Grebeg Suran Baturan untuk Menyayangi Indonesia

Liputan Snau Bareng CNKK dalam Grebeg Suran Desa Baturan, 10 September 2018

Sudah cukup lama saya tidak menghadiri Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng (CNKK). Tadi malam, Mbah Nun diizinkan oleh Allah hadir membersamai masyarakat Baturan, Colomadu dalam menyambut tahun baru Hijriyah. Sebuah momen pergantian tahun yang berharga karena dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Beratapkan langit malam yang hitam pekat, saya menyaksikan ribuan manusia memadati lapangan Baturan. Mereka berdatangan dari segala penjuru mata angin. Ada rasa takjub menyaksikan lautan manusia yang sedemikian besarnya berbondong-bondong untuk “ngangsu kawruh” tentang hidup. Terutama anak-anak muda yang rela duduk berjam-jam dalam kerumunan massa yang besar.

Seperti yang selalu berulang-ulang Mbah Nun sampaikan, sesungguhnya yang membuat manusia saling berkumpul sebanyak ini tidak lain adalah karena adanya rindu yang terbangun akibat rasa cinta yang tumbuh dalam hati. Itulah hakikat yang sesungguhnya bagaimana manusia menyembah Allah. Tidak seperti mereka yang menyembah karena ingin untung semata.

Dengan prinsip cinta itu pula, Mbah Nun kemudian mengawali sinau bareng dengan bertanya pada jamaah, “Posisi kita itu ini menyayangi Indonesia atau disayangi Indonesia?” Jamaah memberikan jawaban yang berbeda-beda. Namun kemudian beliau menceritakan alasan menulis esai “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”. Yaitu kitalah yang menyayangi Indonesia, sehingga Indonesia adalah bagian dari kehidupan kita, bukan kita yang bagian dari Indonesia.

Sebagaimana forum-forum Maiyah yang berjalan, acara sinau bareng tadi malam juga menghadirkan interaksi yang menarik dengan para jamaah. Sesuai dengan tajuk acara Grebeg Suran, Mbah Nun mengajak jamaah untuk membedah berbagai hal yang selama ini sering menjadi sumber-sumber perselisihan di antara sesama umat Islam. Apakah Grebeg ada dalil syar’inya? Apakah Grebeg ada tuntunannya dari Nabi? Dan aneka pertanyaan pemantik dilontarkan untuk memancing pandangan dari para jamaah yang bersedia ikut bergabung di panggung. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pintu untuk sinau bareng, bagaimana kita sebagai manusia harus mengoptimalkan kemampuan intelektual untuk berpikir secara tepat dan seimbang. Berbagai variasi jawaban pun dilontarkan dengan perspektifnya masing-masing. Terjadi interaksi yang segar dan sesekali memancing tawa hadirin. Mbah Nun sendiri kemudian memberikan kuda-kuda pemahaman tentang bagaimana mengikuti Kanjeng Nabi berperilaku sebagai manusia seutuhnya.

Salah satu hadirin yang naik ke panggung kemudian mempersembahkan sebuah syair agar dinyanyikan bersama-sama. Dengan iringan KiaiKanjeng, syair itu dinyanyikan dalam lagu “Syiir Tanpa Waton” yang cukup popular. Jamaah begitu khidmat menyanyikan bersama-sama syair gubahan itu. Setiap kali diserukan “Ya Rasulullah, Salamun Alaik…“ semua tenggelam dalam shalawat itu. 

Malam semakin larut dan langit pun semakin hitam pekat dalam bingkai ketenangan. Seolah mengikuti ritme ketenteraman yang ada di hati para jamaah. Suasana sinau bareng semakin hidup ketika para jamaah diberi kesempatan bertanya. Mbah Nun merespons tidak hanya pertanyaan jamaah secara personal, tetapi meluaskan jawaban pada berbagai konsep yang berkaitan agar menjadi bahan renungan bagi jamaah sepulang dari sinau bareng.

Ada jamaah yang bertanya, “Mbah, nyuwun amalan-amalan yang bisa memperlancar rezeki!” Mbah Nun langsung merespons dengan meluruskan kata “amal” yang selama ini selalu identik dengan wirid bacaan. Maka sebenarnya yang dimaksudkan penanya adalah bacaan wirid atau mungkin lelaku khusus. Tapi jika dikembalikan ke kata “amalan” itu sendiri, maka amalan yang bisa memperlancar rezeki ya beramal itu sendiri. Beramal artinya melakukan alias kerja. Hadirin pun tertawa gembira mendengar respons Mbah Nun. Ya memang kerja keras itulah kewajiban “amalan” kita. Soal rezeki, tidak semata-mata hanya dalam bentuk uang. 

Ada pula jamaah yang menyanyikan sebuah lagu berisi kekecewaannya pada pemerintah. Kemudian ia membuat pertanyaan krusial tentang orientasi politik Mbah Nun. Di sinilah kita menemukan kebijaksanaan Mbah Nun dalam memberi jawaban yang sangat mendasar. Indonesia lebih luas dari sekedar persaingan dua kubu yang akan maju di pilpres. Maka beliau memilih sibuk dengan berkeliling untuk menemani rakyat selalu optimis dan tidak lelah untuk menyayangi Indonesia.

Dari masyarakat Baturan yang sudah 14 tahun menyelenggarakan acara Grebeg Suran dan berhasil mempersatukan seluruh elemen umat Islam, Mbah Nun memberikan apresiasinya dan berharap semoga bisa dijalankan di berbagai tempat untuk merajut persatuan bangsa.

Acara yang juga dihadiri oleh Bupati Karanganyar itu pun ditutup dengan doa yang dipimpin oleh salah satu tokoh ulama Baturan dan disusul dengan iringan Ya Lal Wathan untuk menemani perjalanan pulang para jamaah.

Buku Cak Nun