Semesta Raya Cinta di Bumi Pasundan

Catatan Ngaji Bareng Cak Nun di UIN SGD Bandung, 3 November 2018

Segala sesuatu itu gampang dimulai, kecuali cinta” –Emha Ainun Nadjib

Kutipan di atas adalah sebuah kalimat pembuka dalam tulisan “Sang Penyulut Api Cinta” yang ditulis oleh Mbah Nun. Sudah dua decade lebih tulisan itu terbit, tentu saja generasi milenial hari ini akan sulit menemukan arsip tulisan tersebut. Secanggih-canggihnya mesin pencari google, ternyata tidak ada jejak digital tulisan tersebut. Tulisan tersebut ada benang merahnya dengan tulisan Mbah Nun yang lain “Terminal Cinta Terakhir”. Nah, untuk tulisan kedua ini, mungkin jejak digitalnya masih mudah dilacak, apalagi buku “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kyai” sudah dicetak ulang, dan tulisan itu ada di buku tersebut.

Ada satu kata kunci yang mencolok dari dua tulisan itu; Cinta. Kata kunci yang juga menjadi tema utama Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan Syeikh Nursamad Kamba di Aula Abjan Solaeman UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Sabtu 3 November 2018. Sangat anti mainstream sekali, di malam minggu, muda-mudi di Bandung ada yang memilih untuk menghabiskan akhir pekan untuk Sinau Bareng.

Sebagai catatan, dalam tiga tahun berturut-turtut mahasiswa yang tergabung dalam CSSMORA (Community is Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Gunung Djati, Bandung menyelenggarakan Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan Syeikh Nursamad Kamba.

Kenapa kok Mbah Nun yang diundang untuk membahas tema ini? Bukankah Mbah Nun sama sekali tidak mewakili generasi milenial hari ini? Jika kita menggunakan istilah yang digunakan untuk menendakan perbedaan generasi, Mbah Nun termasuk dalam Generasi X, yaitu mereka yang lahir pada kisaran tahun 1940-an hingga 1960-an. Sangat jauh tentunya jarak yang membentang jika kemudian dibandingkan dengan Generasi Milenial hari ini.

Syeikh Nursamad Kamba, dalam beberapa kesempatan di Maiyahan menegaskan bahwa Maiyah adalah hidayah dari Allah untuk Indonesia. Mungkin ini salah satu bukti dari apa yang diungkapkan Syeikh Kamba tersebut. Betapa nilai-nilai Maiyah mampu menelusup hingga ke ruang hati yang terdalam ke semua generasi. Entah mereka tersambung dengan Maiyah melalui spektrum yang mana, namun kita pun mendapati sebuah fakta bahwa banyak sekali Generasi Milenial yang akhir-akhir ini memenuhi Maiyahan di mana-mana. Berkaca pada fakta ini, tidak mengherankan jika pada akhirnya para mahasiswa di UIN Sunan Gunung Djati menyelenggarakan Sinau Bareng dengan tema yang kekinian.

Menjelang pukul Sembilan malam, Mbah Nun tiba di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kedatangan Mbah Nun disambut dengan lantunan sholawat badar yang diiringi oleh kelompok hadroh mahasiswa kampus ini. Begitu Mbah Nun dan Syeikh Kamba naik ke panggung, sontak mahasiswa yang sudah memenuhi Aula Abjan Solaeman bergemuruh, tepuk tangan membahana, menyambut sosok yang mereka nantikan kehadirannya malam itu.

Syeikh Nursamad Kamba sendiri bukanlah sosok yang asing di kampus ini. Syeikh Kamba adalah Dosen pengampu mata kuliah Tasawuf pada jurusan Tasawuf Psikoterapi di Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung ini. Bagi mahasiswa yang hadir malam itu, wajah Syeikh Kamba bukanlah wajah yang asing tentunya.

“Pernahkah kita bertanya, seperti apa bentuk hubungan antara Rasulullah Saw dengan para sahabatnya?”, sebuah pertanyaan awal yang disampaikan oleh Syeikh Kamba dilontarkan. Lho, belum apa-apa kok pertanyaannya sudah sangat berat? Baru saja Maiyahan dimulai, tetapi mahasiswa di Aula Abjan Solaeman sudah langsung diajak berpikir oleh Syeikh Kamba dengan bahasan yang cukup berat. Pertanyaan itu mengantarkan pada sebuah kesimpulan bahwa pendekatan yang digunakan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabat adalah pendekatan yang berlandaskan atas dasar cinta.