Sinau Bareng, Tamansiswa, dan Bimbo

Liputan Singkat Sinau Bareng Tamansiswa Nanggulan, 1 Juli 2018

Panitia acara tentu bukan tertukar antara Mbah Nun dengan Sam Bimbo, sehingga di lokasi Sinau Bareng pada 1 Juli 2018 M ini lagu-lagu Bimbo mendominasi.

Kita keluar dari jalan beraspal modern, melewati jalan yang sunyi, cukup panjang dan lurus mustaqim dengan diiringi persawahan di kiri-kanan jalan. Sawah sedang tidak hijau, tampak baru saja dipanen namun hijau atau kuning ada indahnya sendiri.

Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng kali ini diadakan dalam rangka puncak acara Gelar Budaya ke XI SMP-SMK Perguruan Tamansiswa Nanggulan Kulonprogo DIY.

Tamansiswa, sebuah nama yang berjasa besar bagi pendidikan negeri ini dengan konsep pendidikan yang otentik, “taman-tanam” yang dielaborasi oleh Ki Hadjar Dewantara.

Tampak masyarakat sekitar terlibat betul dalam persiapan acara, jalan-jalan dimeriahkan dengan penerangan lampu neon. Jajanan semarak. Bapak-ibu guru berseragam putih-hitam sumringah menyambut tamu-tamu. Salaman juga tidak basa-basi formal belaka, ada sapaan.

“Saking pundi Mas?”

“Jogja, Kaliurang Pak”

“Alhamdulillaaahh… Kaliurang, kaliurang”

Saya sempat kaget juga, kenapa Kaliurang terus Alhamdulillah? Mungkin ini ekspresi kebahagiaan saja dari panitia. Tamansiswa dan Sinau Bareng punya titik temu gelombangnya, entah bagaimana historis atau sosio-kulturalnya. Tapi saya merasa seperti itu.

Lihat itu, di panggung gambar wajah Mbah Nun tersenyum, tidak mengenakan peci bersanding dengan gambar Ki Hadjar Dewantara. Memang ada sisi kemiripannya dengan Sam Bimbo sih ya?

“Aisyah adinda kita… Aisyah adinda kita…”

Nah itu lagu Bimbo masih berkumandang. Rasanya seperti dihempas kembali ke tahun 90-an. Ruang dan waktu kita tampung dalam Maiyah. Ketua Panitia membacakan susunan acara, dua gadis murid Tamansiwa membacakan Surah Arrohman. Sambutan dari perwakilan Tamansiswa, dengan kromo Mataraman perlu di-translate-kan oleh istri saya yang baru saja melahap mie ayam karena setelah makan malam tadi malah mual dan muntah.

KiaiKanjeng telah berada di panggung, mengajak hadirin bersholawat dengan menggali sholawatan yang akrab di telinga para penduduk. Beginilah pelayanan musikal KiaiKanjeng.

Saya pamit dulu, menikmati berlangsungnya kemesraan demi kemesraan. Laporan acara akan menyusul sesegera yang saya bisa. (MZ Fadil)