Karena yang Kita Lakukan Sekarang Tidak Hanya untuk Hari Ini

Silatnas Penggiat Simpul Maiyah 2018, Surabaya, 7-9 Desember 2018

Ketika sedulur-sedulur datang ke Maiyahan seperti PadahangmBulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbang Wetan dan Maiyahan rutinan di berbagai titik Simpul Maiyah, pernahkah terbayangkan dalam pikiran, siapa sebenarnya orang-orang yang ada di balik layar gelaran Maiyahan rutin itu? Apakah karpet yang ada tergelar dengan sendirinya? Bagaimana juga dengan tenda dan pengeras suara yang digunakan, apakah datang dengan sendirinya?

Yang diketahui oleh khalayak ramai Jamaah Maiyah adalah bahwa setiap bulan terselenggara Maiyahan rutin di berbagai daerah, jadwal dirilis setiap awal bulan, kemudian poster-poster Maiyahan tersebar, lalu disusul dengan mukadimah yang juga dipublikasikan. Dan ketika Maiyahan rutin itu berlangsung, tagar-tagar khas Maiyahan berseliweran di linimasa media sosial beserta foto-foto suasana Maiyahan, beberapa hari kemudian catatan reportase dari Maiyahan yang terselenggara itu juga tersusun rapi dan dipublikasikan di website resmi masing-masing Simpul Maiyah.

Mereka yang ada di belakang layar dari Maiyahan rutin itu semua adalah anak-anak muda, dengan rentang usia 20-35 tahun, yang menyediakan dirinya untuk maju satu langkah, setelah merasa bersyukur menjadi Jamaah Maiyah, mereka kemudian memutuskan untuk menjadi penggiat Simpul Maiyah. Di setiap titik Simpul Maiyah, dengan skala kuantitas yang beragam, anak-anak muda itu menempa diri mereka agar senantiasa menjaga semangat keistiqomahan spirit menyebarkan nilai-nilai Maiyah melalui majelis ilmu yang mereka langsungkan rutin setiap bulannya. (Koordinator Simpul Maiyah)

Hingga hari ini, setidaknya ada 63 titik Simpul Maiyah yang terdata di Koordinator Simpul Maiyah. Kesemuanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Sejak tahun 2014, pada setiap akhir tahun merupakan momentum para penggiat Simpul Maiyah untuk berkumpul bersama, bertemu, bermuwajjahah, dalam satu agenda Silaturahmi Nasional. Pada tahun-tahun sebelumnya, Silatnas Penggiat Maiyah pernah di gelar di Purwokerto, Magelang, Yogyakarta, dan Jakarta. Tahun ini, Surabaya menjadi kota yang dipilih oleh Koordinator Simpul Maiyah untuk menggelar acara pertemuan rutin tahunan orang-orang di belakang layar dari setiap Simpul Maiyah.

Penggiat dari Bangbang Wetan (Surabaya), Damar Kedhaton (Gresik) dan Paseban Mojopahit (Mojokerto) menjadi panitia lokal penyelenggara Silatnas Penggiat Maiyah 2018 ini. Dalam kurun waktu satu bulan, mereka berjibaku mempersiapkan persiapan teknis. Hampir setiap malam mereka berkumpul untuk mempersiapkan kelancaran terselenggaranya agenda ini.

Asrama Haji Surabaya dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Silatnas Penggiat Maiyah 2018 kali ini. Tentu saja, salah satu pertimbangan pemilihan tempat penyelenggaraan adalah sebuah lokasi yang mampu menampung setidaknya 150 orang. Karena, untuk delegasi penggiat Simpul Maiyah saja, jika setiap Simpul Maiyah mengirimkan 2 orang sesuai yang diminta oleh Koordinator Simpul, maka setidaknya ada 126 peserta yang terundang. Ditambah Undangan khusus dan panitia, maka dengan kuantitas sebanyak itu panitia lokal memutuskan untuk memilih Asrama Haji sebagai tempat penyelenggaraan.

Dari total 63 Simpul Maiyah terundang, sebanyak 45 Simpul Maiyah mengirimkan delegasi penggiat mereka. 18 Simpul Maiyah lainnya dikarenakan satu dan lain hal tidak dapat mengirimkan delegasi mereka. Namun, meskipun tidak seluruhnya hadir, agenda Silatnas Penggiat Maiyah 2018 ini sama sekali tidak mengurangi suasana guyub. Terlebih, Silatnas kali ini adalah yang pertama kali digelar dengan jumlah peserta terbanyak.

Sekadar pengingat, pada Rembug Maiyah 2017 yang digelar di Jakarta, salah satu hasil rekomendasinya adalah dibentuknya Koordinator Simpul Maiyah dengan personel; Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh dibantu 3 orang Risky Dwi Rahmawan (Juguran Syafaat), Fahmi Agustian (Kenduri Cinta), dan Hari Widodo (Bangbang Wetan). Koordinator Simpul Maiyah kemudian bertugas menyisir dan mendata Simpul Maiyah yang ada. Dalam satu tahun selama 2018 selain melakukan pendataan dan perapian Simpul Maiyah, Koordinator Simpul Maiyah juga menyelenggarakan Workshop di tiap-tiap Regioan Simpul Maiyah. Selain itu, beberapa Simpul Maiyah seperti Kenduri Cinta, Bangbang Wetan, Gambang Syafaat, Majlis Gugur Gunung, dan Juguran Syafaat juga menggelar beberapa Workshop yang mendukung untuk meningkatkan kemampuan individu penggiat Simpul Maiyah.

Kembali ke Silatnas di Surabaya. Sejak Jumat sore (7/12), delegasi dari setiap Simpul Maiyah berdatangan. Panitia menyambut hangat, registrasi ulang peserta dilakukan, hingga masing-masing peserta mendapatkan kamar untuk istirahat. Karena acara baru akan dimulai pada Jumat malam, peserta tampak duduk-duduk santai di sekitar Aula. Ada juga yang ngobrol di kamar, saling berkenalan dan bertukar cerita tentang Simpul Maiyah masing-masing.

Pada Jumat malam, peserta berkumpul di Aula, pertemuan pada Jumat malam berlangsung santai. Ramah tamah peserta berlangsung, teman-teman dari Bangbang Wetan malam itu berbagi cerita, menggambarkan sekilas persiapan gelaran Silatnas Penggiat Maiyah 2018 ini. Beberapa tokoh awal Bangbang Wetan juga hadir malam itu, sekadar untuk berbagi cerita bagaimana awalnya Bangbang Wetan sendiri lahir. Acara pada Jumat malam tidak berlangsung lama, pukul 22:00 WIB, acara diakhiri dan peserta kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, karena memang acara inti baru akan digelar di hari Sabtu (8/12).

Di hari Sabtu, pukul 08:00 WIB, peserta kembali berkumpul di Aula. Pada sesi awal, Koordinator Simpul Maiyah menyampaikan kembali sekilas perjalanan Silatnas yang sudah dilangsungkan, disampaikan pula hasil-hasil kesepekatan dan rekomendasi dari tiap-tiap Silatnas. Hal ini bertujuan agar Simpul Maiyah yang baru pertama kali mengikuti Silatnas juga mengetahui apa saja hasil dari Silatnas yang sudah dilangsungkan. Pada sesi pagi itu juga, Koordinator Simpul melakukan review perjalanan sepanjang tahun 2018, menyampaikan kembali apa saja yang sudah dilakukan bersama-sama oleh masing-masing Simpul Maiyah.

Indikator utama aktifnya sebuah Simpul Maiyah adalah adanya sebuah Majelis Ilmu yang digelar rutin setiap bulannya. Dari Maiyahan rutin itu, kemudian ada kelengkapan turunannya seperti poster, mukadimah, reportase, foto, dokumentasi audio dan video yang melengkapinya. Pada bulan-bulan awal di tahun 2018 ini, cukup banyak Simpul Maiyah yang belum mampu melengkapi kelengkapan itu, namun seiring berjalannya waktu, masing-masing Simpul Maiyah pun melakukan pembenahan demi pembenahan.

Setelah disampaikan review perjalanan selama tahun 2018, masing-masing dari Simpul Maiyah diberi kesempatan untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami di daerah masing-masing, sehingga diketahui kendala-kendala yang dihadapi. Dan setiap Simpul Maiyah ini memiliki karakternya masing-masing. Suasana diskusi berlangsung interaktif, antar Simpul Maiyah menjadi lebih mengenal karakter masing-masing, dan mulai meraba kesamaan karakter mereka.

Salah satu kesepakatan yang lahir pada Silatnas Penggiat Maiyah 2018 kali ini adalah dibentuknya Sub-Region Simpul Maiyah, di mana Simpul Maiyah yang berdekatan secara letak geografis dikumpulkan dalam satu ruang koordinasi. Formula ini menjadi solusi terbaik setidaknya untuk saat ini, agar Simpul Maiyah yang berdekatan letaknya dapat saling tersambung. Pada sore hari, Simpul-Simpul Maiyah yang sudah dikelompokkan berdasarkan letak geografisnya ini berkumpul, untuk kemudian berdiskusi dan menentukan beberapa langkah-langkah konkret yang akan mereka lakukan bersama selama satu tahun di tahun 2019 mendatang.

Dengan adanya ruang Sub-Region ini, salah satu fungsinya ke depan adalah bahwa mereka, masing-masing Simpul Maiyah akan bersinergi satu sama lain, untuk saling men-support penyelenggaraan Maiyahan di setiap bulannya. Bahkan lebih dari itu, dengan terbentuknya Sub-Region ini, akan semakin memudahkan pemetaan potensi dari tiap-tiap Simpul Maiyah itu sendiri.

Mas Sabrang dalam satu sesi diskusi menyampaikan, bahwa tidak semua darah bisa diajak untuk berpuasa. Para penggiat Simpul Maiyah ini adalah orang-orang yang terpanggil, mereka bukan orang yang melamar untuk menjadi penggiat Simpul Maiyah, namun mereka adalah orang yang sudah mendedikasikan dirinya untuk Maiyah. “Apa yang kita lakukan hari ini, urusannya tidak hanya dengan hari ini. Bisa saja yang kita lakukan hari ini manfaatnya baru terasa di kemudian hari”, Mas Sabrang menambahkan. Menjaga semangat untuk terus konsisten dalam hal-hal melengkapi kelengkapan dokumentasi Simpul Maiyah itu saja membutuhkan ketelatenan. Yang terlihat mungkin hanya sekadar dokumen berupa teks, foto, poster dan lain sebagainya yang terkumpul. Mungkin juga hanya berupa postingan di media sosial, namun bagaimana menjaga ritme, mengatur jadwal, manajemen diri masing-masing penggiat Simpul Maiyah secara otomatis sebenarnya semakin terbentuk dari rutinitas-rutinitas yang dilakukan itu.

Pada sesi pertemuan malam hari, Cak Nang turut hadir dan menyapa peserta Silatnas Penggiat Maiyah 2018. Cak Nang sangat bersyukur, karena anak-anak muda yang menjadi motor Simpul Maiyah hari ini begitu bersemangat. Cak Nang berharap agar kedepannya sinergi antar penggiat semakin kuat terbangun, dan yang lebih penting lagi, Cak Nang mengingatkan bahwa embrio Maiyah adalah PadhangmBulan, maka jangan sampai penggiat Simpul Maiyah terputus sejarahnya dari sejarah Menturo.

Memang juga harus disadari, semakin besarnya ambience Maiyah hari ini, semakin luas spektrum Maiyah hari ini, semakin banyak informasi yang tersebar, belum seimbang dengan pengetahuan sejarah Maiyah itu sendiri. Maka apa yang disampaikan oleh Cak Nang itu merupakan sebuah pesan yang sangat penting, agar setiap pelaku Maiyah juga harus mengerti dan memahami sejarah Maiyah itu sendiri.

Diskusi yang berlangsung di Sabtu malam semakin hangat, karena bisa dikatakan sesi diskusi kali ini adalah sesi diskusi buka-bukaan sesama Penggiat Simpul Maiyah. Tentu saja bukan dalam rangka menelanjangi kesalahan personal ataupun tiap Simpul Maiyah, justru dengan Susana egaliter yang selama ini terbangun di Maiyah, para penggiat Simpul Maiyah malam itu begitu leluasa untuk menyampaikan apa saja yang selama ini mereka resahkan untuk disampaikan kepada Mas Sabrang selaku Koordinator Simpul Maiyah.

Malam itu juga dibacakan 7 poin sangu dari Mbah Nun yang secara khusus disusun oleh Mbah Nun untuk Penggigat Simpul Maiyah. Meskipun secara fisik Mbah Nun tidak turut hadir, namun sejak awal penyelenggaraan Silatnas selalu mendapatkan update perkembangan pelaksanaan Silatnas Penggiat Maiyah 2018 ini.

Minggu (9/12) siang, tepat pukul 11:00 WIB, Silatnas Penggiat Simpul Maiyah 2018 resmi ditutup. Tentu saja, masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan oleh Penggiat Simpul Maiyah, namun yang paling utama adalah bagaimana semangat untuk terus istiqomah ini tetap terjaga, sehingga nilai-nilai Maiyah dapat semakin disebarluaskan oleh para pelaku Maiyah.

Buku Cak Nun