Bangunlah Cuaca Pendidikan dalam Keluarga

Liputan Sinau Bareng CNKK, Sabrang, dan BKKBN di Sidoarjo, 18 Juli 2018

Tahukah kita dari 253 juta penduduk Indonesia, ada 73 juta anak muda. 30 persen penduduk Indonesia adalah anak-anak muda. Dan Maiyah yang bagi saya pribadi saya yakini sebagai anugerah Allah SWT itu kian kemari makin banyak dikerumuni oleh anak-anak muda. Apa yang terjadi pada mereka bersama Maiyah? Pencerahan, penjernihan, pendidikan? Kalian bisa meneliti apa mengapa bagaimananya. Ingat juga Reval tadi. Saya sendiri berpendapat bahwa apa yang dikerjakan oleh Mbah Nun melalui Sinau Bareng adalah sedekah yang luar biasa kepada Indonesia.

Khusus malam ini Sinau Bareng beririsan dengan program BKKBN, yakni pencanangan agar anak-anak muda memiliki rencana pendidikan formal maupun informal. Menurut saya, Sinau Bareng jelas sebuah proses pendidikan, tapi entah pendidikan apa nama yang paling pas buat menggambarkan kelengkapan dimensinya. Saya belum tahu, meskipun saban hari saya juga berkutat dengan dunia pendidikan. UU Sisdiknas hanya mengenal tiga kategori pendidikan: formal, nonformal, dan informal. Kedua kategori terakhir saya rasa tak cukup buat menggolongkan Maiyahan dalam perspektif pendidikan.

Yang pasti, saya mencatat bahwa apa yang diperoleh dari Sinau Bareng ini di antaranya adalah kewaspadaan dan keseimbangan berpikir, dan itu merupakan modal dasar agar, utamanya bagi anak-anak remaja buat sanggup merencanakan pendidikan.

Sekarang kita luaskan sedikit dengan berbicara tentang generasi. Maiyah bersyukur, berbahagia, dan memiliki optimisme akan masa depan kehidupan bangsa ini, karena ternyata ditakdirkan untuk menemani lahirnya generasi baru. Ya, Generasilah lahir. Mereka dicintai Allah dan mencintai Allah. Satu fenomena yang berlangsung kontradiktif dengan pembangunan yang tidak memerhatikan manusia. Dalam bidang apapun manusia sekadar dijadikan objek dan sasaran larangan.

Pendidikan pun tidak memerlakukan manusia sebagai manusia. Mereka tidak diperlakukan sebagai ciptaan Tuhan yang kelahiran dan kehadirannya di bumi pasti punya maksud sesuai visi misi penciptaan.

Manusia tidak mengenali irisan amr Tuhan dan iradah diri mereka sehingga dialektika kun fayakun tidak terjalin. Yang terjadi adalah sikap murtad: manusia tidak mengerjakan yang seharusnya dikerjakan serta mengerjakan yang seharusnya tidak dikerjakan.

Kelahiran generasi baru ini adalah antitesis dari semua itu. Salah satu dari program BKKBN adalah anak-anak muda merencanakan dan siap berkontribusi di tengah masyarakat. Mbah Nun menegaskan, “Selama mengikuti Maiyah mereka menjaga keamanan dan keselamatan bersama. Mereka siap berperan dan berfungsi sebagai apa saja yang dibutuhkan masyarakat.” Perbuatan mereka adalah perbuatan yang mukmin dan muslim, perbuatan yang mengamankan dan menyelamatkan.

Karena itu, jamaah Maiyah tercuacakan untuk siap berkontribusi dalam kebaikan karena Maiyah merangsang kecerdasan kolektif, kecerdasan jam’iyaah, atau dalam istilah Sabrang disebut kepandaian murni. Pahamilah bahwa kecerdasan seseorang tidak muncul secara parsial individual, tetapi akibat dari silaturahmi dan wani dadi. Silaturahmi dalam sinergi kebersamaan sehingga secara alami mengasah potensi kepandaian individual dalam ritme kerjasama.

Wani dadi adalah akibat dari sinergi silaturahmi. Berani menjadi atau berani berperan sesuai kebutuhan kolektif. Dunia semut mengajarkan semua hikmah itu. Kita perlu belajar dari semut terkait bagaimana mekanisme kecerdasan kolektif dijalankan. Maiyahan adalah pendidikan yang percaya dan memercayai manusia. Tugas pemerintah dan BKKBN adalah percaya kepada rakyat dan keluarga. Sebab, selama ini negara modern tidak percaya kepada rakyat.

Lebih lengkapnya, sebagaimana diungkapkan Bapak Mustar Riadi, perwakilan BKKBN Pusat, BKKBN punya lima program Generasi Berencana, yakni: merencanakan pendidikan, penghasilan (kerja), berkeluarga, berpartisipasi di masyarakat dan hidup sehat serta bahagia; dan Sinau Bareng malam ini menampung poin-poin tersebut dalam elaborasi cara berpikir sesuai karakter hidup anak muda.

Buat memperkaya analisis dan respons, Sinau Bareng malam ini menghadirkan Mas Sabrang MDP. “Bukan sekadar menetapkan rencana. Rencana disusun karena kita memiliki tujuan. Tanpa tujuan yang ditetapkan tidak ada rencana yang tersusun,” tegasnya.

Dalam pandangan Mas Sabrang, keluarga perlu menciptakan cuaca pendidikan yang kondusif untuk anak-anak agar kecerdasan kolektif benar-benar terasah. Kebersamaan dalam keluarga harus tetap utuh. Satu kenyang semua kenyang. Satu lapar semua lapar. Sayangnya, negara memang belum tiba pada kualitas kebersamaan seperti ini. Padahal akar nasionalisme berawal dari pendidikan keluarga.

Dari sini Mbah Nun berharap agar BKKBN percaya dan memercayai keluarga, dan harapan ini rasanya tidak berlebihan. Individu-individu dalam kelurga bukan robot atau mayat hidup. Mereka adalah manusia, ciptaan Tuhan, yang harus diperlakukan sebagai manusia.

Itu secuil pemikiran yang bisa saya petik terlebih dahulu dari Sinau Bareng di GOR Delta Sidoarjo malam ini, dan saya laporkan kepada Anda semua. (Ahmad Saifullah Syahid)

Tahukah kita dari 253 juta penduduk Indonesia, ada 73 juta anak muda. 30 persen penduduk Indonesia adalah anak-anak muda. Dan Maiyah yang bagi saya pribadi saya yakini sebagai anugerah Allah SWT itu kian kemari makin banyak dikerumuni oleh anak-anak muda. Apa yang terjadi pada mereka bersama Maiyah?

Topik

Bangbang Wetan23Cammanallah14Cermin59Esai1418Gambang Syafaat24Hari Santri10Informasi22Jepretan55Juguran Syafaat22Kenduri Cinta68KiaiKanjeng12Letto3Mocopat Syafaat41Musik13Novia Kolopaking5Padhangmbulan46Puisi163Relegi6Reportase660Teater13Wedang Uwuh73