Belajar Memilih Preseden

Berbagai peristiwa dengan ataupun tanpa disaksikan oleh manusia, silih berganti terjadi. Sebagian yang disaksikan ada yang menjadi isu di tengah masyarakat, ada yang dapat menjadi bahan pelajaran, namun tidak sedikit peristiwa yang begitu saja berlalu dan dilupakan. Satu isu dibicarakan, melupakan isu yang dibicarakan sebelumnya. Ibarat sebuah partisi hard disk, dengan cepat informasi yang baru saja kita cerna akan segera menutupi informasi yang sudah ada sebelumnya dalam sistem ingatan kita. Secara sadar kita semakin terbiasa untuk melupakan peristiwa yang lalu dengan cara menyimpan ingatan tentang peristiwa yang baru saja terjadi.

Hanya saja, sebagian besar dari kita tidak terbiasa untuk memiliki kepekaan bahwa tidak semua informasi harus kita ketahui. Sepertinya, kita memang terlalu bernafsu untuk menguasai informasi dengan cara serampangan. Tanpa filter yang kuat, hampir seluruh informasi yang kita terima, kita telan begitu saja, bahkan tanpa kita kunyah terlebih dahulu, kemudian dengan mudah kita sebarkan informasi itu dan kita beri label kebenaran. Kita meyakini bahwa informasi hasil olahan kita adalah sebuah kebenaran.

Preseden adalah sesuatu hal yang terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai contoh. Pemahaman ini berdasarkan KBBI. Jika kita memperluas pemahaman, Preseden juga bisa berarti sebuah peristiwa atau informasi yang sudah terjadi sehingga kemudian dari peristiwa itu kita jadikan salah satu media pembelajaran. Dari sebuah peristiwa, kita harus mampu mengambil ilmu, hikmah atau apapun saja yang kemudian kita olah menjadi kebijaksanaan dan kearifan.

Dapatkah kita mendaftari kembali peristiwa yang kita alami dari awal tahun 2018 hingga hari ini? Mana saja peristiwa yang hingga hari ini benar-benar urgent untuk kita bicarakan bersama. Kemudian mana peristiwa yang sebenarnya cukup kita lewatkan begitu saja. Preseden demi preseden berlalu begitu saja, ketika ada preseden yang baru, dengan mudahnya kita melupakan preseden yang sebelumnya. Kita semakin terbawa arus untuk turut serta membicarakan peristiwa yang baru dan sedang diperbincangkan.

Karena hampir setiap hari ada saja peristiwa yang baru, yang kemudian kita lebih asyik untuk membicarakannya. Bahkan pada skala yang sangat remeh. Hari-hari ini kita lebih senang membicarakan tentang pilihan kata seperti “sontoloyo”, “genderuwo”, “tempe”, “hijrah”, “santri” dan sekian diksi lainnya yang sering diperbincangkan disekitar kita. Pada akhirnya kita tidak benar-benar memahami apakah memang pilihan kata itu adalah persoalan utama bangsa kita hari ini? Kita semakin terbawa informasi yang bersifat viral, yang mana justru karena kita sering memperbincangkan informasi itu, kita juga semakin memviralkannya. Padahal, belum tentu seluruh penduduk di negeri ini juga membahas informasi tersebut, jangan-jangan justru informasi itu hanya viral di inner circle kita saja?

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita juga sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Wah….. Apalagi ini? Ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan? Memangnya ada? Begitulah adanya kita hari ini. Semakin terbiasa dengan sajian yang instan. Bukan hanya makanan saja yang instan, namun juga menuntut bahwa ilmu dan juga informasi juga sebaiknya instan. Kalau perlu, tanpa membaca buku, tanpa belajar, apalagi menghafal, kita punya ilmu. Betapa bebalnya kita hari ini. Sama sekali tidak mampu belajar untuk memahami preseden. Apalagi untuk memilih preseden itu sendiri, bahkan untuk memahami saja sudah malas.

Ketika Nabi Musa As diperintahkan oleh Allah untuk membelah lautan dengan tongkat yang ia bawa, yang kita ketahui adalah bahwa tongkat itu merupakan salah satu mukjizat dari Allah. Hanya sampai disitu saja pemaknaan kita. Kita enggan untuk memahami bahwa disaat yang bersamaan, Allah juga memerintahkan kepada lautan itu untuk membelah dirinya ketika permukaannya tersentuh oleh tongkat yang digenggam oleh Nabi Musa AS. Ada dimensi lain yang sama sekali tidak tersentuh oleh pemahaman kita tentang sebuah peristiwa.

Yang kita ketahui, pada sebuah malam Nabi Muhammad Saw memperlihatkan kepada para sahabatnya bahwa hanya dengan tangannya yang diayunkan kemudian rembulan terbelah. Kita tidak mampu memahami lebih detail, apakah memang Allah juga memerintahkan rembulan untuk terbelah atau justru Allah memerintahkan sistem penglihatan pada mata para sahabat yang berkumpul malam itu untuk memanipulasi daya pandang mereka sehingga yang tampak adalah rembulan yang terbelah.

Yang kita ributkan hari ini adalah siapa calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang pantas untuk kita pilih pada PILPRES 2019 mendatang. Tetapi, kita sangat malas untuk mempelajari apa visi dan misi meraka, bagaimana rencana jangka pendek, menegah, dan panjang yang mereka canangkan, siapa saja orang-orang yang ada di belakang mereka, bahkan hingga siapa saja yang membiayai pendanaan kampanye mereka, kita sangat malas untuk mencari tahu dan mempelajari itu semua. Sehingga kita semakin terbiasa untuk tidak mampu memilih Presiden yang baik, karena memang kita juga tidak terlatih untuk memilih preseden dari setiap peristiwa yang kita alami hari-hari ini.

Kenduri Cinta mengajak jamaah Maiyah untuk tidak terjebak dalam kesempitan-kesempitan itu. Melalui Maiyahan, kita sinau bareng, bukan saling pamer kebenaran, melainkan bersama-sama mencari apa yang benar, dengan cara kebaikan, kebijaksanaan, kearifan. Sehingga kebenaran yang kita temukan nantinya dapat kita ungkapkan dengan keindahan.