Etnotalenta

Mukadimah Bangbang Wetan Maret 2018

Ana dina ana upa, ada hari ada nasi, nglaras ngudarasa, konsumtif takhayul pasrah bongkokan, dan rencana pembangunan hendak memacu industrialisasi? Pencetus Renaisans geleng-geleng kepala: kemampuan manusia memang diganti mesin-mesin otomat, tetapi manusia pecumbu perkutut dan kuburan keramat jangan dikasting jadi pencipta komputer. Satu dua warga bangsa mana pun memang bisa diubah menjadi manusia baru dengan pendidikan behaviouristik dan sistem yang ketat menyeluruh, namun hasilnya tak bisa prima karena memang bukan kodratnya.

Tetapi apa benar sebuah bangsa atau suku dilahirkan dengan bakat pokok tertentu, yang berbeda dengan bangsa lainnya, seperti seseorang bukanlah seseorang yang lain? Apa benar juga dengan cita-cita mereka berbeda, impian mereka tentang kemajuan, bayangan mereka tentang kesempurnaan hidup, konsep mereka tentang puncak prestasi, ukuran mereka tentang garda depan peradaban dan kebudayaan, juga berbeda? Serta dengan begitu landasan filsafat dan tujuan sasaran pembangunan juga mesti berbeda? Dengan begitu gerak modernisasi bangsa-bangsa tak mesti ber-mono-orientasi? Dengan begitu Trenggalek tidak harus perlu hendak jadi Jakarta dan Jakarta hendak jadi San Fransisco atau Paris?” –Emha Ainun Nadjib, “Etnotalentologi”, Februari 1983.

Istiah BRIC untuk menyebut negara-negara dengan percepatan ekonomi yang signifikan telah kita dengar sejak 2001. Pada tahun itu Brazil, Rusia, India, dan China bertemu, sepakat dan menyatakan diri sebagai satu keuatan baru dalam ranah ekonomi global. Hampir dua dekade sesudahnya, kita melihat perkembangan lebih lanjut yang meneguhkan China sebagai kepala naga kekuatan baru ini.

Kebangkrutan ekonomi Amerika dan sekutunya di Eropa bahkan setelah negara-negara belahan utara Atlantik ini bergabung dalam MEE adalah satu faktor dominan yang mendorong cepatnya pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Tentu saja faktor lain yang mengiringinya adalah penetapan kebijakan eknonomi makro yang dilakukan China. Catatan penting lainnya adalah pesatnya inovasi teknologi informasi terapan dan kebutuhan rumah tangga (home appliance) yang dilakukan Korea Selatan. Sebuah fenomena yang tidak terduga bahkan oleh Jepang, raksasa teknologi dunia di penghujung milenium.

Kenyataan mengenai menguatnya negara tempat Panda berasal adalah fakta tak terbantahkan. Implikasinya terhadap Indonesia pun telah kita rasakan. Dampak nyata yang kian menguat terlihat pada kurun orde yang di awal langkahnya meneriakkan jargon “revolusi mental”. Kebijakan makro berupa keleluasaan masuknya barang impor, tenaga kerja, investasi, utang, dan– ironisnya–juga haluan gaya pengelolaan negara, regulasi dan kebijakan seperti menegaskan bahwa sebagai bagian dari pedukuhan globalisasi, geliat naga menghembuskan angin kencang yang juga menerpa kita.

Percepatan kemajuan ekonomi dan kekuatan politik China dibarengi oleh format baru tata kehidupan dunia. Formasi ini mengubah secara frontal karakter dan sikap dari individu, keluarga, masyarakat, suku hingga bangsa. Pengaruhnya begitu jauh memasuki segala kawasan (horisontal) dan strata (vertikal). Pemicunya adalah penggunaan secara massif teknologi informasi dan pemakaian serat Cuprum (tembaga) yang menyentuh hampir semua bidang kehidupan.

Dalam pengaruh sihir kapitalisme dan pèlèt materialisme, parameter dan ukuran kemajuan, pun juga berkiblat kepada pencapaian-pencapaian kekuatan baru ini. Makin meneguhkan kasunyatan yang substantif tentang penyeragaman dan hegemoni dunia, meskipun jargon dan kemasannya adalah penghargaan terhadap keberbedaan dan keragaman.

Di manakah mereka, anak-anak masa depan, generasi “next” yang di tangannya tergenggam beslit otoritas masa nanti? Akankah mereka hanya menjadi pasar potensial bagi berpuluh ribu komoditas yang mengalir deras dari negara produsen? Cukup legawakah kita melihat bahwa adik, anak, cucu dan keponakan sekadar menjadi mur dan baut kecil dari mesin raksasa penguasaan negara adidaya yang tak berideologi pun tak beragama, kecuali hanya keuntungan dan bathi materi?

Sudah datangkah masa di mana anak-anak negeri timur, negeri matahari terbit, melepaskan otentitas dirinya demi diterima untuk mendaftar pada kafilah zaman baru, neo-renaissance informasi dan teknologi? Sudah tibakah masanya di mana anak-anak manusia yang dilahirkan dari Rahim manusia, perlahan menanggalkan keajaiban kemanusiaannya, dengan dalih agar bisa diterima dan hidup dalam satu pedukuhan global dunia?

Bila berkaca pada catatan historika, ekspansi dan hubungan masa lampau China dengan negara-negara Balkan dibangun melalui sebuah lintasan yang ramai disebut sebagai jalur sutera. Cukup layakkah bila kemudian kita perkuat ketahanan darah dan kedaerahan Nusantara ini bukan saja melalui jalur sutera namun lebih kepada kokoh terbentuknya “jala sutera”? Sebuah jejaring yang dibentuk dengan modal keikhlasan, mutualisme dan integritas dari kalangan jelata. Bentuk hubungan yang tiada sekadar perniagaan namun lebih kepada paseduluran tak berujung dari sesama ‘abdan ‘abdiyya, wong cilik yang tahu diri, setia dan menyimpan energi dahsyat bagi terciptanya tatanan mamayu hayuning bawana?

Generasi nanti, mari bersama melingkar meneguhkan hati merajut paseduluran dan stand out proud! Lebih karib, tetap hangat dan berisi di Bangbang Wetan edisi Maret ini. Minggu malam nanti di pelataran Balai Pemuda, ungkapkan semua rasa, pemikiran, pula mimpi-mimpi.

Ana dina ana upa, ada hari ada nasi, nglaras ngudarasa, konsumtif takhayul pasrah bongkokan, dan rencana pembangunan hendak memacu industrialisasi? Pencetus Renaisans geleng-geleng kepala: kemampuan manusia memang diganti mesin-mesin otomat, tetapi manusia pecumbu perkutut dan kuburan keramat jangan…