Interasosiasi Bola-Bola Kultural

Saya belum tahu apakah lembaga seperti Kementerian Olahraga, atau yang lain yang terkait, memiliki database memadai di mana tercatat dan terdata kolumnis-kolumnis terbaik yang pernah menulis analisis atau ulasan olahraga di media massa, dan di database itu tersimpan tulisan-tulisan mereka dengan baik, dan siapapun dari generasi masa kini dapat membacanya.

Saya kepikiran itu lantaran sedang membaca kembali buku Bola-Bola Kultural Mbah Nun. Ini buku yang sudah lama dan tidak mengalami terbit lagi, padahal isinya enak dibaca. Terbit pada 1993. Memuat 34 ulasan tentang olahraga. Diterbitkan oleh PrimaPustaka Yogyakarta. Sepertinya penernitnya juga sudah tidak ada lagi. Jadi ceritanya dulu Mbah Nun sebagai kolumnis terproduktif kerap diminta menulis ulasan-ulasan olahraga di beberapa koran misal pada waktu berlangsung Piala Dunia, Piala Eropa, atau momentum lainnya.

Seperti pada umumnya tulisan-tulisan Mbah Nun, ulasan olahraga dari beliau selalu ditunggu. Para pembaca menunggu kejutan dan analisis out of the box-nya dalam membaca pertandingan-pertandingan yang akan berlangsung, dan kita tahu bahwa acapkali pertandingan menyimpan misteri dan ketidakterdugaan. Pun tulisan tentang pertandingan yang telah berlangsung, yang tak jarang menantang orang buat memahami kok bisa begitu atau begini hasilnya.

Karena sifat pertandingan yang suka unpredictable itu, dan apalagi sudah jamak dimengerti bahwa bola itu bundar, maka seribu kemungkinan menyertai akan seperti apa ending sebuah laga atau bahkan keseluruhan kompetisi itu, maka pula analisis-analisis yang tidak linier sangat diperlukan. Kalau sudah seperti ini kebutuhannya, memang Mbah Nun jagonya. Dari judul-judul tulisannya saja sudah terlihat. Saya sebutkan beberapa: “Diego Maradewa, June-Mop dan Universalisme”, “Colombuyik! Ndi Pakem!”, “Para Petugas Supra Kosmos”, “Ojo Ndisiki Kerso”, “Cosialis Coveyet Cepak Bola”, “Sepak Bola Kita Perlu Ikut Globalisasi”, dan “Kurikulum Kecurangan”.

Adapun “Sepakbola Kultural” adalah tulisan yang tampaknya kemudian mengilhami judul buku ini yaitu Bola-Bola Kultural. Ini pun menyiratkan bahwa yang punya istilah kultural-kultural itu nggak cuma ormas seperti NU atau Muhammadiyyah, atau pendekatan kajian akademik yang bernama perspektif kultural. Sepakbola pun punya. Yang kita belum tahu adalah apakah ada sepakbola struktual. Mungkin ada faktanya, meski tidak disebut demikian.

Tetapi satu hal, judul Bola-Bola Kultural ini langsung punya kekuatan menancapkan kesadaran bahwa olahraga, mungkin juga kehidupan, itu tidak lurus-lurus saja. Ia punya banyak kemungkinan. Ia luas. Ia juga memiliki sisi-sisi keindahannya. Ia bisa ditatap dengan sudut pandang yang beragam. Ia adalah cermin dari semesta hidup manusia itu sendiri. Kini kita bertanya, bagaimana dengan hidup kita di masa sekarang, makin meluas ataukah menyempit pandangan dan perilaku-perilaku kita. Atau kita perlu jeda sejenak, kita hentikan jalannya waktu, buat membaca buku ini. Setelah itu, kehidupan kita lanjutkan. Ah!

Selanjutnya, kalau kita menyimak Mbah Nun pada setiap ceramahnya atau pas Sinau Bareng, kita kerap menjumpai bagaimana sebuah persoalan dibahas dengan menggunakan istilah atau perumpamaan dari dunia olahraga seperti sepakbola atau tinju. Cukup banyak fenomena atau kejadian yang diulas dengan memakai idiom-idiom olahraga yang notabene familiar bagi masyarakat sehingga membantu memudahkan memahami fenomena itu. Buku Bola-Bola Kultural ini sebaliknya.

Kolom atau analisis Mbah Nun atas pertandingan-pertandingan entah sepakbola piala dunia atau liga di Indonesia, juga laga-laga tinju internasional, dalam buku ini menjadi menarik dan kaya view karena menterkaitkan fenomena olahraga dengan hal-hal di belakang atau di balik olahraga yang dengan jeli ditangkap keterkaitannya oleh Mbah Nun, yang kebanyakan orang boleh jadi tak terlihat.

Dalam buku ini kita menemukan di banyak halaman keterkaitan olahraga (pembinaan, prestasi, manajemen, kualitas, dll) dengan alam pikir masyarakat dunia secara menyeluruh, dengan pembangunan nasional, globalisasi, mental manusia, bangsa, khasanah sehari-hari, juga idiom-idiom agama, sampai soal cara memahami etnisitas dan kaitannya dengan analisis olahraga. Yang terakhir ini contohnya ada pada tulisan: “Arisan, Sut, Keledai, Imam Lapeo.”

Kepiawaian dan kelincahan berkaya perspektif ini menjadikan esai-esai ulasan olahraga dalam buku ini renyah dibaca sekaligus mencerdaskan. Memperkaya mata pandang kita. Tidak searah saja melihat sesuatu. Kalau belajar dari buku ini, pelajaran yang dapat dipetik barangkali adalah kemampuan interasosiasi antar dunia, antar bidang, antar khasanah, atau antar disiplin. Dalam tatapan seorang yang piawai interasosiasi ini, bermacam-macam kejadian bisa saja dilihat sebagai satu hakikatnya, tinggal dengan bahasa apa dia mengungkapkannya. Bisa dari bahasa politik, kebudayaan, agama, sastra, pembangunan, dan khasanah-khasanah lainnya. Atau selang-seling dan bervariasi. Terhadap realitas yang beragam dia melihat paralelisme.

Kembali ke paragraf awal. Dalam kaitannya dengan kita, generasi zaman now, yang perlu belajar dari sejarah Mbah Nun, buku Bola-Bola Kultural agaknya jangan sampai tidak terdatabase atau terlewat dalam proses pembelajaran kita. Asik membacanya, meski dari masa yang sudah berselang 25 tahun sejak diterbitkannya.

Yogyakarta, 5 April 2018