Tiupan Seruling yang Menyentuh Hati

Di belakang stage, panggung agak tinggi untuk para penampil Jakarta Night Religious Festival, Monas, 14 Oktober 2013, Pak Ismawarto diseret seseorang beperawakan bule, agak menjauh dari kawan-kawan personel KiaiKanjeng. Beberapa kawannya memperhatikan dengan penuh heran, beberapa yang lain acuh tak acuh.

Pak Is, peniup suling bambu KiaiKanjeng, atau personel yang lain, diam-diam banyak juga yang mengagumi. Ulah para fans kadang aneh-aneh dan lucu. Rata-rata hanya minta foto bersama dengan berbagai gaya, atau sekadar memberikan sesuatu hadiah sebagai ungkapan kasih dan sayang terhadap kehebatan mereka memainkan alat musik. Tapi, ini kok orang bule?

Tak lama Pak Is balik dan bercerita bahwa yang mengajaknya ke belakang adalah salah satu personel Grup Musik Debu (para pemusik bule dari Amerika Serikat, yang kini menetap di Indonesia dan menjadi WNI), bernama Saleem, yang sama-sama peniup suling. Si Saleem ini selain mengagumi tiupan seruling Pak Is, juga sangat menginginkan suling-suling koleksinya.

Beberapa tahun sebelumnya, mereka sudah saling mengenal, satu set koleksi suling Pak Is berpindah tangan ke Saleem. Momentum tadi, Saleem meminta maaf kepada Pak Is karena baru bisa menebus suling Pak Is yang dulu dibawanya.

“Oo nyaur utang?” seolah koor kawan-kawan KiaiKanjeng menyahut cerita Pak Is.

Pak Is bukan hanya piawai meniup alat musik seruling, tapi juga mampu menabuh kendang atau ketipung dan memetik gitar mandolin. Pak Is dulunya ikut grup musik dangdut (dulu dikenal sebagai Orkes Melayu). Tiga alat musik tadi; kendang, suling dan mandolin adalah “nyawa” dari musik dangdut. Tanpa ketiga alat musik tersebut, musik dangdut menjadi hambar, terdengar menjadi “musik pop”. Atau menjadi genre lain.

Semula di KiaiKanjeng tak ada tiupan sulingnya. Kebutuhan bunyi-bunyian suling bambu diganti dengan flute, sama-sama alat musik tiup yang terbuat dari logam atau kayu. Namun, kebutuhan musikal KiaiKanjeng untuk lagu-lagu bergenre arabic dan melayu menjadikan alat musik tiup suling menjadi penting, karena alat tiup flute tidak mampu secara maksimal memenuhi kebutuhan itu.

Adalah Pak Toto Rahardjo yang “menemukan” Pak Is di helatan pertunjukan-pertunjukan musik dangdut di Yogyakarta. Pak Toto “menyodorkan” kehebatan Pak Is ke hadapan kawan-kawan personel KiaiKanjeng, lalu diajak ke beberapa acara, sehingga akhirnya menjadi pemusik tetap di KiaiKanjeng.

Dalam pentas-pentas KiaiKanjeng, Pak Is membawa puluhan alat musik suling, berbagai ukuran. Jika peniup suling lain saat membutuhkan alat musik baru akan memburu para pembuat suling atau mendatangi toko alat musik, tidak demikian halnya dengan Pak Is. Pak Is memproduksi sendiri suling-sulingnya. Dengan tangan terampilnya, ia mampu memilih dan memilah bambu wuluh untuk dijadikan suling. Tetumbuhan bambu wuluh yang kualitasnya bagus agak susah dicari, hanya di tempat-tempat tertentu yang masih ada. Di Imogiri misalnya, untuk wilayah Yogyakarta.

Dalam suatu kesempatan Pak Is berujar, “Ada kebutuhan untuk tiupan yang bersifat melodis, sapuan, dan filler. Juga ada kebutuhan untuk tidak fals. Tetapi yang terpenting adalah bukan sekadar tidak fals, tapi bagaimana bermain dengan hati, menyentuh hati, dan menghadirkan nuansa yang pas dan enak.”

Pagi ini, kembali saya terhenyak kaget. Dikabarkan Pak Is dipanggil Allah setelah beberapa hari menderita sakit. Duka bagi Keluarga Besar KiaiKanjeng dan Jamaah Maiyah Nusantara, salah satu personel pentingnya meninggalkan, setelah beberapa tahun sebelumnya vokalis utamanya, Zainul Arifin, juga dipanggil Allah.

Acara Kenduri Cinta, 12 Januari 2018, Pak Is masih tampil bersama KiaiKanjeng, sebagai penampilan terakhir untuk acara di Jakarta. Beberapa tempat berikutnya, acara maiyahan, Pak Is hanya beberapa kali ikut bersama KiaiKanjeng, lalu tak kuat lagi karena sakit, KiaiKanjeng beracara tanpa kehadiran Pak Is. Dan kini, untuk selamanya.

Selamat jalan Pak Is. Tiupan serulingmu terkadang menyayat hati yang luka, di kesempatan lain sangat melodius merambah semesta, mencakrawala, menyapu ribuan kuping-kuping penghibur kalbu para pencinta. []

Di belakang stage, panggung agak tinggi untuk para penampil Jakarta Night Religious Festival, Monas, 14 Oktober 2013, Pak Ismawarto diseret seseorang beperawakan bule, agak menjauh dari kawan-kawan personel KiaiKanjeng. Beberapa kawannya memperhatikan dengan penuh heran, beberapa yang lain acuh tak…