Suntikan Semangat Melayani Jamaah Haji dari Cak Fuad

Di luar dugaan, sosok bersahaja itu mengunjungi kami di Madinah. Sejak awal saya memang sengaja tidak mengontak beliau, dengan asumsi beliau ke sini urusan dinas memenuhi undangan dari Kementerian Kebudayaan Kerajaan Saudi. Tetapi, yang terjadi kemudian beliau mengirim pesan WA dan menanyakan di mana posisi saya.

Suntikan Semangat Melayani

Dag dig dug, rasanya bercampur aduk antara senang dan malu karena beliau justru “bingung” untuk menemui saya. Jelas sebuah kehormatan dan energi yang luar biasa buat saya. Mendadak rasa jenuh pikiran dan capek fisik sekejap hilang!

Akhirnya, saya bertemu dengan Cak Fuad beserta Ibu Ud. Setelah saling salam, saya berinisiatif mengajak beliau ke Posko Utama Sektor Khusus di gate 20, untuk menyapa anggota-anggota tim lain.

Sektor Khusus atau yang biasa disebut Seksus Madinah ini adalah bagian dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia yang bertugas di sekitaran Masjid Nabawi untuk memantau pergerakan Jamaah haji, menyisir jamaah yang hilang, mendampingi jamaah yang kesasar, dan juga mendeteksi dini jamaah yang mengalami gangguan kesehatan serta melakukan pertolongan darurat di lapangan. Personel-personel ini bekerja 16 jam/hari alias 8 jam on-off-on di suhu lingkungan di atas 40°C. Sebuah tantangan tersendiri bagi setiap personel untuk melakukan pertolongan sambil bertahan di lingkungan yang cukup ekstrim.

Di Posko utama, Cak Fuad kemudian bersilaturahmi dengan WakaSeksus yakni Bapak Ahmad Hanafi yang kebetulan berasal dari Depok Yogyakarta. Pak Nafi, begitu biasanya beliau dipanggil, sehari-hari berdinas di Polda DIY. Tapi hari itu beliau dipercaya Pemerintah RI untuk menjadi bagian dari PPIH yang bertugas membina, melayani, dan melindungi Jamaah haji selama di tanah suci. Sebuah tanggung jawab berat.

Kehadiran Cak Fuad beserta Ibu Ud di posko utama disambut hangat, dan jelas itu menjadi motivasi bagi kami untuk lebih giat melayani para tamu Allah. Cak Fuad menyampaikan bahwa beliau ke Saudi membawa rombongan dari Indonesia berjumlah 15 orang. Mereka adalah para Dekan dan Ketua jurusan Bahasa Arab untuk menghadiri Pertemuan tentang pelestarian Bahasa Arab di Dunia, atas undangan Kerajaan Saudi.

Ada cerita unik setelahnya. Rombongan ini datang tanggal 26 Juli, dan sebenarnya sudah merencanakan untuk menunaikan haji bila memungkinkan, karena waktu wukuf adalah 20 Agustus. Tetapi ternyata kenyataan di lapangan tak semudah yang dibayangkan. Jangankan haji, untuk “sekadar” umrah saja ternyata membutuhkan perjuangan berat, terlebih di musim haji seperti ini.

Cak Fuad kemudian menunjukkan paspor/visa-nya yang bertuliskan “tidak valid untuk haji”. Sampai kemudian setelah berdialog dengan pihak KBRI di sana, mereka mengusahakan agar rombongan ini bisa berumrah. Bagaimanapun ini adalah tamu negara. Itupun tak mudah untuk menembus panitia pelaksana haji dan umrah-nya Saudi.

Akhir cerita, rombongan ini kemudian melaksanakan umrah dengan dikawal pihak Kedutaan Saudi. Dari cerita itu, Cak Fuad secara implisit “mengajak” para personel PPIH untuk bersyukur karena dipercaya untuk datang ke tanah suci, bahkan untuk membantu melayani para Jamaah haji. Itu sebuah kesempatan langka dan anugerah besar. Jelas ini merupakan nasihat dan doa bagi personel-personel PPIH untuk benar-benar memberikan yang terbaik tanpa pamrih selain berusaha ridla apapun yang diberikan Allah SWT.

Sapaan Mata Air

Pada kesempatan itu, Cak Fuad juga menyapa Temus yang ditugaskan di Seksus. Temus ini adalah Tenaga Musiman yang membantu Panitia Haji Indonesia untuk mengurusi Jamaah haji Indonesia selama di tanah suci. Temus ini kebanyakan dari kalangan mahasiswa yang kuliah di Timur Tengah dan juga orang-orang Nusantara yang sudah lama tinggal di Arab (Mukimin). Merekalah yang menjadi ujung tombak untuk mengurusi Jamaah haji. Mulai menjadi penerjemah, komunikator dengan pihak Saudi, penunjuk jalan, sopir, katering, dan sebagainya. Sungguh orang-orang yang bekerja dalam senyap untuk bangsanya, Bangsa Indonesia.

Adalah Mbak Berty satu di antara para Temus itu. Mbak Berty ini merupakan Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Pakistan dua jurusan sekaligus (double degree). Alumni podok Gontor tiga tahun silam ini kini mendalami ilmu Islamic Studies dan Social Sciences. Sempat pada suatu seminar yang dihadiri Cak Nun, ia mendapat hadiah bukunya Cak Nun. Ia sangat bergembira ketika akhirnya tahu bahwa sosok rendah hati yang ada di hadapannya saat itu adalah Cak Fuad, seorang ahli Bahasa Arab dan Tafsir Qur`an yang merupakan tamu Kenegaraan Arab Saudi (anggota khusus tim 9 Pelestari Bahasa Arab Dunia), alumni Gontor, juga sahabat dari Ust. Hasan (Pimpinan Pondok Gontor aaat ini), sekaligus kakak kandung dari Cak Nun. Suatu momen yang sama sekali tidak pernah dibayangkan! Sungguh sebuah momen yang luar biasa bertemu Sang Guru yang sangat rendah hati di pelataran Masjid Nabawi Madinah.

Keterampilan Mbak Berty dalam berbahasa Inggris, serta kelembutan, dan dedikasinya untuk bangsa yang membuatnya dipercaya untuk melayani keperluan-keperluan Jamaah haji.

Ada juga sosok laki-laki berparas ramping dan lincah. Temus yang biasa dipanggil Mahfudz ini merupakan mahasiswa Universitas Kairo Mesir Jurusan Syariat. Keterampilan berbahasa Arabnya menjadikan Mahfudz memiliki peran yang sangat krusial di Seksus. Mahfudz-lah yang menjadi penghubung komunikasi antara panitia haji Indonesia dengan panitia haji Saudi di Madinah.

Kehadiran dan kesediaan Cak Fuad untuk menyapa mereka-mereka ini, jelas sebuah momen yang teramat langka di dunia. Dan jangan kaget bila itu pada akhirnya memberi energi yang luar biasa hebatnya buat kami yang muda-muda di lapangan. Kerendahan hati yang teramat sulit ditandingi! Bukannya kita yang muda-muda tanpa prestasi yang mendatangi beliau, justru Cak Fuad yang proaktif mengetuk pintu hati kita dan menyapa kita.

Pada momen ini pula kami memahami bahwa beliau lebih dari sekadar Mata air (Marja’) yang biasa tersembunyi di antara celah bebatuan. Beliau sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi sungai nan jernih, bahkan Samudera yang sanggup menyejukkan dunia.

Pak Nafi, Mbak Berty, Mahfudz, dan Temus-Temus lainnya, semoga suatu saat diperjalankan kembali untuk turut merasakan segarnya mata air yang jernih ini kembali. Tak ada pertemuan yang sia-sia, dan tiada pertemuan yang diberikan tanpa suatu alasan. Bisa jadi, ini adalah awal bagi mereka untuk turut melingkar dan saling berbagi di kitaran “sumur-sumur” negeri Maiyah kita.

“Ya Allah, ampuni kedurhakaan kami. Ke mana lagi kami sembunyi, selain kepada tidak terbatasnya kasih sayang-Mu.”

Buku Cak Nun