Ayem Tentrem Anak-Cucu Mbah Nun

“Berapa persen cintamu ke negara ini?”
“Dan berapa persen cintamu ke ibu, ke ayah, ke pacar?”

Seringkali dalam Sinau Bareng Cak Nun melontarkan pertanyaan seperti itu kepada kita. Ada yang secara polos menjawab membagi-bagi cintanya supaya jangkep menjadi 100 persen. Jamaah Maiyah yang semester dua, sudah pasti tahu jawabannya. “Ke Negara ya 100 persen Cak. Ke Ibu ya 100 persen Mbah. Ke pacar, nanti dulu…” dan seterusnya.

Posisi Cak Nun kepada Jamaah Maiyah sudah bisa diibaratkan orangtua dan anak. Atau Mbah kepada cucunya. Teman-teman Maiyah ayem tentrem gondelan klambine Cak Nun. Sinau Bareng di mana saja digelar asal terjangkau pasti akan didatangi. Mau Sinau Bareng setiap malam, ayooo. “Sampai jam berapa ini nanti, Rek?” tanya Cak Nun setiap kali berlangsung Sinau Bareng. Teman-teman Maiyah yang sudah semester empat keatas jawabnya kompak, “Subuuuuh…”

Suatu hari saya menerima Whatsapp begini, “Assalamualaikum. Perkenalkan Saya Heri dari Pontianak. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan terkait Mbah Nun. Insyaallah Februari 2019 saya hendak melangsungkan pernikahan. Saya sangat mengharapkan Mbah Nun mau menjadi saksi pernikahan saya. Sampaikan anaknya dari Pontianak akan menikah.”

Pada saat lain ada pula email masuk berupa permintaan hal yang sama, “Assalamualaikum wr wb. Pangapunten nyuwun perso Pak Kiai. Pangapunten menawi boso kulo kirang sopan. Bade nyuwun perso Cak. Menawi tanggal 11 September 2018 Panjenengan sampun wonten jadwal dereng. Sire bade kulo suwun kagem ngisi ular-ular wonten acara tasyakuran nikahan kulo Cak. Naming sederek-sederek kaliyan bapak-bapak pengaosan RW. Maturnuwun, Cak. Kulo tenggo balesanipun nuwun.”

Permintaan yang sama juga kita temukan dalam surat berikut ini, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mas/Mbak. Kalau mengundang Cak Nun ke acara pernikahan saya bisa atau enggak ya. Jujur lewat ceramahnya itu banyak diterima dan masuk logika.

Sungguh betapa indah Mbah Nun telah menelusup menjadi harapan di hati anak-anak kita ini. Di wilayah-wilayah khusus dan pribadi. Dan sayang sekali, dengan berat hati saya ingin menyampaikan bahwa pasti Mbah Nun kalian tidak punya cukup waktu untuk menghadiri setiap pernikahan anak-cucunya. Tetapi percayalah, doa Mbah Nun mengiringi langkah kalian semua.