Jangan Tengkar Lagi Soal Tahun Baru Masehi

Catatan Sinau Bareng RSAL dr. Ramelan Surabaya, 31 Desember 2017 (Bagian 1)

Saya merasakan kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng di RSAL dr. Ramelan Surabaya tadi malam sangat apik, pas, ilmunya berbobot, indah, sarat kemesraan, dan karenanya luar biasa. Ini menjadikan acara menyambut pergantian tahun dari 2017 menuju 2018 sama sekali beda dengan di lain-lain tempat. Perlu dicatat juga, ini untuk kali ketiga RSAL dr. Ramelan mengundang Mbah Nun dan KiaiKanjeng untuk agenda yang sama, plus satu kali saat Ultah.

Mari ambil satu wawasan ilmu terlebih dahulu dari situ.

Sebelum musik KiaiKanjeng berbunyi, Mbah Nun mengajak belasan ribu orang itu untuk berpikir. Caranya, enam pertanyaan terkait memeringati tahun baru dilontarkan kepada hadirin, dan nanti mereka diminta naik. Siapa yang bisa menjawab dengan baik akan diberi hadiah peci Maiyah.

Keenam pertanyaan itu adalah: Pertama, lahirnya Rasulullah Muhammad Saw itu dihitung berdasarkan tahun Hijriah, Masehi, atau tahun lain? Kedua, lebih dahulu mana Allah menciptakan waktu atau manusia? Ketiga, sebutkan satuan waktu di luar Hijriah dan Masehi. Keempat, di antara satuan waktu itu, manakah yang sesuai dengan Syariat Allah? Kelima, menurut ilmu falak atau ilmu apapun yang coba memahami atau merumuskan pengetahuan tentang waktu, bisakah tanggal 1 Januari ini kita undur satu minggu lagi dan tanggal 1 Muharram menjadi sekarang ini (saat 1 Januari ini)? Keenam, waktu itu bentuknya lurus/linier ataukah melingkar/siklikal?

Mengapa deretan pertanyaan itu dikemukakan Mbah Nun tak lain karena seperti beberapa tahun terakhir setiap kali memasuki tahun baru Masehi suka ada seruan kepada umat Islam untuk tidak keluar rumah atau turun ke jalan untuk memeringati tahun baru Masehi, dengan alasan itu menyerupai kaum lain (nonmuslim), dan bahwa tahun Masehi bukan tahunnya orang Islam. Dikutiplah hadits Nabi man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum. Barangsiapa menyerupai kaum, maka dia bagian dari mereka. Pesan-pesan serupa ini bancar lalu lalang di lini masa atau lewat grup-grup WA. Bahkan ada baliho di tempat umum yang menyerukan hal yang sama.

Apakah Mbah Nun setuju atau tak setuju dengan seruan itu? Mbah Nun tak ingin memberikan “barang jadi” kepada anak-anak muda dan masyarakat yang hadir tadi malam. Diberikanlah kepada mereka enam pertanyaan itu yang diharapkan memberikan atmosfer berpikir secara lebih lebih rapi dan logis menyangkut tahun baru Masehi ini. Mbah Nun sendiri paham bahwa mungkin saudara-saudara yang mengeluarkan seruan itu khawatir dan cemas kalau-kalau yang merayakan atau menyambut tahun baru Masehi itu akan masuk neraka. Itu apik, kata Mbah Nun. Tapi kan kenyatannya ke-Masehi-an kita juga bukan soal saat tahun baru datang. Itu juga bisa terjadi pada ketika kita menggunakan tanggal lahir yang semuanya juga masehi, dan masih banyak yang lain lagi.

Situasinya sudah terlanjur sedemikian rupa, dan yang terpenting jangan sampai semua itu mengurangi iman dan cinta kepada Tuhan. Hijriah memang mungkin “kalah” dengan Masehi, karena nuansa Hijiriah adalah nilai dan kedalaman, sedangkan Masehi sifatnya identitas/padat dan mungkin dekat dengan keramaian. Kurang lebih seperti itu papar Mbah Nun. “Aku ngerti maksudmu rek, tapi yo ojo berlebihan lah,” tutur Mbah Nun mengenai seruan tidak memeringati tahun baru Masehi.

Dan kalau dilihat pada acara semalam, menyambut tahun baru justru dilakukan dengan perenungan, sinau bareng, berdoa, juga ada musik yang dihadirkan dengan muatan-muatan tertentu yang jauh dari perayaan atau hura-hura. Bahkan tidak ada menyalakan kembang api tepat pada saat pergantian tahun. Malahan, menjelang pukul 00.00 itu, Mbah Nun dan KiaiKanjeng membawa mereka kepada khusyukan doa memohon kepada Allah melalui nomor “magis” Takbir Akbar.

Intinya, seperti kata Mbah Nun, enam pertanyaan tadi sekadar untuk berlatih berpikir luas, bercakrawala yang jauh, memahami pandangan-pandangan yang beragam, jangan sempit, dan tidak gampang marah-marah kepada orang yang berbeda pandangan, serta tidak marah terus dengan mengedepankan kebenaran sendiri. Ihwalnya jelas, karena, dalam catatan Mbah Nun, selama tiga tahun terakhir ini penyakit yang dialami oleh bangsa atau masyarakat kita adalah kesempitan berpikir.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Mbah Nun hanyalah tools untuk kita keluar dari kesempitan itu, bukan terutama untuk mencari kebenaran objektif, melainkan keluasan dan kebijaksanaan. Karenanya, Mbah Nun mengingatkan agar teman-teman mengembangkan imajinasi kepada sebab atau mengapa pertanyaan-pertanyaan itu dimunculkan, bukan pada bunyi pertanyaan itu sendiri. Mereka harus peka pada konteks dan asal-usul pertanyaan itu.

Memang tidak mudah bagi mereka menjawab, tetapi mereka telah mencoba menjawab, dan kemudian sedikit demi sedikit belajar memahami apa yang dimaksudkan oleh Mbah Nun. Dari pertanyaan pertama misalnya kita akan tahu bahwa pada faktanya lahirnya Kanjeng Nabi juga dihitung dengan tahun yang bukan Hijriah karena saat itu belum ditetapkan Kalender Hijriah, sehingga tak perlu kaku-kaku banget kepada yang non-Hijriah. Juga sekiranya satuan-satuan waktu harus dihubungkan dengan agama, mungkin perlu direnungkan kembali apakah sudah tepat penghubungannya berupa pemertentangan antara Masehi dan Hijriyah seperti belakangan ini.

Dengan kata lain, Mbah Nun mengusik cara berpikir kita yang selama ini terpaku pada mengukuhi suatu pandangan yang kemudian diyakini sebagai “kebenaran” dan ini ternyata yang menjadi sebab pertengkaran di antara kita, karena masing-masing ngotot dengan “kebenaran” yang diyakininya itu. Pandangan yang telah menjadi “kebenaran” inilah yang perlu direlatifkan, dinegosiasi ulang, dan ditawar, supaya kita bisa mencapai titik kebijaksanaan.

Dalam perspektif kebijaksanaan dan keluasan pandangan itulah, Mbah Nun tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja 1 Januari (Masehi) dan 1 Muharram (Hijriah) baik keduanya dari sisi apa yang bisa dan perlu kita lakukan di dalam atau terhadapnya. Mbah Nun pun sering hadir dalam acara-acara peringatan tahun baru Hijriah 1 Muharram. Pada konteks ini, Mbah Nun seolah mengatakan kalianlah sendiri yang akan mengisi dengan apa setiap kali menyambut datangnya tahun baru itu. Bersama KiaiKanjeng, Mbah Nun memilih mengisi dengan kebaikan, keindahan, ilmu, dan doa memohon hidayah kepada Allah swt setiap kali memasuki tahun-tahun baru. (HM)

Saya merasakan kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng di RSAL dr. Ramelan Surabaya tadi malam sangat apik, pas, ilmunya berbobot, indah, sarat kemesraan, dan karenanya luar biasa. Ini menjadikan acara menyambut pergantian tahun dari 2017 menuju 2018 sama sekali beda dengan di lain-lain tempat. Perlu…