Berdaulat Atas Bahasa dan Realitas

Di sela-sela membuka-buka bundel-bundel Majalah dan kliping lain, tangan saya bertemu dengan sebuah buku tipis. Bukan benar-benar buku sih menurut ukuran kualitas fisik buku zaman sekarang, karena hanya distaples saja. Tidak seperti buku pada umumnya yang di-binding dengan lem yang kuat. Cover depan dan belakang-nya pun memperlihatkan bahwa buku tipis itu sudah lama usianya. Lembar-lembar kertasnya pun sudah tampak mulai menua. Huruf-hurufnya jelas bukan tertoreh oleh mesin cetak yang canggih.

Tidak ada nama penerbit dan juga barcode ISBN. Hanya ada nama penulis dan judul buku serta satu deretan kata lagi. “Emha Ainun Nadjib, Isra’ Mi’raj yang Asyik, Bersama Kelompok Musik Dinasti Yogya.” Rupanya ini buku disusun khusus untuk pegangan sebuah acara. Acara apa? Malam peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad Saw yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Teknik UGM di Gelanggang Mahasiswa pada 24 April 1986.

Mahasiswa teknik UGM memperingati Isra’ Mikraj? Begitu reaksi spontan kekinian saya. Sudah lama tidak mendengar yang komposisi acara dan background penyelenggaranya yang demikian itu, yang sebenarnya dulu hal yang jamak saja.

Reaksi spontan saya begitu, karena sebenarnya cuma pengin tahu saja apakah hal yang sama masih berlangung sekarang, masa ketika konon mahasiswa-mahasiswa fakultas-fakultas eksakta di pelbagai kampus itu rentan termasuki gelombang purifikasi dan puritanisme keagamaan yang biasanya tak begitu suka dengan peringatan-peringatan seperti itu, apalagi pakai musik dan puisi segala. Tapi biarlah, bukan itu yang selanjutnya mau saya sasar.

Yang merebut perhatian dan sekaligus menghibur saya adalah bahasa. Bahasa orang-orang dulu, yang jauh lebih tua dari saya, dan karena itu mengalami era yang alam pikir, budaya, dan tradisi kebahasaannya mestinya nuansanya beda. Sekurang-kurangnya pola-pola bahasa yang dikembangkan kelompok tersebut khas. Bahasa yang dari jarak saya dengan mereka, saya rasakan asik. Jadi bukan hanya Isra’ Mikraj-nya saja yang asyik seperti dihadirkan dalam puisi-puisi di dalamnya, tapi bahasa dalam pengantar buku ini pun asyik juga.

Saya langsung kutip saja bahasa dalam pengantar itu, “Syukur-syukur kerja kerabat Dinasti bisa menjadi bagian aktif dari malam silaturahim rohani malam ini bersama inti nurani hidup para penghadir sekalian. Kalau tak, ya semoga masih mungkin merupakan diri sebagai urun-urun dialog budaya kecil-kecilan di kesempatan amat mahal sebelum tiba Pemilu 87. Kalau itupun tak mampu dijangkau oleh niat ikhlas iktikad sejarah dari kerabat Dinasti, yaa anggaplah ini suatu penampilan estetika saja yang tak usah terlalu berhubungan dengan yang paling mendasar dari hidup kita semua serta gairah kita untuk memperbaikinya bersama. Tetapi Dinasti mengimbau semoga Allah berminat meletakkan komunikasi malam ini pada maqam rohani lebih tinggi.”

Ada ‘penghadir sekalian’ dan ‘kalau tak’ yang bagi saya terdengar asik dan tak sepertinya tak pernah atau jarang menghiasi gaya dan bahasa komunikasi kita sehari-hari kita selama ini. Ditambah ini: ‘semoga Allah berminat meletakkan komunikasi malam ini…’ yang menurut saya adalah gaya bahasa yang indah, unik, tidak baku, kaya, dan imajinatif. Adik-adikku generasi wasap wal medsos mungkin perlu baca gaya tulisan seperti itu, buat memperluas diri, biar tak sekadar punya berbahasa singkatan-singkatan saja.

Sementara itu, puisi-puisi Mbah Nun yang dihimpun dalam buku kecil ini yang dibacakan di acara peringatan Isra’ Mi’raj itu diambil dari buku puisi beliau berjudul Syair Asmaul Husna dan Syair Iman Perubahan juga menghadirkan dimensi bahasa yang lain lagi.

Pada puisi-puisi Mbah Nun tentu saja terdapat beragam pilihan kosakata atau susunan kalimat mulai dari yang lugas, pedas, satir, menyindir, hingga sublim dan menep. Ada satu dimensi lagi yang saya rasakan dalam bahasa puisi Mbah Nun dan saya coba melihat dari sudut filsafat. Tapi, jangan tuduh saya sedang selo atau luang lho kalau saya menyebut filsafat. Filsafat dan atau falsafah juga merupakan bagian dari praktik dan budaya kesehari-harian kita.

Para ahli filsafat telah menghabiskan banyak waktu dan pemikiran untuk mengajukan pertanyaan dan berusaha mencari jawab-jawabnya. Di antara pertanyaan itu adalah apa dan bagaimana sebenarnya hubungan antara bahasa dan realitas? Antara kata dan makna? Antara kata dan ide? Antara kata dan benda atau objek? Antara kata dan yang ditunjuknya? Menimbulkanlah deretan pertanyaan ini diskusi yang menarik dan panjang. Dari diskusi itu ada yang kita dengar bahwa bahasa dan realitas itu dua hal yang tegas terpisah. Bahwa bahasa tak pernah benar-benar mampu menjamah sesuatu as it is atau sebagai dirinya sendiri, tapi hanya menangkap sisi-sisi luaran atau fenomenanya saja. Dan seterusnya.

Kalau kita baca puisi-puisi Mbah Nun–misal “Penyairpun Bukan” atau “Abadi Kerinduan”–kadangkala terasakan bahwa antara bahasa dan realitas bisa sama-sama tegas bedanya atau tempatnya tetapi bisa juga jumbuh satu sama lain. Tetapi masing-masing kata-kata dalam puisi Mbah Nun itu konkret dalam arti bisa ditangkap makna kata maupun sesuatu yang ditunjuknya, walau mungkin kita tak selalu dengan cepat mampu mengatakannya.

Dalam kesatuan puisi Mbah Nun, kata-kata beliau menurut saya punya kejelasan dan membangun satu suasana, yang kita bisa merasakannya, meski tak selalu dengan tangkas bisa mengatakannya sebagai atau seperti apa. Kawan saya dulu bingung menyebutnya apa. Dia merasa puisi-puisi Mbah Nun ya sepertinya abstrak tapi kok ya kerasa jelas ada ranah atau semesta yang ditunjuknya.

Ataukah memang pada akhirnya bahasa itu manut sama kita sebagai khalifah yang mengkhalifahi bahasa itu sendiri, mau dibangun seperti apa relasinya dengan sesuatu di luar dirinya, dengan terlebih dahulu si khalifah juga punya interaksi dan persentuhan yang intim dengan sesuatu di luar bahasa itu sendiri (pengalaman, pergulatan sosial, spiritualitas, kebudayaan, kehidupan sehari-hari, dunia batin, agama, ragam-ragam realitas, dll). Gitu nggak sih? Dari puisi-puisi Mbah Nun mungkin kita bisa belajar mendapatkan pintu menuju kemungkinan jawaban-jawabannya.

Yogyakarta, 29 Maret 2018