Salam Satu Jiwa, Sinau Transformasi Bersama Arema

Catatan Arema Sinau Bareng, Malang 14 Agustus 2017

Arema, klub sepakbola yang lahir 11 Agustus 1987 ini mengundang Mbah Nun guna Sinau Bareng sebagai rangkaian acara peringatan ulang tahunnya yang ketiga puluh. Senin lalu, 14 Agustus 2017, para Aremania dan Aremanita duduk membaur bersama para jamaah Maiyah memadati lapangan Tumpang, Kabupaten Malang.

Semenjak habis maghrib, sudah ada yang duduk-duduk di depan panggung. Mereka anteng menunggu kedatangan Mbah Nun. Termasuk mereka yang sama sekali belum pernah mengikuti Maiyahan pun turut hadir pula di sana. Nenek itu, misalnya. Beliau memboyong anak dan cucu-cucunya yang masih balita untuk ikut Sinau Bareng di sana. Sang nenek rela berdiri sembari menggendong cucunya yang masih balita sampai Mbah Nun tiba di sana. Hingga akhirnya, nenek sekeluarga dipersilakan duduk di atas tikar bersama sekelompok pemuda asli  Malang yang belum dikenalnya.

KiaiKanjeng menyapa Aremania dengan Shalawat. Foto: Adin.
KiaiKanjeng menyapa Aremania dengan Shalawat. Foto: Adin.

Penantian jamaah akhirnya terbayarkan saat jarum jam mulai memasuki angka 20.30 WIB. Sesaat sebelumnya, para personel KiaiKanjeng naik ke atas panggung dan kemudian menyambut kedatangan Mbah Nun dengan mengajak jamaah bershalawat bersama.

Transformasi yang Alami

Mengawali Sinau Bareng, Mbah Nun mengajak jamaah menyanyikan mars Arema. Seseorang maju  ke atas panggung dan memandu jamaah menyenandungkan ‘lagu kebangsaan’ Arema tersebut. Diiringi musik Kiai Kanjeng, jamaah mulai menyanyi bersama.

Jika biasanya mars Arema selalu identik dengan lagu yang penuh semangat, iramanya cepat, tapi tidak dengan malam itu. “Jangan cepat-cepat,” begitu Mbah Nun berpesan. Semua harus ada iramanya. Seperti halnya transformasi, tema Sinau Bareng malam itu, bahwa ada step-step yang harus dilalui. Ini sebagai irama  proses yang alami. Dan nyatanya, mars Arema tersebut terdengar lebih asik dengan irama seperti itu. Pelan-pelan di awal, kemudian semakin cepat di belakang. Benar-benar syahdu. Semua larut dalam indahnya atmosfer paseduluran. Bahkan, Mbah Nun sendiri mengatakan belum pernah merasakan Maiyahan dengan suasana seakrab ini sebelumnya.

Berbicara masalah transformasi, Mbah Nun mencontohkan Arema yang telah berproses secara alami. Perkembangan Arema alamiah, tapi juga modern. Arema mampu bertahan untuk tetap membaur dengan masyarakat. “Satu-satunya yang masih kultural, masih nyambung dengan masyarakat. Seharusnya seluruh Indonesia seperti itu.”

Transformasi tak ubahnya kelapa. Bahwa untuk menjadi kelapa yang utuh, ada tahapan proses yang harus dilalui. Mulai dari cengkir, bluluk, degan, hingga akhirnya menjadi kelapa itu sendiri. Ini juga yang sering disinggung Mbah Nun. Ketika menjelaskan tentang Islam, Mbah Nun kerap menganalogikannya dengan kelapa. Bahwa Islam sejak Nabi Adam sampai dengan yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad, itu ibaratkan perkembangan bluluk sampai akhirnya menjadi suatu kelapa yang utuh. Ajaran Islam terus berkembang, dan disempurnakan oleh Islam yang diajarkan melalui Kanjeng Nabi Muhammad, sosok yang nur-nya diciptakan pertama, tapi beliau dijadikan khotamul anbiya’.

Mbah Nun juga mengajak jamaah untuk sejenak melihat spion, sejenak melihat rekam jejak bangsa kita. Indonesia dulu itu kerajaan. Ada Majapahit, Singosari, Mataram, tapi sekarang tiba-tiba menjadi Republik. Kita seperti kehilangan transformasinya. Kita telah menempuh sejarah adopsi.

Arema Sinau Bareng di Lapangan Tumpang. Foto: Adin.
Arema Sinau Bareng di Lapangan Tumpang. Foto: Adin.

“Lha kok wani-wanine Indonesia malah jadi republik.” Begitu guyonan Mbah Nun yang sangat mengena. Kita dulu adalah kerajaan, lalu entah karena kurang percaya diri atau apa, kita malah tiru-tiru bangsa lain yang jelas sangat berbeda dengan sejarah dan kultur masyarakat kita. Uniknya, sistem kerajaan itulah yang kini justru dianut oleh beberapa negara yang kita adopsi sistem dan budayanya.

Satu Jiwa, Tauhid

Mbah Nun memberikan simbolisasi kado, untuk belajar memahami hakikat sesuatu. Ada bungkusan-bungkusan yang menutupi kado itu sendiri. “Penting endi, kadone ta isine?” Mbah Nun menanyakan lebih penting mana antara kado dan isinya. Jelas, semua akan setuju bahwa isinyalah yang jauh lebih penting daripada bungkusan-bungkusannya itu.

Karenanya, kita harus belajar mencari di kedalaman, apa inti sesuatu itu. Termasuk dengan Arema ini. “Temukan inti Arema. Opo intine Arema iku, Rek?” Mbah Nun mencoba membawa jamaah yang hadir untuk mencari inti Arema. Terserah, bebas, apa saja silakan disebutkan. “Paseduluran…Nyletuk satu jawaban dari seorang jamaah. Kemudian jawaban ini diamini oleh para jamaah lain. Jamaah yang merupakan hasil ‘perkawinan’ antara para Aremania, Aremanita, dan juga jamaah Maiyah di Malang yang dingin itu.  Malam itu seolah ingin menampakkan wajah asli Malang. Malang yang benar-benar dingin. Tetapi, Persaudaraan itu berlangsung indah. Dan, persaudaraan tanpa ikatan darah inilah yang kemudian menghangatkan suasana malam itu.

Tidak sedikit jamaah yang maju ke atas panggung. Mereka ada yang menanyakan sesuatu, ada yang menceritakan kenangannya bersama sosok Mbah Nun, ada pula yang awalnya malu-malu lucu, sampai akhirnya berkolaborasi dengan Mas Doni menyanyikan sebuah lagu. Bahkan, ada yang meminta pertimbangan Mbah Nun atas permasalahan internal yang tengah dialami Arema. Dengan bijak, Mbah Nun pun mempersilakan manajer Arema yang lebih berhak untuk menjawabnya. Baru kemudian, kalau diperlukan, Mbah Nun akan menambahkan sedikit masukan atau pandangan.

Tidak ada masalah yang datang tanpa membawa solusi. Semua pasti ada titik terangnya. Karenanya, kita harus belajar menata hati dan menjerihkan pikiran kita, agar lebih tertata setiap tingkah polah kita. Agar kita bisa lebih mudah menemukan solusi atas setiap persoalan yang ada. Seperti disampaikan Mbah Nun, kalau kita benar cara berpikirnya, pas melihat permasalahannya, insyaAllah bisa lebih tepat pula penyelesaiannya.

Hari ini, hampir segala bidang mendadak berubah menjadi pasar. Semua diperjualbelikan. Termasuk sesuatu yang sangat sakral pun diperjualbelikan. Dan kita tidak bisa berharap kepada pemerintah untuk mendapatkan solusi atas permasalahan ini. Karena kita telah mengalami dismanagement nasional. Kita harus memulai perbaikan dari diri kita sendiri, dari lingkaran terkecil kita. Arema ini, misalnya. Kita membikin ‘negara’ Arema yang baik. “Untuk menjadi percontohan negara lain.”

Sebagai penetralisir, Mbah Nun mengajak jamaah untuk tetap belajar menikmati setiap apapun saja yang diberikan Tuhan kepada kita. Kalau ada ayat yang menyatakan bahwa dunia hanyalah tempat bermain dan senda gurua, itu bukan berarti kita harus terus guyonan saja. Menurut Mbah Nun, ayat ini hanya mengingatkan kita saja agar tidak terlalu tegang-tegang. Kita harus belajar menikmati apapun saja. Bukankah wajah-Nya yang sering diperlihatkan adalah wajah penuh kasih dan penyayang? Lantas, bagian mana yang tidak bisa kita nikmati dan syukuri dari-Nya?

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Meminjam bahasa Arema, kita juga harus belajar akan satu jiwa. “Satu jiwa itu tauhid,” tutur Mbah Nun. Jiwa kita menyatu dengan jiwa Tuhan. Untuk kemudian, perlahan belajar menyamakan pikiran kita dengan ‘pikiran’ Tuhan. Layaknya sepasang kekasih yang berawal dari rasa yang sama, kemudian sama-sama belajar menyamakan pikiran yang tak sama.

Malam itu Mbah Nun juga menyinggung tentang dunia media sosial, jiwa kesatria, dan perubahan kata serta makna yang seolah kehilangan bagian transformasinya. Jarum jam sudah jauh melewati pukul satu dini hari. Jamaah memanjatkan do’a untuk kebaikan bersama, khusunya untuk persatuan dan kesatuan Arema, untuk bersatunya jiwa Arema. Setelah bersalaman dengan Mbah Nun, jamaah pun mulai bergerak ke rumah masing-masing. Dan semoga, kita bisa benar-benar belajar satu jiwa. Jiwa kita menyatu dengan Yang Satu. Jiwa-jiwa kita juga saling menyatu, hingga tak ada kata putus untuk paseduluran kita yang tak mengenal waktu. (Hilwin Nisa’)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image