Dari Balkon Melihat Zaman

Di awal tahun 2018, Mbah Jogo banyak disowani tamu dan dikerumuni pertanyaan-pertanyaan tentang 2018 ke depan. Di antara mereka lebih ingin meminta fatwa khusus untuk bisa melihat seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan. Rupa-rupanya tahun ini banyak yang sedang sibuk menggali apa gerangan yang akan terjadi. Apa itu berhubungan dengan agama, politik, budaya, pendidikan, ekonomi. NU, Muhammadiyah, HTI, FPI, Wahabi, MTA. Alam, perjodohan, perkawinan, pasar, sawah, ladang, tambak, laut, perkayuan, seni, dan seterusnya. Tetek bengek.

Mbah Jogo hanya mèsem, sesekali dia tertawa dan menertawai ajuan pertanyaan sebagian tamu. Tapi juga ia tampak diam dan meneteskan luhnya. Suasana sakral mengharumi ruang tamu. Para tamu tak ada yang berani ngomong atau menyela keheningan. Mereka tetap menunggu sampai Mbah Jogo sendiri yang bicara.

“Eling lan waspada ya”, ucap Mbah Jogo.

Cukup dua hal itu yang terucap oleh Mbah Jogo. Itu bukan fatwa. Hanya sebatas saling mengingatkan saja.

Malam makin larut. Para tamu undur diri, pamit sowan. Mbah Jogo kembali masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke lantai atas, duduk menyendiri di balkon.

Sambil ditemani klobot dan secangkir jahe panas, dia membuka kitab tafsir dan masuk di halaman surah Al-‘Ashr. Mbah Jogo beristighfar, termehek-mehek.

“Iki tangisan apa?”

Tiada yang lebih ditangisi kecuali ia mengaitkan dirinya dengan zaman ketika masih belajar kepada Kiai Madun.

Mbah Jogo teringat satu hadits yang pernah dijelaskan oleh Mbah Kiai Madun. “Allah tidak akan mencabut berkahnya bumi sehingga orang dholim tidak dikatakan dholim.”

Ketika itu Kiai Madun bertanya kepada Mbah Jogo, “Iki zaman, apa sih sing ora dikenani tindak aniaya lan apus-apusan?”. Lha wong, zaman Nabi Muhammad saja tak luput dari ulah orang-orang kafir.

“Kabeh padha rugi kejaba wong-wong sing tetep teguh imane lan sing istiqomah anglakoni kabecikan. Ngono kuwi ya ora gampang, cung.”

Mbah Jogo makin terlelap oleh ingatan-ingatan itu. Mata Mbah Jogo tertuju ke suasana depan rumah. Dia mengamati betapa rumah-rumah tetangga berdiri berjejeran. Ada tanaman, pohon mangga, pisang, jambu biji, rambutan, yang tak jarang mangklung ke rumah orang lain. Satu persatu ia perhatikan. Mbah Jogo teringat dengan satu nama. Ialah Mbah Zaenab, almarhumah. Masya Allah, dia orang baik. Dia punya warung makan. Meski punya warung, ia tak pernah sekali pun meniatkan untuk berjualan. Dia hanya menyiapkan makanan kepada orang-orang yang ingin makan. Dibayar berapapun, ia terima. Setiap ia masak “jangan”, ia selalu melebihkan air dan “godhongan” dan memberikannya ramuan bumbu yang cukup banyak. Ia menyediakan bagi tetangganya dan menyilakan untuk mengambilnya.

Mbah Jogo menghela nafas. “Ya wis, pancen wolak walike zaman.”

Manusia takkan pernah tahu besok seperti apa. Tuhan sudah menentukan titah, qodlo`, takdir kepada siapapun dan apapun. Tuhan sudah menentukan kapan pohon kelapa berbuah, kapan cabe berubah merah, kapan seorang istri hamil: laki-laki atau perempuan kah, dan seterusnya dan seterusnya.

Sekarang ini susah mencari warung dan masakan makanan seperti warungnya Mbah Zaenab. Kalaupun ada, itu hanya sebuah kemasan nomenklatur kapitalisme yang memperalat nama warung, kampung, atau sejenisnya. Beras, gula, garam, semuanya impor. Indonesia macam apa. Kaya tapi tak kaya. Dikira miskin tapi kaya. Dikira kaya, tapi “ngemis” tak habis-habis. Konotatif. Pemerintah menawarkan bantuan kepada rakyat. Presiden mantu. Jaminan masyarakat. Pengabdian masyarakat. Konyol.

Perguruan tinggi kalah sama bokong truk. Para akademisi hanya bisa menganalisis, sementara masyarakat sudah mampu menciptakan. Ah, sintesa atau analisa. Mana yang didahulukan.

Suara adzan subuh Wak Syuhud terdengar merdu khas. Mbah Jogo menutup kitabnya. Dia meninggalkan balkon menuju kamar mandi. Besok malam akan tetap berlanjut.

***

Pengantar di atas dibuat sebagai mukadimah Gambang Syafaat edisi 25 Januari 2018 yang akan memantik jamaah pada sebuah kontemplasi zaman yang sebenarnya menyimpan banyak riwayat, kenangan, dan hikmah, tak asal euforia latah dan terbawa oleh arus konotatif zaman now. (red: makhb)