Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta 20 Januari 2017

Ta’ziz dan Tadzlil untuk Bangsa Yatim Piatu

Semalam, 20 Januari 2017, di pelataran Taman Ismail Marzuki Jakarta, tepat di jantung ibukota yang merupakan panggung hiruk-pikuk politik nasional kebangsaan dan keummatan, Majelis Ilmu Kenduri Cinta digelar untuk edisi bulan Januari mengawali tahun 2017.

Sebagai awalan, acara dimulai dengan prosesi pembacaan Ta’ziz dan Tadzlil sesuai arahan Mbah Nun, yang kemudian dilanjutkan dengan Wirid Wabal Tahlukah 2016. Ta’ziz dan Tadzlil adalah dua terminologi yang diambil dari surat al-Maidah ayat 54.

Salah satu inti muatannya adalah jika di antara orang-orang beriman ada yang mulai “murtad” dari agama Allah, Allah akan melahirkan kaum yang baru yang salah satu cirinya adalah memiliki jiwa dan sikap lemah lembut kepada sesama orang mukmin (adzillatin ‘alal mukminin). Hari-hari ini, ruang-ruang komunikasi, interaksi, dan relasi di antara kaum muslimin lebih banyak diisi saling benci, saling hujat, saling tuduh, dan saling menyakiti. Hilanglah sikap lemah lembut. Dengan Ta’ziz dan Tadzlil itu, Cak Nun mengajak semua jamaah Maiyah berdoa dan menghajatkan betul lahirnya sikap lemah lembut itu.

Ta’ziz dan Tadzlil untuk Bangsa Yatim Piatu.
Ta’ziz dan Tadzlil untuk Bangsa Yatim Piatu.

Segmen pertama diskusi dengan para jamaah dimulai penyelaman sahabat Ali Hasbullah atas surat An Nahl 8, Al Jumu’ah ayat 5, dan Luqman 18-19 untuk mbeber kloso tema Kenduri Cinta kali ini.

Ali Hasbullah menjelaskan, di masa depan Indonesia akan berada pada posisi yang strategis. Fenomena perubahan iklim dan cuaca dunia hari ini akan sangat menguntungkan Indonesia, karena ke depan persaingan dan penguasaan sumber daya alam tidak hanya terbatas pada pertambangan semata, tetapi air mineral juga akan menjadi salah satu komoditas yang akan diperebutkan untuk dikuasai. Dan Indonesia dengan cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini akan mengalami situasi di mana Indonesia berada pada posisi yang strategis.

Jamaah yang datang sangat banyak, menjadikan pelataran TIM ramai dan padat oleh mereka. Selepas menyimak uraian pengantar, mereka kemudian mendengarkan ulasan Ustadz Noorshofa yang membahas salah satu muatan dalam surat at-Thin. Di situ Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan-Nya dalam bentuk yang sebaik-baiknya bentuk. Sementara manusia pada saat yang bersamaan akan dijatuhkan dalam posisi yang sangat rendah; asfala safilin. Kecuali orang yang beriman dan beramal Sholeh.

Satu hal yang seharusnya manusia mampu menggunakannya adalah hati. Menggunakan hati maksudnya adalah memanage agar hati tidak berlaku rakus penuh nafsu. Sementara hari ini, kita melihat betapa rakusnya manusia mengumpulkan banyak harta yang notabene tidak akan mampu mereka habiskan di dunia. Padahal kelak yang kita cari di akhirat adalah Ridhlo Allah, bukan ridhlonya manusia.

Ustadz Noorshofa juga membahas sedikit beberapa nama-nama binatang yang diabadikan di dalam al-Qur`an. Serendah-rendahnya manusia adalah ketika ia tidak belajar dari para hewan. Dan celakanya, saat ini kita sangat sulit menyatakan kebenaran, karena semua merasa paling benar sendiri.

Pergi ke Indonesia Karena Kecewa Donald Trump

Semalam KC kedatangan tamu spesial. Yaitu Ibu Anne Rasmussen. Seorang etnomusikolog dari Amerika. Pada awal tahun 2000-an, Bu Ann atau Prof. Anne, demikian panggilan akrab-nya, pernah mengikuti perjalanan KiaiKanjeng sebagai bagian dari risetnya tentang musik Islam di Indonesia. Tak hanya itu, Bu Ann juga sempat memberikan workshop musik Timur Tengah kepada KiaiKanjeng di Kadipiro saat itu. Awal tahun 2017 ini Bu Ann datang kembali ke Indonesia sampai beberapa bulan ke depan, dengan membawa rasa kangen untuk bisa berjumpa kembali dengan Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Bu Anne jam session spontan dengan Beben Jazz and Friends.
Bu Anne jam session spontan dengan Beben Jazz and Friends.

Cak Nun secara khusus meminta Prof Anne untuk berkolaborasi bersama Beben Jazz membawakan sebuah nomor Jazz. Jadilah, sajian penampilan Jazz yang sangat memikat di tengah malam Kenduri Cinta. Kemesraan terbangun. Jamaah menikmati alunan musik Beben Jazz and Friends dan suara Prof Anne.

Cak Nun menceritakan kisah pertemuan KiaiKanjeng dengan Prof Anne yang piawai memainkan alat musik Gambus dan pernah berkolaborasi bersama KiaiKanjeng di atas panggung.

Ketika diberi kesempatan untuk berbicara, Prof. Anne mengungkapkan kekecewaannya karena Trump terpilih menjadi Presiden Amerika. Dengan berkelakar, ia sengaja terbang ke Indonesia hari ini karena tidak ingin menyaksikan prosesi inagurasi Donald Trump.

Cak Nun pun mengisahkan perjalanan Prof. Anne dengan KiaiKanjeng belasan tahun silam.
Cak Nun pun mengisahkan perjalanan Prof. Anne dengan KiaiKanjeng belasan tahun silam.

Setelah memberikan kesempatan kepada Prof Anne, Cak Nun kemudian memberikan kesempatan kepasa jamaah untuk bertanya kepada Prof Anne. Ketika ditanya apa motivasinya meneliti musik yang bernuansa Arab, ia menjelaskan bahwa musik Arab adalah musik yang unik, yang sangat berbeda dengan musik Barat. Ketika ditanya kenapa Negara yang dituju adalah Indonesia, Prof. Anne menjawab bahwa ia sangat mengagumi kebudayaan Indonesia, bahkan secara khusus ia mengakui sangat menyukai masakan Indonesia. Secara khusus, Cak Nun pun mengisahkan perjalanan Prof. Anne dengan KiaiKanjeng belasan tahun silam.

Jangan Berlaku Tidak Seimbang

Bergeser dari kemesraan bersama Prof. Anne, kini Cak Nun menerangkan muatan tulisan Beliau “Bangsa Yatim Piatu” yang barusan dirilis kemarin pagi. Sebuah tulisan yang menggambarkan rasa tanggung jawab mendalam Cak Nun untuk turut memahamkan masyarakat atas apa yang sedang dan akan berlangsung. Banyak kata-kata kunci yang cukup jelas di situ bagi siapapun yang hendak mengetahui perkembangan yang akan terjadi di Indonesia pada beberapa waktu mendatang.

Dengan ekskalasi yang berlangsung, yang tercipta sebagai dampaknya adalah mengerasnya hati masyarakat yang ditandai oleh saling menyakiti di antara kelompok-kelompok, seakan kasih sayang telah sirna. Menghujat, menuduh, mendakwa adalah perilaku yang belakangan kian santer mewarnai. Orang-orang atau kelompok-kelompok berlaku bagai anak-anak yang tanpa pengasuhan orang tua. Mereka mudah bertengkar dan dendam satu sama lain.

Mempelajari dan mengelaborasi Solusi Segitiga Cinta
Mempelajari dan mengelaborasi Solusi Segitiga Cinta.

Tak pernah jenuh dan bosan, Cak Nun mengingatkan dan menekankan bahwa di Maiyah ini yang terpenting adalah proses menemukan keseimbangan dalam hidup. Di Maiyah, kita bersama-sama memformulasikan keseimbangan berpikir, keseimbangan hidup, dan keseimbangan-keseimbangan lainnya.

Untuk memahami dan menyikapi persoalan yang sedang dihadapi Indonesia, Cak Nun mengajak Jamaah Kenduri Cinta untuk sekali lagi mempelajari dan mengelaborasi Solusi Segitiga Cinta, sebagai jalan untuk mendapatkan solusi yang nyata untuk semua persoalan yang kita hadapi hari ini, di tengah sulitnya membayangkan kemungkinan datangnya solusi dari jalur atau melewati mekanisme yang ada.

Itu sebabnya, Cak Nun menggambarkan bahwa dunia merupakan sebuah Bulatan yang berada dalam sebuah Segitiga. Dan solusi yang harus diambil adalah solusi yang berasal dari Segitiga bukan dari dalam Bulatan itu sendiri.

Cak Nun menekankan bahwa alasan utama beliau Maiyahan di mana-mana dan selama bertahun-tahun tidak lain dan tidak bukan adalah karena Allah semata. Karena hanya Allah yang benar-benar bisa diandalkan.

Selain mengemukakan perlunya keseimbangan dalam hidup, solusi segitiga cinta, dan sejumlah respons atas apa-apa yang diceritakan Bu Ann, dari soal musik Islam hingga Presiden Donald Trump, Cak Nun juga menyampaikan banyak poin ringkas, khususnya dalam merespons pertanyaan-pertanyaan jamaah: belajar kepada sifat keledai–sebagaimana tema KC tadi malam, berpikir tidak linier supaya tidak terjebak-jebak, dan hakikat fenomena Trump yang sesungguhnya juga dialami Indonesia saat ini.

Kemudian poin-poin mengenai fakta dan psikologi Ngawulo di dalam alam berpikir dan perilaku politik bangsa Indonesia, terkabulnya doa Tahlukah, keteguhan dalam menempatkan Allah sebagai tujuan dalam setiap langkah dan kegiatan, kelelahan yang dialami umat manusia secara global sehingga gampang menyerah dalam berpikir dan mengambil keputusan, dan dua puluh tahun lebih Cak Nun meninggalkan pers tapi masih ada permohonan untuk acara Hari Pers Nasional.

Juga disampaikan poin-poin perihal Islam sebagai konfigurasi dan bukan sebagai identitas kelompok, tentang tiga jenis Maulid: Maulid Muhammad, Maulidur Rasul Muhammad, dan Maulidun Nur Muhammad, perbedaan Hijriyah dan Masehi, hakikat sifat binatang, penciptaan Adam, memahami hakikat Agama dalam konteks memahami Kitan Suci dan Kebenaran, hingga pemahaman poporsional akan peran dan posisi yang asli dari gerakan mahasiswa pada Reformasi 1998, serta konsentrasi dalam belajar. (fa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image