Nandur Generasi Dauriyah, Generasi Mutahabbiina Fillah

Kamis 27 September 2018. Sebelum malam nanti Mbah Nun akan membersamai beragam lapis masyarakat dalam gelaran Sinau Bareng. Pada siang ini Mbah Nun ditemani Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan untuk menanam pohon bersama. Juga melibatkan 200 mahasiswa penggerak dan komunitas FPOTB sebagai penyelenggara. FPOTB adalah singkatan dari Forum Pemuda Ora Terhormat Blas. Para pemuda yang ngakunya ndak terhormat, tapi melakukan kegiatan yang sangat terhormat, blas!

Mbah Nun sangat mengapresiasi dan memberi hadiah berupa bekal-bekal benih keilmuan yang berguna bagi sesiapa saja yang hadir. Benih tanaman ditanam di tanah, benih ilmu dan kebijaksanaan ditanam pada hati manusia. Semua akan tumbuh subur sesuai pranatamangsanya.

Bagi Mbah Nun, tajuk acara “Cinta Sebagai Panglima” adalah ide yang merupakan ide langit mendekati sifat nubuwwah. Hal ini tentu bukan berasal dari bumi yang pada saat ini orang-orangnya sedang menjadikan militansi kelompok golongan, kebencian satu sama lain sebagai junjungan. Politik nasional makin hari makin menyumbang kepada hal tersebut. Namun kita diajak oleh Mbah Nun untuk tetap selalu optimis apalagi melihat di mana-mana generasi baru sedang tumbuh dan punya ide-ide kreatif dalam nandur kebaikan. Kata nandur sudah akrab di kalangan JM dan kali ini benar-benar secara harfiah Mbah Nun nandur benih tanaman.

Mbah Nun mengambilkan intisari dari pengalaman bersama Mabes Polri saat mengolah perpindahan aksi 212 di ibu kota dari jalan MH Thamrin ke Monas. Mbah Nun memandu dengan sejumlah logika ushul fiqih maupun pertimbangan maslahat antar umat beragama bahwa sebaiknya shalat Jum’at saat itu dilaksanakan saja di Monas. Dari pengalaman ini kita mesti belajar untuk lebih jembar, menampung semua pihak, dan bahwa siapa saja sebenarnya bisa diajak berembug.

“Hidup ini tidak hanya segaris, kita belajar lebih luas”. Polisi adalah perangkat Negara, bukan perangkat pemerintah, maka dia harus selalu pada titik yang paling imbang dan selalu lebih luas menampung semua pihak. Untuk menjadi lebih luas kita perlu belajar ilmu Nabi Yunus saaat berada dalam perut ikan yakni mengakui kedhaliman-kedhaliman kita sendiri. Dari situ, Gusti Allah semoga terketuk hatinya sehingga daur, putaran zaman yang akan memperbaiki keangkaramurkaan generasi sebelumnya disegerakan.

Tentu kita semua juga perlu nyicil, menanam benih. Pada siang ini adalah usaha yang cetha wela-wela dalam hal menandur generasi dauriyah tersebut. Manusia Nusantara merupakan makhluk yang paling andalan dalam hal persatuan, maka ketika segalanya berada pada puncak keterpecah-pecahan, generasi barupun lahirlah. Daur putaran zaman, yang akan mengutuhkan kembali apa-apa yang telah terpecah belah oleh generasi sebelumnya. Generasi yang mutahabbiina fillah. (MZ Fadil)

Buku dan Merchandise