Remaja-Remaja Teater Flamboyant Mandar

Catatan Perjalanan Manaraturrahmah, 10 April 2018

Sewaktu Mbah Nun dan KiaiKanjeng tengah memasuki lapangan Stadion Prasamya Majene, di atas panggung sedang berlangsung persembahan musik dari Teater Flamboyant. Orang-orang dan jamaah yang sudah duduk lesehan di atas rumput dan beratap terop yang cukup bagus itu mendapatkan sajian menarik (dan membanggakan) dari remaja-remaja yang dalam pandangan saya spesial ini. 

Tidak tahu persis saya berapa nomor mereka hadirkan dalam mengawali Sinau Bareng malam itu, tetapi ketika Mbah Nun sudah di atas panggung bersama sejumlah tokoh masyarakat, satu nomor mereka bawakan, yakni lagu yang terilhami dari salah satu puisi Mbah Nun. “Sudah hampir ngalahin KiaiKanjeng ini anak-anak…,” puji Mbah Nun atas penampilan mereka. 

Ngomongin Mbah Nun dan Mandar memang tak terlepas dari nama Teater Flamboyant. Sebuah wadah yang usianya mungkin sudah mencapai angka empat puluh tahun, dan itu menimbulkan tanda tanya bagi banyak orang: kok bisa sampai selanggeng itu? Kok bisa berlangsung terus-menerus regenerasinya? Apa pengikat yang mempertalikan keutuhan dan keistiqamahan mereka?

Remaja-remaja yang sebentar lagi menapak masa dewasa itu sendiri adalah anak-anak para generasi awal Teater Flamboyant. Sebut saja misalnya anaknya Hamzah Ismail, Tamallele, Hardi, dan lain-lain. Mereka adalah pelanjut nilai-nilai yang baik yang mereka serap dari orang-orang tua mereka. Dari orangtua merekalah, nama Mbah Nun mereka kenal.

Dari pojok panggung saya mendapatkan salah satu jawaban atas pertanyaan itu. Saya duduk beberapa saat di samping salah seorang anggota Teater Flamboyant yang sudah bapak-bapak, artinya senior jauh di atas adik-adik yang sedang di atas panggung. Dia bercerita tentang pertanyaan mengenai Teater Flamboyant tadi. 

Bagi dia, jawabannya adalah karena komunitas ini mengaitkan dan meletakkan diri di dalam lingkaran Mbah Nun. Melalui perjalanan sejarahnya sejak awal, Teater Flamboyant menempatkan Mbah Nun tak hanya sebagai kakak dan mentor kebudayaan, melainkan sebagai guru mereka. Apa-apa yang mereka alami, mereka carikan referensinya kepada Mbah Nun. Mereka minta masukan dan bimbingan dari Mbah Nun. Semua itu seturut dengan peran Mbah Nun dalam sejumlah tema di Mandar itu sendiri. 

Lalu dia mengatakan, “Dengan ikut Mbah Nun, hidup saya pun jadi tidak susah-susah amat. Bayangkanlah. Dulu kami ini preman dan suka mabuk-mabukkan.” Hal yang mengafirmasi apa yang dikatakan Bang Hamzah Ismail dalam salah satu tulisannya. Sejak mengenal Mbah Nun dan aktif di Teater Flamboyant, perubahan-perubahan pandangan terhadap hidup terjadi secara mendasar. 

Kita jadi sedikit mengerti bahwa apa yang pertama-tama terjadi bukanlah kesenian atau teater, melainkan tumbuhnya kesadaran dalam diri masing-masing eksponen Teater Flamboyan generasi awal dulu bahwa hidup harus dijalani dengan cara yang benar, baik, dan indah. Dalam cara yang smoth, Mbah Nun mengatmosferkan kesadaran itu. Mereka diajak melihat bahwa ada dunia yang lebih luas dan baik dari sekadar yang mereka alami. 

Jadilah Teater Flamboyant sebagai wahana untuk melatih mereka mengekspresikan potensi kebaikan dan keindahan yang sebenarnya telah mereka miliki tapi belum terolah sedemikian rupa. Bahasa sekarang, Mbah Nun dan Alisjahbana dulu mengajak mereka senang melakukan yang Allah juga senang. Berteater, bermusik, berorganisasi, berkiprah di tengah masyarakat adalah fenomena-nya, tetapi nomena di baliknya adalah individu-individu yang telah mengalami kelahiran kembali. 

Itulah tampaknya yang menjadikan komunitas ini awet dalam mengarungi sejarah keberadaan dan maknanya dengan berbagai dinamika yang dialaminya. Keawetan yang agaknya jarang kita jumpai pada kelompok-kelompok teater pada umumnya. Apalagi jika kita masih memakai anggapan adanya pusat-daerah, mereka jauh berada dari pusat-pusat wacana kebudayaan, dan agak aneh bahwa di tempat yang amat jauh dari pusat itu terdapat teater seperti Flamboyant ini. Barangkali justru karena jauhnya itu, mereka memiliki ruang keunikan tersendiri. Teater Flamboyant adalah sebuah anomali atau beda di antara kelompok-kelompok teater yang ada di Indonesia. 

Dan dalam dorongan yang lebih rohaniah, mereka meletakkan Mbah Nun sebagai rujukan, teladan, dan inspirasi. Semuanya membuat hubungan mereka dengan Mbah Nun sedemikian kuatnya, sedemikian selalu menimbulkan rasa rindu untuk sering bertemu. 

Mereka para generasi awal-awal itu mewariskan kecintaan dan kerinduan itu kepada anak-anak mereka. Mereka jadikan cinta kepada Mbah Nun sebagai energi mendidik mereka. Anak-anak itu harus lebih baik dari orang-orangtua mereka. Dan dalam iklim pendidikan yang unik itu, saya melihat hal yang memang beda. Dari pojok panggung, saya memerhatikan wajah-wajah remaja Teater Flamboyant ini ketika mereka berkitar di belakang panggung, dan saya mendapati wajah-wajah mereka itu bersih, bersinar, dan berkarakter. 

Blue Lagoon, Yogyakarta, 15 April 2018

Sewaktu Mbah Nun dan KiaiKanjeng tengah memasuki lapangan Stadion Prasamya Majene, di atas panggung sedang berlangsung persembahan musik dari Teater Flamboyant. Orang-orang dan jamaah yang sudah duduk lesehan di atas rumput dan beratap terop yang cukup bagus itu mendapatkan sajian menarik (dan…