Lita’arofu Lingkar, Sifat Nusantara Tanpa Dramatisasi Nusantaraisme

Mocopat Syafaat, 17 Juli 2018

Nusantara selama ini setahu saya, belum pernah dirumuskan dengan rumusan yang berasal dari pengalaman dan pemahaman kita sendiri. Nusantara selalu masih dikategorikan sebagai nama wilayah, kumpulan bangsa, kumpulan suku, kumpulan kerajaan atau lain sebagainya. Tidak salah, definisi dari luar juga bisa saja ada benarnya. Tapi masa iya kita tidak ikut merumuskan definisi tentang diri kita sendiri?

Setahu saya lagi, Nusantara sudah lama hilang. Kalaupun ada, ya sekadar nama dan embel-embel. Belakangan dikawin-kawinkan lagi dengan nama Islam, yang definisinya juga berasal dari era tradisi pengkitaban. Apakah Islam adalah agama sebagaimana agama dalam pemahaman kita? Pemahaman kita berasal dari mana? Jadilah makin semrawut. Sekali lagi, kapan kita ikut mewarnai definisi tentang diri kita sendiri? Padahal, dalam ayat yang terakhir turun dalam Al-Qur’an disebutkan “Kusempurnakan bagimu agamamu…”. Ada kata “Bagimu” dengan “kum” (lakum diinukum) menurut saya kok itu artinya tiap individu yang ber-Islam berhak mewarnai definisi Islam itu sendiri. Gimana kalau salah? Melenceng? Tersesat? Tidak jangkep? Well who doesn’t? Semua kita berposisi mugo-mugo mbok menowo, wang sinawang.

Sepemahaman saya yang terbatas ini, baru dalam Maiyah saya melihat bagaimana komunitas Nusantara itu sejatinya berlaku. Dia bukan saja wilayah yang memangku kumpulan kerajaan, bangsa dan suku. Tapi dia kemungkinan besar adalah konsep yang agak sulit dipahami oleh definisi kontinental, di mana terdapat banyak lingkar di dalamnya yang punya konsentrasi berbeda-beda. Sifatnya cair dan setiap orang berhak, bisa dan boleh menjadi bagian dari satu lingkar kemudian bergabung ke lingkar lain tanpa mendurhakai lingkar-lingkar yang pernah disinggahinya. Dipikir kenapa banyak suku kita mengembangkan pelayaran sebegitunya? Sedang bila untuk urusan panganan, daratannya tidak pernah kurang-kurang. Kata “intertribal” mungkin agak mendekati, tapi rasanya masih kurang sreg buat saya pribadi.

Semoga bukan kege-eran pribadi. Semoga saya bukan coba membesar-besarkan Maiyah hanya karena hasrat pribadi biar ikut besar. Karena rasanya terlalu banyak manusia sekarang membesar-besarkan komunitas, parpol, ormas, tarekat dllsb sebagai tempat bernaungnya supaya dirinya juga merasa ikut besar. Tapi saya benar-benar ingin bilang, bahwa saya rasanya menemukan ke-Nusantara-an dan ke-Islam-an dalam Maiyah, yang juga tidak perlu mendramatis-dramatiskan dengan gatukin sekadar dua namanya tapi kehilangan esensi.

Mosok Nusantara kok anti wahabi? Di mana kekuatan rangkulan dan sifat pemangkuannya kalau begitu? Tapi memang ada sisi radikal-anarkis memang manusia Nusantara ini, yang kalau martabatnya terusik bisa keluar amuk ombaknya. Rata-rata lingkar dalam rahim Nusantara punya definisi soal martabat yang sakral.

Mungkin, pada masanya dulu orang Nusantara seperti ketika Mocopat Syafaat kali ini, 17 Juli 2018 M. Mungkin mereka saling memperkenalkan lingkar masing-masing, saling mengapresiasi, mengenali sejarah dan kekhusyukan bidang masing-masing.

Malam 17 kali ini dibuka oleh Mas Helmi dan Mas Jamal yang juga membersamai beberapa lingkar yang lahir dan berkembang berdasarkan pintu-pintu pemahaman berbeda di Maiyah.

Ada Nahdlatul Muhammadiyin, yang diwakili oleh Lik Tripan. Ada Lingkar Martabat yang diwakili oleh Mas Angga. Juga ada Buletin Mocopat Syafaat yang diwakili Mas Afik dan Mbak Titis.

Terlalu banyak sekarang yang mengatasnamakan Nusantara tapi kehilangan esensi ke-Nusantara-an. Esensi yang bagaimana? Nah itu kita perlu ikut masuk ke dalamnya. Nusantara tidak baku. Dia berjalan bersama zaman. Siapapun yang memadatkannya kemungkinan besar cuma ingin menjinakkan keliaran di dalamnya.

Perkenalan-perkenalan lita’arofu antar lingkar malam ini di Mocopat Syafaat, lingkar kebersamaan, lingkar kebersenang-senangan yang disenangi Allah, lingkar kemandirian dan kedaulatan. Entah mengapa saya melihat Nusantara yang tidak dramatis-dramatisan, lahir kembali dengan wajar. Semoga, lagi-lagi semoga, ini bukan narsisme budaya. Tapi mungkin memang ada mekanisme sendiri kenapa Nusantara lahir kembali malam ini.

Sahabat saya Mas Ibnu dari lingkar Maiyah di Malang sedang ada di Yogya malam ini. Dan dengan tanpa berat hati mengidentifikasi diri menjadi jamaah Mocopat Syafaat. Saat saya di Malang, saya juga jadi bagian lingkar Maiyah ReLegi dan tidak keberatan juga jadi lingkar-lingkar lain di wilayah lain di dimensi konsentrasi bidang lain. Memilih jadi petualang lingkar juga bisa, orang Bugis mungkin sukanya begitu.

Nah itu sahabat saya, saya perlu menyambut dulu. Reportase akan saya lanjutkan setelah ini. (MZ Fadil)

Nusantara selama ini setahu saya, belum pernah dirumuskan dengan rumusan yang berasal dari pengalaman dan pemahaman kita sendiri. Nusantara selalu masih dikategorikan sebagai nama wilayah, kumpulan bangsa, kumpulan suku, kumpulan kerajaan atau lain sebagainya. Tidak salah, definisi dari luar juga…