Biarkan Kami Berkreasi

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogomulyo, Temanggung, 18 September 2018

Orang-orang masih terus mengalir tatkala Cak Nun sudah berada di panggung, memegang mic, dan memulai Sinau Bareng. Langkah-langkah kaki itu menapaki jalan tak seberapa lebar dengan kontur tanah yang menanjak karena berada di kaki Gunung Sumbing.

Untuk sampai ke depan panggung, mereka harus memutar atau lewat salah satu sela di antara rumah-rumah, dan ketika tiba pada satu titik di mana panggung terlihat, area utama yang tak lain adalah juga jalan dan halaman sekolah, di tambah halaman-halaman rumah, sudah terpenuhi oleh jamaah yang sudah tiba lebih awal.

Suasana padat itu sudah terlihat sejak kami memasuki seputaran kompleks Kantor Kecamatan. Setelah itu, sepanjang jalan, saya sebut satu-satu yang saya ingat: cimol, bakso tusuk, peci, aneka makanan, jilbab, kaos kaki, dolanan anak-anak, pernak-pernik, bahkan ada juga stan motor. Itu semua pemandangan yang merupakan bagian dari berlangsungnya Sinau Bareng malam ini.

Di sejumlah rumah, terlihat dari pintu terbukanya, di ruang tamu tersaji lodong-lodong berisi jajanan, menandakan tuan rumah menyambut para tetamu yang datang buat mengikuti Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Sambil berjalan, terhembus oleh saya aroma rokok klobot. Asik dan tampaknya memang khas masyarakat pegunungan. Sampai sekarang pun saya sendiri belum bisa merokok. Payah dah.

Lalu, di salah satu jalan, mata saya terumbuk pada sebuah tulisan di atas jalan aspal itu: “Biarkan Kami Berkreasi.” Persis pada dan karena tema itulah, seperti tertulis di jalan itu, para pemuda Karangtaruna Desa Tlogomulyo Kecamatan Tlogomulyo Temanggung.

Itu, sebuah aspirasi sederhana, tapi kita tahu juga itu aspirasi yang banyak muncul di mana saja di masyarakat kita yang hampir bisa dikatakan sebagai kewajaran yang ada karena perbedaan generasi, dan hal yang mewartakan akan pentingnya menciptakan ruang bagi tumbuh dan teraktualisasikannya potensi anak-anak muda. Sebuah aspirasi sederhana di antara sekian banyak aspirasi yang selama ini Cak Nun diminta merespons lewat deretan panjang Sinau Bareng. Sebuah aspirasi sederhana yang gamblang menunjukkan bahwa generasi muda membutuhkan orang-orang tua yang memberikan kepercayaan dan ruang bagi anak muda buat berkreasi.

Bagaimanakah mewujudkan semua itu agar bisa berjalan selaras tanpa berbenturan dengan orang-orang tua, atau dengan aspirasi-aspirasi lain yang ada dan berkembang di dalam masyarakat setempat? Untuk itulah mereka menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Di sisi panggung, tepatnya di kantor kepala desa, saya melihat anak-anak muda karangtaruna itu begitu asik dan sungguh-sungguh satu sama lain meng-handle apa saja bagi berjalannya Sinau Bareng, mulai dari memandu tamu-tamu yang datang hingga mendistribusikan hidangan. Semuanya kompak. Bisa saya bayangkan dengan penuh empati apa yang disampaikan Ketua Karangtaruna Bagus Priambodo bahwa acara Sinau Bareng ini sendiri merupakan sesuatu yang membanggakan, yang telah dengan kerja keras mereka wujudkan. Sebuah acara yang besar dan spektakuler, dengan tolok ukur bahwa ini adalah satu bukti kerja dan ekspresi anak-anak muda.

Angin berhembus cukup dingin (kan di pegunungan!), acara mengalir dengan Cak Nun memandu anak-anak muda dengan bekal-bekal berpikir (lewat ngobrol dan workshop), tetapi pada saat bersamaan mereka diajak menikmati musik-musik KiaiKanjeng yang mengolah lagu-lagu yang mereka sudah kenal, dengan diberi bingkai pemahaman akan maksud mengapa KiaiKanjeng menghadirkannya. Boleh senang-senang, tapi senang-senang yang Allah senang.

Buku Cak Nun