Ruang Rindu Para “Tholibul ‘Ilmi”

Liputan Sinau Bareng CNKK di MAN 1 Magelang, 5 Desember 2018

Temaram langit nampak kelabu menjelang acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di MAN 1 Karet Magelang. Pada waktu isya’ para undangan dari siswa beserta orang tuanya sudah memadati tempat yang diselenggarakan oleh panitia. Tak kurang para jamaah setia Maiyah sudah pasti bersila rapi di barisan terdepan. Walaupun lapangan becek, namun tak mengurangi antusiasme seluruh hadirin untuk mengikuti proses sinau bareng.

Acara dimulai ditandai dengan qira’ah surat Al-Azhab oleh salah satu siswi MAN, Bothok Rahayu. Suara merdunya seolah mengetuk pintu langit untuk menaburkan khazanah ilmunya dan memanggil-manggil para pengunjung untuk segera merapat. Setelah itu, pentas seni tari dari Asmarandhana menampilkan pesonanya bak kemerlip cahaya yang menambah kemilau panggung.

Setelah pentas seni tari selesai, halaman pertunjukan tersebut nampak seperti santapan yang lezat bagi para pencari ilmu atau yang ingin lebih dekat dengan panggung, terutama Mbah Nun. Para siswa maupun siswi berlarian menuju tempat tersebut, sekilas tak ubahnya ‘wall of death’ dalam pertunjukan musik metal. Walaupun tujuannya bukan bertubrukan dan hanya berebut tempat paling depan. Namun sekilas, terlihat asyik melihat antusiasme dari adek-adek MAN 1 Magelang.

Tak ayal kota ini disebut sebagai kota sejuta bunga, keindahan para wanita berjilbab seperti sihiran bagi para kaum Adam untuk menyegarkan kepenatan dari rutinitas harian pekerjaan masing-masing. Sebuah potensi terutama bagi para jomblowan yang diam-diam tersembunyi niat untuk memperbesar peluang mereka mendapatkan pasangan. Dengan catatan punya keberanian mental untuk sekadar menyapa dan berbasa-basi.

Suasana semakin ramai menjelang pukul 20.00, padahal masih sebatas pra acara. Ini membuktikan rumusan mengapa langit selalu terucap terlebih dahulu diikuti dengan bumi di seluruh hamparan literasi Al-Qur`an. Setidaknya di sini, ketukan langit pada awal acara tadi seakan meminta curahan ilmunya dari langit, untuk menabur kasih sayang ilmunya demi penghidupan yang lebih bermanfaat di hamparan bumi yang begitu luas.

Mas Doni, Mas Imam, dan Mas Islamiyanto mulai menyapa para jamaah Maiyah yang sudah tak sabar ingin segera memulai proses sinaunya. Beberapa lagu dari Kiai Kanjeng di antaranya Yaa Thayibah, Sholli Waa Saliim, dan Marhaban menjadi pertanda awal bahwa kegiatan akan segera dimulai. Seolah memberikan getaran magisnya yang menyelaraskan sprektrum berpikir yang sangat beragam ini menuju satu frekuensi gelombang berpikir yang sama.

Mbah Nun mulai menaiki panggung beserta narasumber dan para tamu, dan langsung manyapa para jamaah dengan membaca Al-Fatihah bersama-sama. Beberapa di antaranya ada dari perwakilan Kapolres Kota maupun Kabupaten Magelang, dari Komandan Kodim, kepala MAN 1 Magelang, dan para tamu lainnya. Mbah Nun mengawali dengan membuka pintu makna dengan mengajukan pertanyaan ke para siswa tentang perjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Saat kloter Rasulullah yang dipimpin Sayyidina Abu Bakar dikejar oleh kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahl, Rasul mengalami rasa ketakutan. Pertanyaannya bagaimana jawaban Allah atas keadaan itu? Keadaan itu membuat Rasul merasa berat hati untuk meninggalkan kota Makkah, di saat para penduduk Makkah terutama kaum Quraisy mengusir beliau.

Salah seorang siswa berhasil menjawabnya, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita.“ Kejadian tersebut terekam dalam ayat surat At-Taubah 40. Pada saat kepungan zaman seperti ini, sudah semestinya kita memaknai segala permasalahan dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti bersama kita.

Sejenak seluruh peserta Sinau Bareng dimohon berdiri. Menyanyikan dua nomor lagu kebangsaan, Indonesia Raya dan Syukur. Dengan harapan tetap menjaga rasa cinta dan syukur seluruh hadirin kepada bangsa Indonesia. Karena tema malam hari ini lebih ke pendidikan karakter melalui pembelajaran bersama dan memperingati Maulid Nabi Sholallahu ’alaihi Wassalam. Maka setelah dua nomor lagu itu dilanjutkan dengan mendendangkan shalawat Nariyah dan Kado Muhammad.

Pada kesempatan awal tadi Mbah Nun menyampaikan bahwa seluruh jamaah di sini harus siap memaknai, jangan tergantung sama guru ataupun ustadz, sehingga mempunyai keluasan cakrawala yang diharapkan bermanfaat bagi dirinya sendiri, agar mulai bisa belajar berdaulat dengan mulai dari dirinya sendiri hingga benar-benar siap untuk menjadi manusia.

“Sekolah kui ora segala-galanya!“ sepenggal kalimat Mbah Nun tersebut disambut tepuk tangan meriah oleh para jamaah, terutama dari para siswa-siswi itu sendiri. Ini membuktikan setidaknya para siswa mulai mempunyai kesadaran untuk tidak hanya tergantung kepada sekolah dalam hal mencari ilmu. Seperti kata Mbah Nun setelah itu, “Di manapun kamu harus bisa belajar!” Karena, sejatinya proses belajar itu tidak terikat hanya pada lingkungan fomalitas pendidikan.

Jadi belajar itu sendiri sangat penting. Belajar bukan hanya sebatas mengingat. Belajar adalah proses mengalami setiap keadaan dan memaknainya. Hingga akhirnya proses belajar itu mengubah tingkah laku individu terhadap lingkungannya, yang akhirnya dirinya sendiri yang akan memilih akan nandur kebaikan atau yang lain.

Tholabul ‘ilmi faridlotun ‘alaa kulli muslimin wa muslimatin, minal mahdi ilal-lahdi”. Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim/muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat. Ilmu itu sendiri tidak akan menjadi apa-apa tanpa diamalkan. Menjadikan setiap insan mempunyai kapasitas sebagai ruang yang menampung segala permasalahan dan menyikapinya secara bijak. Hingga menciptakan ruang rindu bagi para penuntut ilmu.

Buku Cak Nun