Komunikasi Transendental “Diperjalankan” Cak Nun-KiaiKanjeng

Bahasa verbal menandai perbedaan manusia dan binatang. Kekhasan ini mewujud ke dalam komunikasi yang diekspresikan lewat sistem tanda. Binatang mengungkapkan bebunyian fonetis, sedangkan manusia mengujarkan simbol verbal. Prinsip ini sampai sekarang diyakini ilmu bahasa. Baik dari perspektif tradisional maupun modern.

Ilmu komunikasi sendiri telah menjadi disiplin otonom. Perkembangannya muncul seiring dengan kajian ilmiah di masyarakat akademik. Selama manusia menggunakan kecakapan verbalnya di ranah sosial, selama itu pula praktik komunikasi berlangsung. Kecenderungan itu kemudian menarik peneliti untuk didedah.

Manakala praktik berkomunikasi bersinggungan dengan situasi sosial, fenomena komunikasi itu mengimplikasikan situasi yang unik, menarik, dan anomali. Karena itulah ilmu komunikasi masih diminati peneliti hingga dewasa ini. Tak terkecuali tesis yang dibukukan karya Erik Setiawan bertajuk Gamelan Langit: Dialog Transendental KiaiKanjeng. Terbit tahun 2013, 201 halaman, oleh Prudent Media, Yogyakarta.

Erik menawarkan konsentrasi baru dalam telaah empirisnya karena memilih transendental sebagai titik utama. Bentuk komunikasi transendental ini acap luput diuraikan secara sistematis dan komprehensif. Ini disebabkan kerumitan epistemologis posisi transendental sebagai subjek kajian. Preferensi pelik ini ditampik Erik. Ia justru membumikan makna transendental ke dalam situasi sehari-hari.

***

Dosen Universitas Islam Bandung ini menerjemahkan komunikasi transendental sebagai sesuatu yang privat karena memposisikan Tuhan sebagai komunikan (lawan bicara). Manusia memiliki dorongan batin untuk melakukan dialektika kepada Yang Maha. Tuhan, menurut teropong Erik, bukan sekadar pihak yang menerima keluh-kesah manusia secara satu arah. Tapi Dia juga memberi pesan (balik) simbolik yang diwakilkan secara visual, penciuman, pendengaran, dan desiran intuitif.

Hubungan komunikasi antara Tuhan dan manusia berlangsung resiprokal (berbalasan). Seperti hasil penelitian Erik yang menempatkan Cak Nun dan KiaiKanjeng sebagai posisi sentral. Garis besar yang Erik temukan, antara lain, pola komunikasi transendental yang dilakukan dan dirasakan Cak Nun dan KiaiKanjeng membentuk pola segitiga cinta—Allah, Rasulullah, dan manusia berada pada tiga titik yang saling berpaut. Erik mencatat:

Makna komunikasi transendental pada musisi KiaiKanjeng adalah memahami, merasakan, dan meyakini Allah dan segitiga cinta antara Allah, Rasulullah saw., dan manusia. Bahwa transendental demi tindakan sosial  yang berbasis Ilahiyah pada musisi KiaiKanjeng , diimplementasikan dalam karyanya menunjukan ‘citra ke-Ilahi-an’ yang mempunyai dua tuntutan dasar  secara horizontal-sosiologis maupun vertikal-theologis” (hlm. 9).

Faktor determinan komunikasi transendental yang diungkapkan Cak Nun dan KiaiKanjeng menyimpulkan betapa posisi Tuhan, Rasulullah, dan subjek (manusia) berjalan beriringan. Selawat, sebagai contoh, merupakan manifestasi cinta manusia kepada Rasulullah. Ekspresi kasih sayang di sini merujuk bukan hanya kepada Muhammad bin Abdullah, melainkan juga Muhammad sebagai Nur (cahaya).

Pertautan Allah, Rasulullah, dan manusia ini kemudian membentuk pola vertikal. Tak heran bila ilustrasi tersebut dimaknai Edi sebagai komunikasi transendental. Meskipun ejawantah dari komunikasi itu tak sekonyong-konyong berbentuk verbal yang dapat didengarkan khalayak. Ia juga bisa dicitrakan secara eksternal, yakni sebuah kesadaran transenden yang secara praksis bermanfaat bagi liyan. Dengan kata lain, penghambaan kepada-Nya membentuk prilaku saling menyelamatkan (Islam).

***

Yang ambigu dari konsep Erik ihwal komunikasi transendental adalah kecenderungan dikotomisnya dalam kategorisasi. Ia masih terjebak pada ping-pong dikotomis seperti pengertian vertikal dan horizontal. Pada pengertian transenden, baik vertikal maupun horizontal, ia bersifat sama. Bahkan ia tak berdiri dengan demarkasi—garis pemisah—yang bertolak belakang.

Kesadaran vertikal sesungguhnya merupakan satu paket dengan keinsafan horizontal. Ketika manusia berinteraksi di hadapan orang lain maka secara implisit ia juga menyadari posisinya di muka Tuhan. Demikian pula sebaliknya. Yang membedakan keduanya barangkali hanya sebatas kesadaran. Ia serupa jembatan antara yang gaib dan yang galib.

Lebih jauh, sesuai temuan Erik, CakNun dan KiaiKanjeng merasa aktivitas mereka di masyarakat adalah sebuah bentuk diperjalankan oleh Tuhan. Perjumpaan dan perpisahan, betapapun tragisnya, tetap berada di wilayah kehendak Tuhan. Pengertian ini persis apa yang kerap diungkapkan pepatah arkais: Tuhan menentukan, manusia menjalani.

***

Buku berbasis riset buah pena Erik ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sebagai peneliti ia memposisikan dirinya secara aktif dan reaktif melalui teknik terjun ke lapangan dengan menggunakan teknik pedoman wawancara. Cak Nun dan semua personil KiaiKanjeng ia wawancarai secara personal. Data lisan yang didapatkan itu kemudian diinterpretasi dan dianalisis berdasarkan pengalaman empiris masing-masing mengenai komunikasi transendental.

Menariknya, Erik tak sekadar menarik pembahasan ke arah definitif, tapi juga memberikan catatan historis. Bentuk komunikasi transendental yang dirasakan Cak Nun dan KiaiKanjeng, karenanya, dikuak Erik melalui kisah unik, ironi, mencekam, bahkan mencemaskan sesuai pengalaman tiap individu. Di sini Erik berhasil menyajikan kajian komunikasi transendental yang tak kering cerita di belakangnya. Pembaca seakan-akan dihibur dan merasakan apa yang dialami Cak Nun dan KiaiKanjeng secara emotif.

Sebagai contoh, pengalaman transendental diperjalankan oleh Allah menurut Cak Nun dalam konteks Maiyah adalah perjumpaan cintanya kepada masyarakat lintas strata sosial. Orang miskin, menengah, dan kaya yang sering dibedakan oleh ekonom, bagi Cak Nun, sama saja di hadapan Tuhan. Semua tak terbedakan hanya karena identitas baku. Yang Tuhan lihat bukan siapa, melainkan apa dan bagaimana perilaku manusia.

Cak Nun mengutarakan bahwa cara Allah membiayai adalah dengan cara mempertemukan orang-orang yang saling mencintai Allah. Pertemuan yang dipersatukan oleh cinta yang sama kepada Allah dan Rasulullah, itu lebih kuat daripada pertemuyan persatuan cinta sesama manusia saja. Karena sama-sama cinta Allah dan Rasulullah, itu diyakini kekuatannya luar biasa, sakit saja bisa jadi sembuh, sudah bisa jadi senang dan sebagainya” (hlm. 91).

Frekuensi cinta dalam praktik ber-Maiyah itu memperjalankan Cak Nun dan KiaiKanjeng keliling dunia. Kota metropolitan dan dusun terpencil pernah mereka singgahi. Kegiatan itu semata-mata untuk menguatkan ikatan kultural, bahkan mendialogkan kelompok yang pecah karena friksi. Di wilayah internasional, semisalnya, Cak Nun dan KiaiKanjeng pernah menjadi penengah konflik antara Islam dan Kristen di Belanda. Situasi yang membara dan mencemaskan itu akhirnya berangsur padam.

Sejak awal kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng di masyarakat memang dimaksudkan sebagai kelompok yang menyebarkan pesan-pesan cinta dan damai. Posisinya itu sekaligus menampik grup musik lain yang hanya berfokus pada hiburan. Cak Nun dan KiaiKanjeng berbeda karena ia membawa format dan orientasi nilai demi kemaslahatan komunal. “Ada kegembiraan, kekhusyukan, dan majelis ilmu di sana.”

Membaca buku ini serupa menyaksikan oase ilmu dan pengalaman yang saling menyergap konsentrasi sidang pembaca. Bahasa populer yang diuraikan Erik mudah dipahami semua kalangan. Sayangnya banyak tanda baca, diksi, dan logika kalimat yang meresahkan dan tak sesuai kaidah. Di luar kekurangan itu Erik mendapatkan tempat terbaik bagi pembaca yang khusyuk menyelesaikannya hingga tanda baca terakhir. Bagus untuk suplemen pikiran.

Bahasa verbal menandai perbedaan manusia dan binatang. Kekhasan ini mewujud ke dalam komunikasi yang diekspresikan lewat sistem tanda. Binatang mengungkapkan bebunyian fonetis, sedangkan manusia mengujarkan simbol verbal. Prinsip ini sampai sekarang diyakini ilmu bahasa. Baik dari perspektif…