Seduluran Mengobati Sifat Kita yang Gampang Baperan

Liputan Sinau Bareng CNKK dan BKKBN, Grobogan, 6 November 2018

Bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berkeliling ke lima daerah untuk Binau Bareng bertemakan keluarga. Semalam, 6 November 2018, di Gubug Grobogan adalah perjalanan ketiga setelah sebelumya di Sidoarjo dan Sukoharjo. Dua tempat lagi akan menyusul, yaitu di Ponorogo dan di Surabaya.

Tentu kita tahu acara Sinau Bareng bab keluarga tidak diperuntukan bagi yang sudah berkeluarga saja. Sebab, di dalam pemahaman Maiyah definisi keluarga bermakna luas dan bersifat luwes. Keluarga tidak lagi diartikan bapak, ibu, dan anak. Keluarga tidak melulu berpatokan pada keturunan biologis. Keluarga bisa lahir dari keadaan pertemanan yang sudah intim atau kemudahan kita berbaur dengan satu sama lain. Pengertian yang terakhir ini tampaknya menjawab mengapa kita sering menggambarkan bahwa proses belajar yang hikmat dan nikmat itu “yang bersuasana kekeluargaan”.

Kita bisa rasakan pula pada setiap Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng  suasana kental dengan aura kekeluargaan. Jamaah bisa sangat mudah, tanpa diperintah, berbagi alas duduk atau kopi. Atau, juga bisa dengan sangat mudah saling menawarkan rokok dan tidak sungkan meminjam dan meminjami korek api. Suasana kekeluargaan bertambah hangat kala Mbah Nun tampil di atas panggung. Semua jamaah bisa tertawa bersama dan gembira bareng-bareng. Meskipun hasil tertawa itu disebabkan retorika Mbah Nun yang menyindir nasib kejombloan mereka, apesnya pekerjaan mereka, dan amburadulnya perkuliahan mereka.

“Seduluran dhisik, nembe ngomong bebas,” kata Mbah Nun mengingatkan. Kalimat ini menekankan bahwa mengapa jamaah yang hadir tidak marah atau sakit hati jika Mbah Nun menyindir nasibnya. Itu karena, menurut Mbah Nun, kita sudah terlalu mesra, kita sudah seperti saudara, kita sudah seperti satu keluarga. Jadi bisa ngomong bebas.

“Dadi nek kiro-kiro aku ngomog “tampang Gubug” kowe nesu po rak? Aku bakal bok demo po rak?,”tanya Mbah Nun.

“Orak!” kata jamaah serentak menjawab.

“Itu karena aku wis seduluran karo Gubug. I love you full Gubug.”

Bangun dulu suasana kekeluargaan baru bisa bebas ngomong apa saja dengan satu sama lain.

Hari- hari ini yang terjadi adalah kita tidak saling kenal tapi sok akrab, tidak mau membangun rasa paseduluran tapi merasa saudara lama, belum dianggap keluarga tapi sudah mengomentari hal-hal sensitif satu sama lain. Kalau cara-cara demikian terus diterapkan. Maka masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang baperan. Gampang sakit hati, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit lapor.

Malam itu warga Gubug yang belum tentu mengenal satu sama lain dengan orang yang duduk di samping kiri-kanan, depan-belakang, dikeluargakan oleh Mbah Nun. Mereka semua dianggap sudah saling mengenal satu sama lain. Suasana Sinau Bareng yang erat dengan suasana kekeluargaan mendukung hal itu terjadi. Maka setelah terciptanya suasana sedemmikan mesra, apa yang dibicarakan nanti tidak akan menimbulkan gesekan-gesekan yang disebabkan oleh guyonan.

Seperti yang dikatakan Mbah Nun di awal tadi: seduluran sek, nembe ngomong bebas.