpul, salah satu penyebab banjir di Blitar kali ini adalah akibat penebangan liar di gunung wilayah selatan Blitar dan juga ambrolnya tanggul sungai di Desa Bacem, Sutojayan. Pagi ini diinformasikan, alhamdulillah lokasi pengungsian di SDN Sutojayan 2 dan SDN Sutojayan 3, dan juga di Balai Desa Gondanglegi sudah ditinggalkan pengungsi. Tim Gabungan POLRES Blitar dan TAGANA sudah mulai membongkar tenda darurat di lokasi pengungsian. (Fahmi Agustian)

Buku Cak Nun