Satu Hati Agar Tidak Syatta

Catatan Sinau Bareng “SatuHati, Waspodo!”, Malang 2 Juni 2017 (Bag. 3-Habis)

Sudah lama saya mendengar tagline Honda “SatuHati”, tapi saya tak benar-benar pernah menggagasnya. Paling jauh mikirnya itu pasti kata yang baiklah pokoknya, seperti umumnya kata-kata branding produk-produk perusahaan.

Sampai menjelang Sinau Bareng di Polinema waktu itu. Masih belum paham juga. Saya membayangkan Satu Hati adalah ada hati jumlahnya satu. Lha terus apa artinya? Duh, maafkan saya, Honda. Mungkin saya sedang banyak pikiran waktu itu.

Satu Hati, menyatu dengan Allah.
Satu Hati, menyatu dengan Allah. Foto: Adin

Untunglah ada Mbah Nun. Masih awal Sinau Bareng di Lapangan Kampus Polinema, dikatakan sama beliau, “Satu Hati itu nanti kita hitung. Satu hati antara siapa dengan siapa. Antara pemerintah dengan rakyat, antara konsumen dengan produsen, atau siapa dengan siapa lagi. Satu hati yang mutlak adalah menyadari sangkan paran hidup kita. Satu Hati yang mutlak itu adalah “menyatu” dengan Allah.”

Baru ngeh saya akhirnya. Satu hati adalah istilah buat menggambarkan bertemu dan nyambungnya banyak hati orang. Berbagai pihak yang di dalam hatinya sama-sama ikhlas dan rela. Sebuah ikatan yang mempertautkan hati orang-orang.

Mbah Nun memang memiliki linguistic intelligence yang ciamik. Tak jarang beliau baru mendapatkan sedikit bahan tematik sebuah acara beberapa saat sebelum dimulai, tetapi dengan sangat cepat beliau mampu menemukan arti, makna, relevansi, atau konteks tersendiri dari kata-kata kunci itu dan mampu membawakan pandangan atas istilah atau judul acara dengan mendalam dan seringkali solid.

Jadi, satu hati adalah kebersatuan hati di antara berbagai orang atau pihak. Very well noted. Tentang apa urgensi SatuHati, saya kira tak terlalu sulit membayangkannya. Membangun negara, masyarakat, atau lembaga kecil pun perlu dilandasi hati yang kompak. Suami-istri menjalankan bahtera rumah tangga juga diawali dengan kedua hati mereka yang berpaut menjadi satu.

Tiba-tiba saya teringat sebutir ayat Allah yang menggambarkan sikap dan jiwa orang-orang munafik pada surat al-Hasyr ayat 14. Mereka berkumpul, tetapi hati mereka tercerai berai. Tahsabuhum jami’an wa qulubum syatta. Demikian Allah melukiskan. Malam itu, sebagaimana Sinau Bareng selama ini, perjumpaan Mbah Nun dan KiaiKanjeng dengan para generasi milenial itu dapat dikatakan sebagai ikhtiar agar hati kita bersatu selalu, abadi dalam kesetiaan kepada Allah Swt.

Saya menghela napas sejenak di sela-sela mengerahkan perhatian kepada muatan-muatan yang disampaikan Mbah Nun. Tidak selalu mudah menjaga konsentrasi, apalagi malam itu di negeri Malang yang ekspresif, jamaah sangat banyak tumpah ruah. Mulut-mulut mereka siaga merespons apa-apa yang meluncur cerdas dan kerap jenaka dari bibir Mbah Nun. Saya duduk di pojok kiri panggung dan menikmati semua itu, seraya tetap berusaha mencatat dengan keterbatasan memori saya.

Selain yang sudah terhimpun dalam catatan Mari Belajar Kontekstualisasi Diri dan Bakunya Perlakuan Terhadap Orang Lain, saya merasakan mengalirnya tetesan-tetesan ilmu hidup dari Mbah Nun masuk ke dalam pori-pori jiwa para hadirin. “Pinter-pinterlah hidup. Pinter sekolah pun harus mengarah ke sana, ke pinter hidup,” begitu Mbah Nun berpesan.

Di antaranya, Mbah Nun lalu mengajak hadirin untuk memasuki logika memahami agama. Ibaratkan nilai-nilai atau ajaran agama adalah benih. “Tanahnya agama adalah kebudayaan atau luasnya wilayah kehidupan manusia. Agama tidak bisa kalau tidak ditandur atau ditanam. Agama adalah tuntunan agar tanah dapat ditanduri dengan sebaik-baik benih tanaman. Orang Islam itu pekerjaannya adalah menanam atau berkebun. Sementara orang Islam “anyaran” itu sukanya ngurusin pagar, bukan bertanam di dalam area tanah itu. Tugas kita adalah nandur benih pohon-pohon yang indah. Itu sekaligus latihan nandur di surga, di sebuah kebun agung bernama al-Jannah.”

Mbah Nun juga mengajak jamaah menguak cakrawala dinamika kedalaman spiritual. Diceritakan oleh beliau, Nabi Musa bertemu seorang buta. Hati Musa tak tega, lalu mendoakan orang buta itu. Tetapi di luar dugaan, si buta itu marah-marah, “Wahai Saudaraku, jangan ganggu kemesraanku ini dengan Allah. Kalau mataku bisa melihat macam-macam isi dunia, mungkin aku tak akan punya kesempatan untuk bermesraan dengan Allah.” Dari kisah ini, Mbah Nun berbagi cerita pengalaman beliau dan KiaiKanjeng naik ke Gunung Tursina naik onta dan jalan kaki saat lawatan ke Mesir pada 2003.

Asupan minuman yang lebih banyak dari biasanya saat berbuka puasa tampaknya membuat saya malam itu harus beberapa kali bolak-balik ke toilet. Turun panggung dan membelah banyaknya orang yang duduk di kiri panggung sampai ke pelataran gedung kampus tempat KiaiKanjeng transit. Sementara audiens di depan panggung tampaknya punya kemampuan khusus buat menunda sementara waktu untuk tidak bergerak ke toilet. Sebut saja ATP alias Ajian Tunda Pipis.

Sinau Bareng berjalan terus merambati waktu. Lagu-lagu telah dihadirkan KiaiKanjeng. Kini Mbah Nun membuka kesempatan bertanya. Seperti biasa, pertanyaan meluap tak terbendung. Ada sekurang tujuh penanya maju ke depan. Macam-macam yang ditanyakan, mulai dari nasib adik yang dipondokkan supaya mengerti agama tetapi kok malah memberontak dan liberal, dilema mahasiswa antara studi dan keinginan tak membebani ortu, bagaimana kalau JM kehilangan Simbah, bagaimana berdoa yang diijabahi Allah, sampai soal man ‘arofa nafsahu faqad ‘arofa robbahu. 

Untuk pertanyaan pertama itu, Mbah Nun mengajak penanya khususnya berpikir kembali. “Kamu pondokkan di mana adikmu,” tanya Mbah Nun untuk masuk ke jawaban. Sekarang ini, kata Mbah Nun, pondok pesantren itu bermacam-macam. Ada yang benar-benar perhatian terhadap perkembangan akal-pikiran santrinya. Tetapi juga ada yang tidak. Maka, jangan mengandalkan total sekolah dan pesantren. Yang utama tetap keluarga. Soal pemikiran liberal, itu biasa saja. Namanya juga anak muda. Yang penting jangan molimo. Selebihnya, perbanyak dongakke (mendoakan) dia. Bacakan surat al-Fatihah secara khusus. Jika perlu setiap anggota keluarga membacakan al-Fatihah, terutama orangtuanya. Proses-proses yang berlangsung pada adik itu insyaAllah akan dikalahkan oleh Al-Fatihah itu. Akan kalah oleh rejeki dan nasib dari Allah.

Mbah Nun terus satu per satu dengan penuh sabar dan sungguh-sungguh merespons pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak muda itu. Mbah Nun merasa mereka adalah anak-anak yang serius dengan hidupnya termasuk kegelisahan yang dialaminya dan ditanyakan kepada Mbah Nun. Tanpa terasa, waktu makin larut, dan selarut itu pula Mbah Nun menjadi orangtua bagi mereka malam itu. (Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image