Nikmat Keseimbangan Mana Lagi yang Akan Kita Dustakan?

Catatan Ngaji Kebudayaan Polinema, 19 Januari 2018

Berangkat jam tiga sore dari Jombang, hujan turun cukup deras. Memasuki Kec. Kasembon Malang mendung menggantung bertambah pekat. Jalanan basah diguyur hujan yang tampaknya belum reda sejak siang tadi. Selain mendapat tugas mengirim Yuma, Sumber Air Mentoro, ke beberapa titik, kami bertiga akan mengikuti Kenduri Kebudayaan 2018 di Politeknik Negeri Malang (Polinema).

Hujan belum berhenti ketika saya memasuki halaman Polinema pukul 20.00 WIB. Beberapa teman menyapa. Pengajian belum dimulai. Di lapangan telah berkumpul beberapa titik jamaah. Mereka ngiyup di bawah plastik-plastik darurat. Atau tidak sedikit yang menggunakan jas hujan sekadar untuk menutupi kepala.

Saya benar-benar tercenung. Kopi panas di tangan saya menjadi hambar. Hati saya yang kecut menatap hujan yang tak kunjung reda, terbayar oleh pemandangan yang mengirimkan fadlilah–jamaah yang sembilan puluh persen anak muda itu memiliki militansi yang luar biasa.

Pukul 21.00 WIB Mbah Nun menuju panggung pengajian. Bisa dipastikan rumput dan tanah lapangan telah menjadi adonan becek. Sepatu atau sandal seperti tidak ada fungsinya. Terlihat beberapa jamaah nyeker. Kaki mereka seperti memakai kaos kaki warna cokelat, setinggi mata kaki. Ini belum apa-apa, saya membatin. Pengajian Maiyah akan disambut oleh cinta kasih para malaikat melalui berbagai situasi dan kondisi cuaca. Malam itu jamaah Maiyah dimarhabani oleh hujan, hawa dingin–serta tanah berlumpur yang lengket.

Atas semua kondisi itu, yang tidak boleh terlewatkan sedetik pun adalah bagaimana Mbah Nun menyapa kami. Apa respons dan sikap Beliau menyaksikan para anak cucu duduk merendam pantat selama berjam-jam di atas lumpur lengket?

Malam itu hujan memang tidak ingin melewatkan pembukaan acara yang bertema Tafakur Zaman untuk Menemukan Keseimbangan. Saya berdiri sambil “berteduh” di sebelah kanan panggung. Memasang telinga tajam-tajam, karena pengeras suara masih terus disetting agar optimal.

Hujan sedang meruwat kita semua, demikian Mbah Nun menyapa jamaah. Hujan melunturkan semua penyakit. Setiap tetes air hujan membawa berkah dari Allah. Hujan bukan penghalang apalagi musibah. Setiap air yang turun dari langit bukan inisiatif hujan itu sendiri. Mereka berbondong-bondong mengguyur bumi atas izin dan perkenan Allah. Saya menyaksikan wajah-wajah yang berbahagia–saya dan kami semua menjadi bagian dari adegan turunnya rahmat Allah.

Berbeda dengan model komunikasi pengajian pada umumnya, Maiyah menempuh thariqah yang lain. Dialog dua arah, kadang berlangsung pula model multi-dialog, bukan pemandangan aneh di Maiyah. Diminta naik ke panggung sepuluh jamaah, lima jamaah menempati kanan panggung, lima yang lain di sebelah kiri.

Masing-masing jamaah mencari satu kata yang akan dilacak makna denotasi dan ditemukan titik keseimbangannya. Saya mencatat beberapa kata, diantaranya: iman, mursalat, cinta, senang, logika. Mbah Nun benar-benar menukik pada kesadaran paling mendasar–hendaknya kita waspada, cermat, teliti, adil memahami kata per kata. Malam itu Mbah Nun cukup telaten menanggapi, mengurai, njlentrehno setiap kata yang ditemukan jamaah. Kata-kata itu lantas dihubungkan dengan tema keseimbangan.

“Adakah setiap kata, atau apa saja yang boleh tidak seimbang? Yang melangsungkan keselamatan tanpa keseimbangan?” tanya Mbah Nun. “Tidak ada, karena semua butuh seimbang.”

Simbolisasi ordinat sumbu X dan Y dipakai Mbah Nun untuk melengkapi pengertian keseimbangan. Seimbang adalah ketika kita berada di titik nol–pertemuan dua ordinat antara X dan Y, antara angka plus (+) dan angka minus (-). Seimbang antara kanan dan kiri, atas dan bawah.

Di tengah gerimis dan dingin yang merangkul kulit, gara-gara ordinat sumbu X dan Y, imaji-asosiasi saya berlarian kesana kemari. Ketika seseorang merasa sangat optimis melesat ke masa depan tanpa merasa perlu menengok masa lalu, sesungguhnya ia tengah terlempar jauh ke deretan angka plus yang nilainya semakin besar dan tidak terbatas. Ia melepaskan dirinya dari posisi nol untuk memuaskan keserakahan ambisi yang juga tidak memiliki batas (~).

Sebaliknya, ketika seseorang terseret arus putus asa yang melemparkannya ke masa lalu, tak ubahnya ia meniti angka minus yang tidak terbatas pula (~). Mundur ke masa lalu, tanpa memiliki kesadaran terhadap proyeksi masa depan. Ia menjadi manusia purba yang meratapi masa lalu.

Lalu, dimanakah ordinat para kekasih Allah? Sesungguhnya para kekasih Allah tidak memiliki kecemasan menatap masa depan dan tidak bersedih oleh masa lalu. Mereka berada di titik ordinat nol–seimbang di ke-kini-an dan ke-disini-an. Masa depan dibuahi oleh benih-benih masa lalu. Masa lalu diproyeksikan sebagai cakrawala masa depan.

Keseimbangan ordinat nol tidak hanya merefleksikan keseimbangan kiri dan kanan, masa lalu dan masa depan. Nol juga meletakkan diri secara seimbang antara atas dan bawah, langit dan bumi–menjadi muatan kesadaran yang benar-benar manunggal. Ringkasnya, sumbu ordinat titik nol dimuati oleh langit dan bumi, masa lalu dan masa depan. Qum fa andzir. Tegak berdiri dan memberikan peringatan di ke-kini-an dan ke-disini-an.

Muatan-muatan sumbu ordinat yang disinggung Mbah Nun adalah satu tetes diantara beribu-ribu tetes yang kita wadahi. Satu tetes itu–sumbu ordinat angka nol–bisa direfleksikan, diproyeksikan, diaplikasikan, diterapkan, pokoknya bisa dipakai apa saja. Bisa dipakai, misalnya untuk melihat Indonesia yang mengalami turbulance dahsyat, menyikapi tahun politik hingga meracik kopi nasgitel.

Malam itu, di lapangan Politeknik Negeri Malang, di tengah hujan yang mengguyur, saya bukan hanya menerima berlaksa-laksa pengertian tentang keseimbangan. Saya merasa benar-benar sedang diruwat oleh tetes-tetes hujan. Nikmat keseimbangan mana lagi yang akan saya dustakan? (Achmad Saifullah Syahid)

Berangkat jam tiga sore dari Jombang, hujan turun cukup deras. Memasuki Kec. Kasembon Malang mendung menggantung bertambah pekat. Jalanan basah diguyur…