Sinau Bareng Jawaban Keamanan Untuk Dunia

Liputan Singkat Sinau Bareng Polres Madiun, Lapangan Tribrata Polres Madiun 11 Mei 2018

Seorang kolega sedang studi S3 di Amsterdam dan menyusun disertasi bertema keamanan. Ia menstudi pergerakan Maiyah yang dia masukkan sebagai non-state security actor. Ialah aktor non negara yang berperan bagi terciptanya keamanan di dalam masyarakat tetapi tidak melalui cara-cara pengamanan pada umumnya, termasuk pendekatan militer. Lalu dengan cara apa?

Itu yang sebaiknya kita pelajari, teman-teman, sembari kita tambahi sejumlah pertanyaan misalnya tentang mengapa belakangan cukup sering berbagai satuan dan lapisan kepolisian RI mengundang Mbah Nun dan KiaiKanjeng, seperti malam ini di Lapangan Tribrata Polres Madiun. Sebelumnya awal bulan ini di Polres Wonogiri, dan lusa di Polda Jateng. Belum lagi yang sebelum-sebelumnya.

Di acara-acara itu, Mbah Nun mesti dihadapkan pada tugas membantu menjawab pertanyaan seputar soal yang selama ini jadi bahan pertengkaran atau konflik. Sebut saja di antaranya soal pemertentangan antara Pancasila dengan agama, politik global, radikalisme, intoleransi, hingga detail-detail di masyarakat yang potensial merusak kerukunan.

Saya memang lalu jadi ingat bahwa perkara keamanan ini adalah soal global dilihat dari sudut Hubungan Internasional. Itulah global security yang menjadi fokus kajian dan perhatian banyak pihak di tingkat dunia. Bicara geopolitik internasional suatu kawasan, pasti bicara ihwal keamanan. Konflik atau perang yang meletus di satu kawasan itu contoh gamblang bahwa security sedang absen di wilayah itu. Tanpa keamanan atau stabilitas, pembangunan sebuah bangsa atau negara jadi terkendala.

Kawan yang sedang studi untuk disertasinya mengatakan bahwa yang dilakukan Mbah Nun dan KiaiKanjeng melalui Sinau Bareng ini adalah menciptakan keamanan melalui membenahi dan membekali cara pikir manusia. Ndandani manusiannya. Meluaskan pikirannya, menjembarkan hatinya. Di sisi ini terdapat satu logika, bahwa ketidakamanan dalam berbagai aksentuasi wujudnya apakah itu intolerasi, kriminalitas, maupun kejahatan lainnya, adalah akibat dari ketidakutuhan dan ketidaklegaan satu sama lain di antara sesama manusia.

Malam ini di atas panggung, Mbah Nun menemani Polres Madiun yang tengah punya hajat Sinau Bareng dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan, HUT Bhayangkara ke-72, Pilkada serentak 2018 yang akan segera berlangsung, di mana harapannya lewat Sinau Bareng ini masyarakat bisa bareng-bareng makin menciptakan situasi harmonis dan aman. Seluruh pemuka masyarakat dari Forkompinda Kabupaten Madiun, Bapak-Bapak perwakilan NU, Muhammadiyah, MUI, maupun lapisan lain dalam masyarakat. Semuanya dalam panduan Mbah Nun menyampaikan refleksi-refleksi yang sejuk.

Mbah Nun sendiri mengemukakan bahwa upaya untuk menjaga kebhinekaan, keharmonisan, maupun kebersamaan harus ditempuh melalui tiga jalur: akal, hati, dan persentuhan-persentuhan budaya. Malam ini ketiganya telah dilakukan hadir acara Sinau Bareng ini. Ya sejumlah pokok pemahaman ilmu tentang keamanan, upaya doa dan zikir kepada Allah, serta pembangunan ketersambungan rasa melalui interkasi dan musik.

Kalau kolega yang saya maksud itu hadir malam ini, saya kira dia akan mendapatkan tambahan pengalaman langsung menyaksikan bagaimana Mbah Nun dan KiaiKanjeng turut menemani kepolisian untuk menciptakan situasi yang aman di dalam masyarakat. Temanya mungkin spesifik kabupaten, tetapi substansi dan bobot dari Sinau Bareng ini adalah global alias dunia. Dan setiap Sinau Bareng seperti anda bisa rasakan dan amati langsung selalu mengandung muatan dan praktik security.

Satu lagi, Mbah Nun sempat sampaikan kepada Pak Kapolres satu sumbangan dari Maiyah yang berkait dengan keamanan ini adalah telah diluncurkannya kepada masyarakat sebuah aplikasi bernama Opinium yang dirintis teman-teman Maiyah dan Mas Sabrang MDP. Aplikasi ditujukan untuk menangkal informasi hoax bisa memicu konflik dan permusuhan di dalam masyarakat. Lewat aplikasi ini, masyarakat diajak untuk saling meng-cross check setiap informasi yang meragukan atau masih perlu dicari kebenarannya yang beredar di masyarakat. Setiap informasi disikapi dengan iktikad baik mencari akurasi dan kebenaran.

Saya kira benar kata Mbah Nun, karena selama ini memang demikian yang diupayakan Mbah Nun, bahwa acara Sinau Bareng seperti ini adalah pertahanan terbaik, karena sipil-militer dan berbagai kalangan semuanya bersatu. Malam ini Pak Kapolres AKBP I Made Agus P yang notabene beliau seorang Hindu bersama ragam elemen masyarakat Kabupaten Madiun merasakan langsung kebersatuan itu. (hm)