Rezeki Perjumpaan dengan Umbu dan Kyai Ghozali

M (sebutan untuk Emha) itu sudah betul. Memang jalan sunyi itulah. Dia selalu optimis. Anda bayangkan 22 provinsi lho. Tentang plot road generasi 80-an sudah betul, ya. Jadi biarlah kita ini, yang lain-lain, yang tuwek-tuwek, mbah-mbah, ayah-ayah, om-om, paman-pamannya itu kacau balau, ya sudahlah, biarlah ini yang nyelonong-nyelonong ini anak-anak muda, yang mendidik dirinya sendiri. Ketemu sendiri. Negara yang besar ini hanya bisa ditolong oleh orang yang jujur. Mereka yang setia. Kita yang tua-tua ini supaya kuliah sama pohon-pohon. Masak masih cengengesan itu lhooUmbu Landu Paranggi

10 November malam. Pukul 20.24 Wita, pesan itu tiba. Kyai Muzzammil menyapa, berkabar jika esok hingga lusa akan ke Bali. Saya langsung mengingatnya sebagai Kyai dari Madura yang pernah berkata, “Orang Madura itu takutnya cuma sama tentara”.

Kyai Muzammil bersama Umbu Landu Paranggi
Kyai Muzammil bersama Umbu Landu Paranggi

Melalui pesan singkatnya, sebelum acara Lokakarya ‘Aswaja Bela Negara‘ yang digagas oleh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dan Kementrian Pertahanan yang bertempat di Hotel Rhadana Kuta itu, Kyai Muzzammil ingin bersilaturahmi dengan Umbu Landu Paranggi.

Sabtu siang hingga jam 10-an malam adalah jam kerja Umbu di Harian Umum Bali Post. Jadi, jika hendak menjumpai Umbu di Bali Post, sebaiknya di atas jam 10 malam.

Kyai Muzzammil memang Madura tulen. Saya menanyakan sampai jam berapa acaranya, yang bersangkutan menjawab sampai jam 22.00 Wita. “Tapi kan bisa bolos”, tambahnya. Kali ini, saya mengingat folklore Madura yang kaya itu, dan tersenyum-senyum kemudian. Benar saja, lokakarya dimulai ba’da dzuhur, tak sampai satu jam telepon berdering. ”Jam empat sudah bisa jalan, Bak?”

Bertemu Umbu, 11 November 2017

Sore itu, kami menuju kediaman Syekh Ki Mas Ahmad Ghozali Al-Bali—Pendiri Yayasan sekaligus pengasuh Pesantren Al-Hikam Bali. Di samping rumah, Kyai Ghozali sedang ngudek luluhan, menata-nata batako, membuat kolam ikan. Serta merta kami diajak memasuki ruangan yang biasa digunakan para santri mengaji, sementara Kyai Ghozali pamit mandi.

“Yang namanya rezeki itu kita sama-sama nggak tahu. Kalau rejekinya sore ini kan nggak bisa nanti malam. Lha nanti inceng-incengnya nanti malam, malah dak dapet. Kan rezeki itu dak bisa diatur manusia, ya Kyai. Jadi kita itu harus percaya kepada Yang Maha Punya Rencana. Kan begitu, Kyai,” ujar Kyai Muzzammil yang diamini Kyai Ghozali mengawali perbincangan sore itu.

Beragam topik dibahas. Mulai seputar rejeki perjumpaan, “babat alas”, shalawat, kesetiaan, hingga klangenan pondok dan para sahabat. Ibarat keran ilmu yang tutupnya dibuka, air hikmahnya memancar ke mana-mana. Energinya terasa berlipat-lipat. Dua jam berlalu, selanjutnya kami menuju Masjid Al-Muhajirin Kampung Kepaon untuk sholat maghrib berjamaah, sebelum akhirnya Kyai Muzzammil kembali ke Hotel Rhadana melanjutkan agenda lokakarya.

Begadang sampai subuh.
Begadang sampai subuh.

Tak berselang lama, hujan turun. Deras. Saya kembali ke Denpasar. Pukul sepuluh malam lewat, Lokakarya hari pertama usai. Hujan semakin lebat. Dari Denpasar, saya menuju Hotel Radhana menjemput Kyai Muzzamil menuju kediaman Umbu Landu Paranggi di Denpasar Utara.

Lagi-lagi, rezeki memang tak bisa ditebak. Sampai di kediaman Umbu, sudah jam 12 lewat. Sisa-sisa hujan masih tertinggal. “Lho, saya sudah siap-siap mau pergi lhoo”, ujar Umbu beberapa saat setelah duduk di sofa coklat muda, tempat ia biasa duduk bersama orang-orang yang datang.

“Dosa terbesar kita adalah berkhianat kepada Ki Hadjar. Memfosilkan Ki Hadjar. Ya itu lah. Itu sudah tak bisa dimaafkan makanya kacau begini,” ujar Umbu memulai perbincangan. Berkali-kali ia menggumamkan tentang ‘Segara-Giri Segara-Gunung’. Simpul saraf budaya ruhani manusia Jawa, manusia Bali. ”Tetapi kita tidak punya sekolah gunung sekolah laut. Bagaimana?,” imbuhnya. Umbu juga mengingatkan untuk terus kembali ke diri. Manusia harus paham sangkan paraning dumadi. “Ke Diri. Ke Diri. Ke Diri”, seru Umbu seraya menunjuk dadanya.

Bermacam topik diulas dengan jernih oleh Umbu. Mulai dari carut-marutnya sistem pendidikan nasional—dengan memfosilkan Ki Hadjar Dewantara di mana semboyan Taman Siswa tinggal Tut Wuri Handayani saja, azas pendirian Fakultas Sastra Universitas Udayana sebagai kampus Pewahyu Rakyat, situasi sosial politik saat ini, peran generasi milenial yang akan menentukan nasib bangsa ini ke depan, kenangan terhadap Pak Harto di tahun 1973 ketika di Istana Negara dan perjumpaan dengan Pak Hugeng.

Umbu juga bertutur mengenai rekam jejak selama 39 tahun di Bali Post di Bali Post, sepakbola Indonesia yang gemilang di era 60-an karena peran warga keturuan Arab juga Cina. “Jadi saya yang lebih dulu lahir, tahu persis bagaimana hubungan keturunan Cina dengan Pribumi, Arab dengan Pribumi itu lho,” ujar Umbu lirih. Selain itu, ia juga mengkritik Habibie yang tidak membuat kapal Pinis versi Habibie. “Kenapa bukan kapal Pinisi model Habibie. Kenapa langit, kenapa bukan tanah bukan air?”

Umbu juga mengungkap keprihatinannya pada Alam Bali yang semakin rusak ketika dicitrakan satelit udara, juga rasa kehilangannya atas kepergian salah satu putra terbaik Bali, IBM Dharma Palguna.

Di akhir perbincangan jelang subuh itu, Umbu berkata, “M (sebutan untuk Emha) itu sudah betul. Memang jalan sunyi itulah. Dia selalu optimis. Anda bayangkan 22 provinsi lho. Tentang plot road generasi 80-an sudah betul, ya. Jadi biarlah kita ini, yang lain-lain, yang tuwek-tuwek, mbah-mbah, ayah-ayah, om-om, paman-pamannya itu kacau balau, ya sudahlah, biarlah ini yang nyelonong-nyelonong ini anak-anak muda, yang mendidik dirinya sendiri. Ketemu sendiri. Negara yang besar ini hanya bisa ditolong oleh orang yang jujur. Mereka yang setia. Kita yang tua-tua ini supaya kuliah sama pohon-pohon. Masak masih cengengesan itu lhoo”.

Pondok Taman, 12 November 2017

Ba’da Dzuhur, ketika peserta Lokakarya berwisata ke tempat-tempat wisata, Kyai Muzzammil kembali ke Pondok Taman, menjumpai Kyai Ghozali. Pada kesempatan ini, Kyai Muzzammil lebih detail berkisah mengenai perjalanan babat alas-nya di Parang Tritis sejak 19 tahun yang lalu. Aktivitas shalawat di pantai sebagai ujud aksi peduli lingkungan dengan membuat seluruh makhluk yang ada bahagia mendengarkan shalawat.

Silaturahmi dengan Kyai Ghozali
Silaturahmi dengan Kyai Ghozali

“Shalawat adalah jalan ketersambungan dengan Kanjeng Nabi dan dibukannya pintu-pintu ilmu,” ujar Kyai Ghozali. “Yang tidak bershalawat akan rugi. Di akhir zaman kelak, iblis pun akan bershalawat,” Kyai Muzzammil menimpali.

Perbincangan yang hangat itu berlangsung sekira 1,5 jam dan ditutup dengan pesan Kyai Ghozali mengenai kesetiaan, istiqamah, sabar, ikhlas. “Tidak mudah memang. Ibarat pisau. Ia akan tajam jika sering diasah. Demikian juga dengan iman kita. Akan semakin kuat dengan dianugerahkannya ujian. Wiridnya ya tahlil, tahmid, shalawat. Jangan pernah khawatir, ilmu itu akan menemu jalannya sendiri ketika kita sungguh-sungguh, totalitas mempersembahkan semuanya hanya demi ridla Allah dan syafaat Kanjeng Nabi”, ujar Kyai Ghozali.

Saya meyakini, perjumpaan antara Kyai Muzzammil, Kyai Ghozali, Umbu Landu Paranggi memang telah direncanakan Yang Maha Pembuat Rencana. Sebuah peristiwa nun jauh sebelum hari ini ditentukan dalam realitas kekinian—di dimensi peradaban milenial, telah purna dicatat. Perjumpaan mereka mengekal serupa cangkang cahaya: bertalian, berpendaran, menggetarkan. (Nink Palupi)

M (sebutan untuk Emha) itu sudah betul. Memang jalan sunyi itulah. Dia selalu optimis. Anda bayangkan 22 provinsi lho. Tentang plot road generasi 80-an sudah betul, ya. Jadi biarlah kita ini, yang lain-lain, yang tuwek-tuwek, mbah-mbah, ayah-ayah, om-om, paman-pamannya itu kacau balau, ya sudahlah…