Etnotalentologi

Tempo, 12 Februari 1983

Sambil mengetik novel-novel Pramudya Ananta Toer yang tidak diterbitkan untuk perpustakaan Berkeley University, John McVey mendengarkan rekaman kuda kepang dari Suriname lantas musik terbangan Jawa Timuran dari Afrika Barat, dan tiba-tiba bergumam: “Orang Jawa di mana-mana tetap orang Jawa, orang Melayu biar berbuat apa tetap orang Melayu…”. Kemudian ia bercerita sambil tertawa tentang pembangunan di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya, dan di sebuah jalanan kota Sleman ia melihat lelaki setengah baya mengerjakan tugasnya sebagai buruh pengaduk aspal dengan sangat banyak beristirahat: nglaras jongkok sembari ngisap kretek Gudang Garam, padahal gajinya sehari 600 perak dan anaknya enam!

Ana dina ana upa, ada hari ada nasi, nglaras ngudarasa, konsumtif takhayul pasrah bongkokan dan Rencana Pembangunan hendak memacu industrialisasi? Pencetus Renaissance geleng-geleng kepala: kemampuan manusia memang diganti oleh mesin-mesin otomat, tapi manusia pencumbu perkutut dan kuburan keramat jangan dikasting jadi pencipta komputer. Satu dua warga bangsa manapun memang bisa diubah menjadi manusia baru dengan pendidikan behavioristik dan sistem yang ketat menyeluruh, tapi hasilnya tak bisa prima karena memang bukan kodratnya.

Tapi apa benar sebuah bangsa atau suku bangsa dilahirkan dengan bakat pokok tertentu, yang berbeda dengan bangsa lainnya, seperti seseorang bukanlah seseorang yang lain? Apa benar juga dengan begitu cita-cita mereka berbeda, impian mereka tentang kemajuan, bayangan mereka tentang kesempurnaan hidup, konsep mereka tentang puncak prestasi, ukuran mereka tentang garda depan peradaban dan kebudayaan, juga berbeda? Serta dengan begitu landasan filsafat dan tujuan sasaran pembangunan juga mesti berbeda? Dengan begitu gerak modernisasi bangsa-bangsa tak mesti ber-mono-orientasi? Dengan begitu Trenggalek tak mesti perlu hendak jadi Jakarta dan Jakarta hendak jadi San Fransisco atau Paris?

Tahun 1971 Amerika memuncak kecemasannya karena The Greatest Nation ini mulai tertumbangkan supremasinya oleh Jepang, dan Peter Peterson sang kuasa dagang di Gedung Putih segera mengembangkan kebijakan baru dengan outline baru. Enam tahun kemudian mereka menghadapi krisis yang sama dan setahun berikutnya situasi malah mendarurat. Akhirnya raksasa ini sibuk menatap kembali ototnya: Wah, Bung, kita terlalu memberi jaminan bagi hak-hak individu, kita terlampau melicinkan jalan untuk individualitas meskipun itu kita sembunyikan di balik bungkus kreativitas. Orang Jepang justru berangkat dari sikap tradisional mereka: kanson minpi, semacam ngabekti kepada atasan, sementara atasan dawuh kepada bawahan.

Lho, kok seperti struktur Gusti Kangjeng dan Abdi Dalem dan Kawula? Lha kok kita kayak gini? Tunggu dulu. Ezra F. Vogel yang menulis dan menyimpulkan Jepang Nomor Satu di Dunia dan Pelajaran Bagi Amerika, bilang bahwa faktor terpenting dari sukses Jepang ialah kebersamaan yang kontinu dalam memburu pengetahuan.

Dari pemerintah sampai masyarakat pelosok, dari kota sampai dusun, dari pucuk pimpinan sampai ujung akar yang dipimpin, selalu berbagi dan bersama dalam suatu ‘selera umum’ untuk mengejar pengetahuan baru. Segala informasi tentang pengetahuan baru dikumpulkan secara general maupun spesifik, dalam term panjang maupun pendek, secara resmi maupun secara ngobrol minum kopi. Berbagai organisasi selalu menyebarkan tim peneliti dan para eksper lestari dikumpulkan. Mereka himpun kawruh baru di kelas, di lapangan golf, meja konferensi, bar-bar, di roda tank sampai layar televisi. Mereka sharing untuk itu baik secara profesional maupun amatir, dengan sobat ataupun musuh.

Adakah itu sistem, yang diciptakan dan diterapkan, hingga Jepang menggapai supremasinya? Kalau ya, maka Amerika mungkin bisa berusaha menirunya. Tapi kalau itu merupakan traditional attitude, maka erat hubungannya dengau wallahua’lam, jadi peniruan hanya bisa dilakukan secara amat terbatas. Dan kalau ini benar: apa sesungguhnya yang orang Indonesia lakukan dengan gencarnya dewasa ini? Kita bisa beli kalkulator untuk putra SMP kita, bahkan bisa bikin pesawat terbang. Tapi kalau bicara makro, keseluruhan derap bangsa, barangkali lain soalnya. Dan kalau bicara mendasar, kita memang tak mungkin jadi mereka.

Dengar musik Jawa: rileks, enjoying, sumeleh, mlumah, memberikan diri entah kepada siapa atau kepada siapa saja. Amati sedalam-dalamnya, maka kedalamannya amat lain dengan kedalaman bunyi musik tradisional Jepang yang ketat, tekun, mencari, memburu. Tone Sunda amat dekat ke Jepang, tapi karakternya berbeda tajam. Antara kemurungan, melankoli, nelangsa, mendayu, memohon, dengan greget dan kehausan kreatif. Di dalam bermelodi, berbeda antara melodi kenikmatan dan melodi kegelisahan.

Pernah dengar ada guru rebab Jawa di Amerika: begitu intens ia menggesek; sampai trance, lantas seusai pertunjukan dia bilang, “Tentu saja saya intens, lha wong tangkai penggesek rebab saya sering nyentuh susu sinden di samping saya…”. Kedalaman musik Jepang dan Jawa mungkin sama, tapi intensitasnya berbeda. Yang satu santai menikmati, yang satu ketat gelisah mencari. Adakah ini bakat yang berbeda antara dua bangsa?

Orang sering berdecak kagum: Jepang yang begitu fantastis teknologinya, kenapa tetap mampu mempertahankan tradisinya. Ternyata mungkin logikanya mesti dibalik: justru dia pertahankan karakter tradisinya itu, maka dia jadi The King of Kings. Namun apa benar begitu? Menghayati musik rakyat Rusia, Israel, Bulgaria, Peru, Crete Yunani—masih susah juga menyimpulkan. Tapi jika benar ada bakat-bakat berbeda per bangsa, dan mereka mengembangkan peradabannya berdasar bakatnya itu, alangkah ragam dan indahnya dunia ini? Namun, etnotalentologi, mungkin belum ada.[]

*Dimuat di Majalah Tempo, 12 Februari 1983 dan telah diterbitkan dalam buku “Slilit Sang Kiai” (1991)

Orang Jawa di mana-mana tetap orang Jawa, orang Melayu biar berbuat apa tetap orang Melayu…