Diperjalankan “Bermaiyah” di KSOP Samarinda

Di Maiyah, saya mengenal satu kosa kata penting dan baru bagi saya, yakni “diperjalankan”. Makna yang saya tangkap dari istilah “diperjalankan” adalah suatu pergerakan atau perpindahan yang tidak mutlak sepenuhnya dalam rancangan kita sendiri. Ada faktor luar (yakni Allah Swt), yang dengan sengaja turut campur bahkan mendominasi perjalanan yang ditempuh itu. “Diperjalankan” mungkin juga memuat makna tentang kepasrahan pada suatu “kehendak yang lebih tinggi”, yang berbisik kuat dari ke dalam hati nurani tentang ke mana kita harus pergi melangkah. Wallahu a’lam.

28 Oktober 2018, saya merasa “diperjalankan”, dari Sangatta ke Samarinda untuk menghadiri suatu event yang sangat berharga. Bagi kami warga Sangatta, perjalanan menuju ibukota provinsi Kalimantan Timur itu, punya nilai perjuangannya tersendiri. Boleh dibilang perjalanan Sangatta-Samarinda cukup, rute darat sepanjang 126 km itu ditempuh selama 5-6 jam, dengan melewati hutan dengan kontur jalan berbukit-bukit penuh lubang di sana sini, seolah-olah seperti perjalanan melalui lintasan roller coaster yang panjang. Jika tidak ada hal yang penting-penting amat, biasanya kami di Sangatta enggan pergi jauh keluar.

Bertepatan momen hari Sumpah Pemuda itu, di kota Samarinda kebetulan memang ada dua acara istimewa, yakni muktamar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan acara Sinau Bareng Mbah Nun beserta KiaiKanjeng di pelabuhan. Kedua acara itu sama penting dan bermanfaat bagi saya. Seluruh perwakilan dokter se-Indonesia hadir ke kota ini dalam perhelatan akbar muktamar IDI tersebut. Namun ketika itu, saya lebih tergerak (atau mungkin tepatnya digerakkan, ya?) untuk menghadiri acara Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di pelabuhan.

KSOP (Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) Samarinda, menghadirkan Mbah Nun dan KiaiKanjeng dalam rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional, dengan mengambil tajuk acara “Pelabuhan sebagai Sentra Peradaban”. Pak R. Totok Mukarto selaku sayhbandar pelabuhan Samarinda yang merupakan rekan lama Mbah Nun, mengambil langkah yang tepat untuk menggelar acara Sinau Bareng dengan mengundang Mbah Nun ke Samarinda. Mbah Nun dinilai sebagai tokoh yang representatif untuk menjembatani masalah-masalah sosial yang selama ini ada di banyak tempat di Indonesia. Suasana “panas” yang ada di pelabuhan diyakini akan terurai dengan kehadiran Mbah Nun yang mengedepankan dialog dan silaturahim dengan semua unsur.

Sebelum acara Sinau Bareng digelar, pada siang harinya Mbah Nun dihadirkan panitia di kantor KSOP untuk beramah tamah, bersama panitia dan seluruh partisipan yang hadir di sana.

Setibanya dari bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan, Mbah Nun langsung meluncur ke kantor KSOP Samarinda. Mengenakan baju putih rapi dengan rompi coklat tua, berkacamata hitam, Mbah Nun terlihat sangat fit dan energik, meski mungkin baru saja melewati perjalanan jauh yang melelahkan. Dengan segudang kesibukannya yang nyaris tak pernah sepi dan belum tentu juga dapat “beristirahat secara maksimal”.

Beberapa persiapan kecil-kecilan, merumuskan tujuan dan format kegiatan secara global jelang acara Maiyahan di pelabuhan saat malam nanti dibicarakan secara singkat. Perbincangan yang ringan dan santai mengalir lepas serba spontan. Sementara itu, komunitas anak-anak muda yang tergabung dalam simpul Maiyah yang ada di Kaltim (Samarinda, Bontang dan Sangatta) tidak menyia-nyiakan kesempatan emas saat ber-muwajjahah dengan beliau itu. Perasaan rindu yang selama ini terpendam, untuk bisa bermaiyah bersama Mbah Nun secara langsung, seolah tuntas terbayar hari itu.

Kami warga Maiyah Kaltim, tentu lebih banyak mengikuti acara Maiyah secara virtual, yakni mengikutinya sebagai jamaah YouTubers. Untuk dapat menghadiri acara majelis ilmu Maiyah rutin seperti yang ada di Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta dll demikian “berat”. Jauh dan tentu terasa mewah bagi warga Kaltim. Apalagi di pelosok seperti saya yang ada di Sangatta ini. Sedulur-sedulur yang tergabung dalam simpul Maiyah Kaltim tentu tidak menyia-nyiakan untuk meminta saran, petunjuk, untuk “penyempurnaan simpul Maiyah”. Dan juga tentu “menagih” Mbah Nun untuk bersedia suatu saat nanti dapat melingkar bersama simpul-simpul kecil yang ada di Kaltim ini. Dan yang menarik lagi, 20 anak-anak muda simpul Maiyah Mandar jauh-jauh hadir secara khusus dari Sulawesi Barat untuk mengikuti Sinau Bareng di Samarinda ini.

Adapun kehadiran saya pada acara ramah tamah pertemuan Mbah Nun, (kecuali keberadaan saya yang juga bagian simpul Maiyah Sangatta yang baru 4 bulan dirintis), seolah bagai “infiltrant” dari desain plot acara yang ada di siang itu. Ya, saya merasa menjadi “oknum yang mencuri-curi kesempatan” di sela-sela waktu luang yang ada, untuk menyampaikan sesuatu pada Mbah Nun. Sesuatu yang bisa jadi muatannya mungkin lebih “bernilai personal”. Saya menyerahkan draft naskah buku yang saya tulis secara intensif selama 3 tahun. Sebuah buku bertema “Mbah Nun dan Kesehatan” (tapi… isi bukunya belum bisa saya ceritakan di sini sedulur… nanti saiyya ditegur penerbit karena bikin spoiler, hehe).

Kembali ke soal diperjalankan tadi. Sesuatu yang di luar perkiraan saya terjadi. Cak Zakki malah memposisikan Mbah Nun untuk duduk dekat saya (jadi sungkan.com saiyya).

Dan inilah di antara keistimewaan rangkaian acara Maiyah, apapun ragam tema yang muncul, siapapun yang hadir, serta dari berbagai latar belakang apapun orangnya ketika itu, atau spontanitas seperti apapun yang keluar, oleh Mbah Nun mampu diramu, dihimpun, dijembatani, serta ditata menjadi sebuah orkestrasi yang indah.

Saya ikut merasakan nuansa keindahan itu ketika di KSOP. Bukan hanya karena Mbah Nun memberikan waktu khusus, agar saya ber-tahadduts bin ni’mah (berbagi nikmat) untuk menyampaikan sepatah dua patah kata berkaitan dengan naskah yang saya tulis. Tapi rasa kebersamaan dan paseduluran yang terbangun bersama semua yang hadir terasa sangat indah dan membahagiakan.

Mbah Nun adalah pribadi yang telah berevolusi menjadi manusia institusi, demikian pula Maiyah, ia bukan kapling atau perabot. Maiyah berfungsi sebagai ruang, yang keluasannya mampu menampung keragaman dalam sebuah harmoni dan keseimbangan. Mbah Nun pernah bilang, “Maiyah adalah aliansi kerukunan mahkluk Tuhan.” Semua yang hadir di Maiyah dimuliakan, dilibatkan, diapresiasi dalam sebuah atmosfer rasa persaudaraan.

Jelang sore hari, langit terlihat mendung, acara ramah tamah di kantor KSOP bumi etam itu berjalan penuh kehangatan dan keakraban. Mbah Nun selalu mampu membuat acara sesingkat apapun menjadi menarik dan menggembirakan. Kegiatan ramah tamah di KSOP menjadi semacam overture, pra kegiatan Maiyah. Banyak yang mengatakan bahwa urusan Maiyah adalah memenuhi rasa rindu. Rindu dalam kebersamaan, rindu untuk hidup guyub rukun melakukan berbagai simulasi-simulasi kehidupan dan habit penduduk surgawi sebelum kita merasakan surga yang sesungguhnya kelak.

Acara sore itu ditutup dengan konferensi pers kepada para wartawan. Panitia, tamu undangan, komunitas simpul Maiyah Kaltim segera bergegas mempersiapkan diri, untuk mengikuti acara Maiyah malam harinya di dermaga pelabuhan. Menuntaskan kerinduan dan untuk merasakan peseduluran sejati yang kelak bermuara pada jalinan kemesraaan di antara Allah, Rasulullah dan para al-muttahabbina fillah.

Oh betapa nikmatnya “diperjalankan” di Maiyah.

Sangatta, 1 November 2018